Tuhan Ijinkanlah Aku Menilik Buku Inilah Resensi

Sebuah resensi buku dari buku “Inilah Resensi, Tangkas Menilik dan Mengupas Buku” karya Muhidin M. Dahlan, oleh Andy Riyan.

Judul Inilah Resensi, Tangkas Menilik dan Mengupas Buku

Penulis Muhidin M. Dahlan

Penerbit I:BOEKOE

Tahun terbit 2020

Tebal 256 halaman

Ukuran 13,5 x 20

Para penggemar buku fiksi berbahasa Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan novel berjudul “Tuhan Ijinkanlah Aku Jadi Pelacur” yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan. Sedangkan buku “Inilah Resensi” merupakan buku nonfiksi terbarunya yang terbit pada Februari 2020. Penulis, yang oleh teman-temannya kerap disapa dengan Gusmuh, pada tahun 2016 juga telah menerbitkan buku nonfiksi lain berjudul “Inilah Esai”. Gusmuh atau Muhidin M. Dahlan juga telah menulis ratusan resensi di banyak koran dan majalah nasional penting, antara lain Tempo, Koran Tempo, Kompas, Republika, Media Indonesia dan Jawa Pos. Dengan demikian, setelah malang melintang di berbagai media massa, kenyang dengan asam dan garam dunia resensi buku, tidak diragukan lagi jika Gusmuh merupakan seorang yogi resensi buku. Dan bagi para pembaca yang sedang ingin belajar tentang seluk beluk dunia resensi buku, memilih buku “Inilah Resensi” yang mutunya terjamin adalah pilihan yang tepat.

Buku ini, sebagaimana disinggung oleh penulisnya dalam pendahuluan, merupakan serangkaian laku penulis dalam menapaki jalan meresensi buku selama dua dekade lebih dan draft awal dari buku ini telah dijadikan kurikulum Kelas Resensi di Yayasan Indonesia Buku yang didirikannya. Buku ini, masih menurut penulisnya, bukan sekedar panduan bagaimana struktur sebuah resensi dibangun, melainkan juga pengenalan secara mendalam dunia resensi dengan melakukan lawatan sejarah yang jauh.

Melalui lawatan-lawatan sejarah itu, pada bagian I, pembaca diajak menelusuri tokoh-tokoh terkemuka yang telah menjadikan kegiatan membaca tidak hanya sekadar mengisi waktu luang dan menyerap informasi, melainkan mereka juga membaca untuk memasuki ranah kerja intelektual. Kegiatan membaca yang intim seperti yang dilakukan tokoh-tokoh terkemuka itulah yang disebut sebagai resensi buku.

Tokoh-tokoh besar yang diambil Gusmuh dalam lawatan sejarah tersebut antara lain Ir. Soekarno, yang telah menjadikan kegiatan meresensi buku, atau “menilik” dalam istilah Soekarno, sebagai cara untuk membedah tema-tema yang sedang dibicarakan oleh dunia internasional. Melalui tilikan kepada buku-buku dengan tema-tema yang menarik baginya pula Sukarno belajar berpidato dari Hitler. Lain lagi dengan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir, kegiatan membaca dan saling meresensi hasil karya satu sama lain ini membuat persahabatan mereka terjalin semakin kuat karena dapat menemukan irisan ide yang sejalan untuk membangun Indonesia. Sedangkan bagi Poerbatjaraka resensi buku yaitu untuk menggali masa lalu ke dalam sejarah Jawa yang lebih tua melalui manuskrip-manuskrip berbahasa Sansekerta. Selain kepada mereka, Gusmuh juga mengajak untuk bertamu kepada yogi-yogi lain yang tak kalah menarik; Polycarpus Swantoro, Sumitro Djojohadikusumo dan H.B. Jassin.

Pada bab kedua, Muhidin M. Dahlan menyajikan resensi-resensi fenomenal yang pernah mewarnai sejarah Indonesia sedemikian rupa sehingga media massa saat itu menjadi begitu gaduh. Antara lain perang resensi antara Mas Marco Kartodikromo dengan Tjan Kiem Bie, resensi atas karya-karya Hamka yang kontroversial dan dituduh plagiat di tahun 60-an, hingga resensi atas “Detik-detik Yang Menentukan”—cerita-cerita yang ditulis Habiebie tentang jenderal-jenderal tempur ’98.

Pada bab ketiga dan bab terkahir buku ini, Gusmuh menjelaskan anatomi resensi buku dan memberikan panduan teknis untuk menulis resensi yang baik, benar dan lengkap. Anatomi buku tersebut meliputi:

  1. Kolofon; Bagian yang digunakan untuk menulis identitas buku meliputi judul, penulis, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.
  2. Tips menjerat dengan judul. Poin nomor dua ini disajikan tips-tips untuk menjerat pembaca dengan judul yang menarik menggunakan contoh-contoh yang banyak sekali caranya. 
  3. Menaklukkan Paragraf Pertama; pada poin ini paragraf pertama dibahas panjang lebar dan tuntas karena sangat penting. Pada poin ini pula disajikan contoh, tips dan trik bagaimana menjerat paragraf pertama yang berjumlah total ada 15 cara. Yaitu menjerat dengan 1) informasi terbitan; 2) tema dan metode; 3) garis besar; 4) penulis buku; 5) gaya penulisan; 6) deskripsi; 7) kisah yang paling menarik; 8) urgensi buku; 9) fisik buku 10) pertanyaan; 11) kritik; 12) keunggulan buku; 13) kutipan; 14; perbandingan 15) mengutip puisi.

    Berikut ini adalah contoh yang digunakan untuk menaklukkan paragraf pertama dengan menggunakan informasi terbitan.

    Bibi Marsiti adalah buku pertama roman trilogi Motinggo Boesje, diterbitkan pertama kali oleh Aryaguna Jakarta tahun 1963, sedang cetakan kedua diselenggarakan oleh U.P. Lokadjaja tahun 1968. Buku kedua dan ketiga berjudul Jatum dan Njonja Marjono, keduanya terbit pada Lokadjaja, juga tahun 1968… dst. H.B. Jassin. “Bibi Marsiti: Sebuah Roman Trilogi Motinggo Boesje”. Resensi buku Bibi Marsiti karya Motinggo Boesje, Aryaguna 1968. Horison, No. 6, Juni 1968
  4. Narasi-narasi di Tubuh Resensi. Poin ini menjelaskan mengenai apa saja yang harus ada sebagai kelengkapan dari sebuah resensi buku karena resensi bukan hanya soal judul yang menarik dan paragraf pertama yang kuat, melainkan juga isi yang lengkap dan informatif.
  5. Mengunci Paragraf Terakhir. Paragraf terakhir bisa dikunci dengan banyak cara dan di poin inilah cara-cara tersebut dicontohkan dengan baik agar para pembaca dapat memberikan sentuhan yang sempurna pada resensi yang sedang ditulisnya.

Dibandingkan dengan buku “Menulis Resensi” yang ditulis oleh Drs Haryanto, buku “Inilah Resensi” jauh lebih kompleks dan boleh dibilang lebih rumit. Hal itu disebabkan oleh dua hal.

Pertama, buku “Menulis Resensi” sangat tipis, tebalnya hanya 34 halaman saja sedangkan “Inilah Resensi” 256 halaman. Kedua, “Menulis Resensi” disampaikan secara ringkas saja, hanya hal-hal yang paling pokok dan contoh praktis menulis resensi disertai contoh singkat dan sebuah contoh lengkap. Sedangkan “Inilah Resensi” penulis menyampaikan banyak hal termasuk sekelumit sejarah seputar resensi yang pernah mewarnai perjalanan media-media di Indonesia dan contoh-contoh resensi yang disajikan begitu banyak dan terpotong-potong sesuai kebutuhan isi yang sedang dibicarakan.

Buku ini cocok bagi semua kalangan termasuk untuk pemula. Meskipun, bagi pemula, yang sedang belajar menulis resensi, buku “Menulis Resensi” yang ditulis oleh Drs. Haryanto lebih cocok, tetapi tidak ada salahnya belajar juga dari buku ini karena bahasa yang digunakan sangat mudah dicerna dan tidak bertele-tele. Buku ini juga sangat direkomendasikan untuk perensensi sudah mahir, sebab sajian yang ada begitu lengkap sehingga dengan membaca buku ini para peresensi niscaya akan menemukan cara baru untuk membuat variasi pada resensinya.

jejakandi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Meme, Bukan Sekedar Cuplikan Film yang Dimodifikasi dengan Kata-kata Lucu!

Fri Sep 3 , 2021
Sepertinya, aku, nggak butuh-butuh amat dengan medsos dan informasi yang bertebaran di internet. Tetapi kenapa aku merasa seolah-olah dipaksa untuk butuh itu semua? Aku pernah menutup/meninggalkan instagram dan facebook juga mengurangi penggunaan Whatsapp beberapa waktu yang lalu. Tidak ada yang berubah. Aku tidak menjadi lebih bodoh, tidak pula menjadi lebih […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: