Tentang 2020, Buku dan Aku

5

Sebelum menuliskan tulisan yang sekarang hadir di hadapan kamu ini—dengan judul yang sama— aku, bukannya menulis sesuatu yang gembira dan menyenangkan sebagaimana yang kuharapkan, malahan menulis jurnal yang isinya seperti orang depresi. Bajirut tenan kok.

Memang menulis, kalau terus menerus mengikuti suasana hati, bergantung pada pola yang muncul… kadang bikin malu diri sendiri saja. Tetapi kalau enggak ngikuti, hasil tulisannya rasanya kek jalan di jalanan aspal yang budget-nya nanggung, gronjal-gronjal. Aduh sialan!!!

Membicarakan 2020, Buku dan Aku baiknya kubatasi saja sebatas buku-buku yang kubaca sepanjang tahun 2020. Kapan-kapan kalau momenya sudah pas, tulisan itu—yang kek orang depresi—bisa naik di blog. Tentang 2020-nya cuma untuk menandai rentang waktu dari 1 Januri sampai ketika tulisan ini ditulis—6 Desember 2020.

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku tidak menargetkan seberapa banyak buku yang harus kubaca dan karena itu pula aku tidak tahu berapa jumlah buku yang telah kubaca sepanjang tahun 2020. Orang lain mungkin mengalami peningkatan jumlah buku yang dibaca—karena pandemi dan di rumah aja memberi kesempatan lebih banyak untuk membacanya—sedangkan aku, aku rasa, tidak. Kayaknya berada di kisaran lebih dari 30 dan di bawah 60.

Sepanjang tahun 2020, dominasi buku nonfiksi atas fiksi masih bertahan. Ada sedikit peningkatan pada buku-buku fiksi yang kubaca, memang, terutama buku terbitan lama atau buku terbitan baru yang mengalami cetak ulang. Tahun 2020 juga menjadi tahun yang spesial, aku tidak membaca buku-buku yang sedang naik daun dan sedang laris. Tidak juga membaca karena tertarik dengan promosi dan rekomendasi dari kawan-kawan yang berseliweran di timeline media sosial. Melainkan buku yang, dulu sekali, pernah naik daun dan mungkin mulai terlupakan.

Buku-buku Terbaik

Menentukan buku terbaik sungguh sangat sulit. Karena tidak ada indikator yang jelas, mengapa satu buku lebih baik dibandingkan buku yang lain. Terkadang, antara buku yang satu dan buku yang lainnya terdapat bebrapa keistimewaan yang membuat sebuah buku saling memiliki nilai lebih dibandingkan buku lainnya.

Seperti betapa sulitnya memilih kamu atau dia Seratus Tahun Kesunyian atau The Greatest Short Story of Leo Tolstoy.

Jadi berikut ini lah kategori-kategori buku yang kubaca sepanjang tahun 2020.

Kumpulan Cerita Pendek Terbaik

Dua puluh tiga cerpen yang terkumpul dalam The Greatest Short Story of Leo Tolstoy, adalah yang terbaik, ia begitu sederhana dan membumi. Sebagaimana dongeng-dongeng yang pada akhirnya mesti membuka kotak pandora. Sentuhan-sentuhan belas kasih dan gejolak kemanusiaan begitu melekat pada setiap cerita. Aku selalu terkesan sehabis membacanya, rasanya, pikiranku pun menjadi lebih terbuka, dan Leo Tolstoy seakan-akan hadir untuk memperhalus perasaanku melalui kisah-kisah itu. Aku ingin menempatkan kumpulan cerpen Leo Tolstoy ini ke dalam sebuah koleksi masterpiece, yang suatu hari nanti, ketika aku harus mendongengkan kisah sebelum tidur aku akan mengambil cerita-cerita darinya. Sayangnya, aku tidak mendapatkan cetakannya dalam hardcopy-nya. Buku ini hanya tersedia di Amazon, dan aku hanya bisa membeli ebooknya di Google Playbook.

Novel Terbaik

Momen-momen magis dalam Seratus Tahun Kesunyian sungguh tidak mudah untuk terlupakan. Ia membekas begitu dalam. Tragedi-tragedi yang mengikuti setiap katakternya begitu halus. Tema-temanya yang sangat kuat seperti sangat menyatu dengan garis waktu sepanjang kutukan yang diderita oleh keluarga Buendia.

Seratus Tahun Kesunyian yang ditulis oleh Gabriel Garcia Marquez, buku yang di dalam Bahasa Inggris memiliki judul One Hundred Years of Solitude ini kupilih menjadi novel terbaik yang kubaca tahun ini. Aku membacanya di bulan Januari. Sungguh kesan yang begitu bagus, hingga bulan Desember pun, aku masih saja menempatkan novel ini sebagai pembanding buku-buku lain. Saking bagusnya novel ini, di bulan Desember ini aku mulai nyicil untuk membaca ulang dan mulai membuat catatan-catatan yang menurutku penting dan menarik—terkadang untuk memudahkan mengingat aku membuat catatan panggilnya di Twitter.

Satu-satunya novel yang lebih bagus dari Seratus Tahun Kesunyian yang kubaca tahun ini adalah The Stranger-nya Albert Camus. Bahkan Kafka on The Shore dan Sputnik Sweetheart-nya Haruki Murakami, bagiku, meskipun memiliki momen magis dan manis, masih belum bisa menandingi kehebatan Seratus Tahun Kesunyian.

Novel terbaik lain yang mesti kupilih tentu saja The Stranger. Ia memiliki dimensi yang nyaris sempurna sebagai sebuah karya seni—berkarya dalam bahaya dan tetap menyampaikan aspek kejujuran yang dituntut oleh sebuah seni. Kurasa semua orang bisa lebih relate dengan novel—yang tokoh utamanya bernama Mersault yang harus menghadapi tiang gantungan—ini dibandingkan dengan Seratus Tahun Kesunyian yang sangat kompleks. Berdasarkan definisi karya seni menurut Leo Tolstoy— dalam What is Art? bahwa seni sejati adalah seni yang universal—maka The Stranger adalah karya seni sejati.

Entahlah—setelah membaca Seratus Tahun Kesunyian dan The Stranger yang keduanya mengantarkan penulisnya meraih Nobel Sastra—aku hampir pasti kalau Haruki Murakami bahkan tak akan pernah memenangi nobel sastra.

Seratus Tahun Kesunyian atau The Stranger? Dua-duanya sangat bagus, aku hanya bingung memilih satu di antara keduanya karena membacanya di tahun yang sama.

Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak yang akan mengeksekusinya, Kolonel Aureliano Buendia jadi teringat dengan suatu sore, dulu sekali, ketika diajak ayahnya melihat es.

Riuh rendah pipa dan drum panci yang berisik mengiringi kedatangan rombongan Gipsi ke Macondo, desa yang baru didirikan, tempat Jose Arcadio Buendia dan istrinya yang keras kepala, Ursula, memulai hidup baru mereka. Ketika Melquiades yang misterius menemukan Aureliano Buendia dan Ayahnya dengan penemuan-penemuan baru dan kisah-kisah petualangan, mereka tak tahu menahu arti penting manuskrip yang diberikan lelaki Gipsi tua itu pada mereka.

Kenangan tentang manuskrip itu tersisihkan oleh wabah insomnia, perang saudara, pembalasan dendam, dan hal-hal lain yang menimpa keluarga Buendia turun-temurun. Hanya segelintir yang ingat tentang manuskrip itu, dan hanya satu orang yang akan menemukan pesan tersembunyi di dalamnya… —Seratus Tahun Kesunyian

 

The Stranger adalah karya kontemporer penting yang lahir. Sebuah buku yang ditulis dengan sangat baik dan mempunyai kelas tersendiri. Gaya bercerita yang memikat, menyenangkan, dan mengesankan.

Tidak hanya di permukaan. Novel ini sesungguhnya sangat dalam dan penuh makna. Novel ini membiarkan emosi Anda ‘menunggu di luar’, sedangkan pikiran Anda akan diajak berpikir dan menemukan benang merah di dalamnya.

Ini adalah novel filsafat sejati. Seperti sungai yang tenang di permukaan. Tetapi deras gelombang di kedalaman. Seperti menonton sebuah film pendek hitam putih berdurasi 15 menit dengan dialog minimal, tetapi setelah itu Anda tidak bisa tidur semalaman memikirkannya.

Buku ini menarik untuk dibaca, dan direnungkan sebagai bagian dari refleksi kehidupan—The Stranger.

Nonfiksi Terbaik

Biasanya dalam daftar ini ada karya dari Pak Quraish Shihab dan Cak Nun, tetapi 2020 memang aneh, tidak ada buku karya beliau-beliau yang kubeli tahun ini. Aku hanya sekadar membaca ulang buku-buku beliau-beliau, tidak ada buku baru yang kubaca. Aku curiga sedang ada konspirasi alam semesta ahaha.

Kalau tidak ada buku Krisis Kebebasan yang ditulis oleh Albert Camus, diterjemahkan oleh Edhi Martono dan diberi pengantar oleh Goenawan Mohamad, tentu aku kan sangat kesulitan memilih nonfiksi terbaik yang kubaca tahun ini. Krisis Kebebasan merupakan kumpulan esai filsafat yang mendobrak doktrin-doktrin yang membelenggu kebebasan terutama di Prancis pada tahun-tahun buku ini diterbitkan. Buku ini menjadi relevan dengan kita di masa sekarang karena iklim politik dan kekuasaan di Indonesia yang sedang berkembang dengan model konflik yang hampir serupa.

Aku cukup beruntung sebab esai-esai dalam buku ini menjadi lebih mudah dipahami karena ada buku pendamping lain yang juga kumiliki; Mitos Sisifus, The Stranger dan Rebellion. Sebuah pengalaman membaca yang sangat membuatku puas, karena bisa membaca buku yang saling mendukung dan saling memberi informasi antara satu sama lain. Dan baru kali ini aku membaca buku serasa sedang kuliah dengan seseorang.

Kebebasan Bagi Albert Camus bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Dengan ini Albert Camus ingin menegaskan bahwa dalam rezim apa pun, apalagi yang paling totaliter dan represif, kita jangan bermimpi akan memperoleh kebebasan secara cuma-cuma. Kebebasan tersebut harus diperjuangkan. Sayangnya lebih sering penguasa menindas kebebasan tersebut, sehingga cedekiawan, seniman, dan pers yang diandaikan adalah kelompok paling depan dalam meperjuangkan kebebasan pun akan menjadi bungkam. Inilah yang menimbulkan krisis kebebasan.

Buku ini berisi kumpulan karangan Albert Camus yang bertemakan kebebasan dan krisis yang melanda manusia dalam memperjuangkan kebebasannya. Karangan-karangan di dalam buku ini merupakan renungan yang sangat mendalam akan krisis kebebasan yang melanda zaman kita ini. Lewat karangan-karangan ini kita digugah untuk memperjuangkan kebebasan tersebut, kalau kita tidak ingin krisis melanda kita. Sebuah buku yang sangat patut dibaca oleh para cendekiawan, seniman, wartawan, politisi, pendeknya semua pembaca yang berhak atas kebebasan.—Krisis Kebebasan

Biografi Terbaik

Biografi adalah salah satu genre buku—yang secara tidak sadar sejak kapan—telah menjadi salah satu genre paling favorit. Ternyata aku begitu suka membaca pengalaman orang lain; orang-orang yang sukses, membaktikan diri pada kehidupan sosial, keagamaan, ilmu pengetahuan dan nasionalisme suatu bangsa. Pengalaman hidup orang-orang yang menjalani hidup dengan segenap filosofi kehidupan, prinsip dan keteguhan hati seringkali menginspirasi dan begitu menarik. Selalu ada pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari pengalaman orang lain.

Dan baru tahun ini aku berkesempatan membaca biografi yang berjudul Kisah Hidupku—setelah aku begitu menginginkannya untuk membaca bertahun-tahun yang lalu. Kisah Hidupku adalah sebuah biografi tentang sosok Andy F. Noya, yang sekarang kita kenal sebagi presenter dari sebuah acara talkshow “Kick Andy”. Membaca biografi itu bagaikan membaca Musashi dan Taiko—nya Eiji Yoshikawa, terbawa kisahnya. Hanyut dalam tuturan kisah dari awal hingga sekarang.

“Tidak perlu menunggu untuk bisa menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingmu. Lakukan kebaikan, sekecil apa pun, sekarang juga.”

Andy F. Noya

“Andy, menurut saya, memiliki talenta besar, ditopang raut mukanya yang membuat orang segera merasa akrab. Apakah keberpihakannya merupakan refleksi dari kisah hidupnya, dari serba kekurangan dan pahit, menjadi serba sukses dan membuat iri banyak orang? Menurut saya keberpihakan Andy Noya dan timnya lebih ditempa oleh jati diri profesional wartawan: cenderung membela yang underdogs, berkekurangan, dan terpinggirkan. —Jakob Oetama

Buku Paling Sulit Dipahami

Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya. Salah satu elemen yang paling kusuka dari suatu buku adalah elemen indeks. Ketika membaca halaman indeks buku karya Karl R. Popper ini aku sangat antusias karena menemukan banyak istilah dan nama-nama keren, selain itu ada banyak kejadian dan peristiwa penting yang juga dicatat dalam buku ini.

Gairahku untuk membaca buku ini menjadi semakin menjadi-jadi, karena dalam indeks beberapa bab pembahasan ada yang sudah pernah di singgung dalam Sejarah Filsafat-nya Bertrand Russell.

Buku ini menjadi sangat sulit dipahami, karena aku tidak memiliki prakondisi yang cukup, yakni pengetahuan-pengetahuan dasar ilmu dan sejarah filsafat, aku tidak memiliki pengetahuan akan istilah-istilah rumit yang sering disebut-sebut dalam buku ini.

Aku rasa buku ini ditulis untuk kalangan tertentu, kalangan akademisi dan doktor. Bukan pembaca umum dan awam seperti diriku. Buku ini cocok banget dibaca dan sebagai pegangan referensi para mahasiswa yang mengambil jurusan filsafat.

Yang membuat buku ini semakin sulit dipahami, beberapa penjelasan tambahan yang mestinya atau biasanya ditulis dengan footnote malah ditulis dengan endnote, di halaman belakang tersendiri, tanpa petunjuk di halaman berapa endnote ini ditulis—pusing sekali membolak balik halaman buku setebal 943 halaman ini.

Meskipun sulit dipahami, buku ini sungguh sangat menarik. Ia mencoba menjelaskan kegagalan dan kebangkrutan Marxisme. Bukan hanya Karl Marx yang dikritik habis-habisan, melainkan Plato dan juga Aristoteles.

Karl R. Popper (1902 − 1994), lahir di Wina, Austria, adalah filsuf yang berpengaruh besar di bidang sains dan politik. Sedemikian besar pengaruhnya, sehingga Sir Peter Medewar, peraih Nobel bidang kedokteran, mengatakan; “Popper tak ada duanya sebagai filsuf ilmu terbesar yang pernah ada…” J. Manod dan Sir John Eccles, juga peraih Nobel, mengakui: “kediupan ilmiahku banyak dipengaruhi oleh pertobatanku dalam tahun 1945 kepada ajaran Popper mengenai cara mengadakan penelitian ilmiah.” Popper juga berpengaruh pada matematika dan astronomi teoritis, sebagaimana terlihat dalam ungkapan Sir Herman Bandi: “Tak ada yang lebih penting bagi ilmu daripada metodenya, dan bagi metode ilmu tak ada yang lebih penting daripada apa yang dikatakan Popper.”

Buku Masyarakat Terbuja dan Musuh-musuhnya ini merupakan pemikiran filsafat politik Popper. Setelah menjatuhkan teori-teori para filsuf raksasa seperti Heraclitus, Plato, Aristoteles, Hegel dan Karl Marx, Popper menghadirkan wacana baru di bidang ini. Berangkat dari nilai normatif bahwa “manusia bisa salah”, Popper merumuskan sebuah bentuk masyarakat yang cocok bagi minimalisasi penderitaan manusia dan maksimalisasi kebebasan individu, yakni masyarakat terbuka.

Kategori Lain (Bonus)

Serial Winnetou karya Karl May, buku yang selalu dapat menghiburku dalam keadaan apa pun, bahkan ketika aku dalam keadaan sedang sangat malas membaca. Dalam keadaan pikiran yang kacau dan galau pun, di mana saat-saat seperti itu adalah saat yang paling berat karena tak ada yang bisa masuk, Petualangan koboi si Tanduk Hijau Carly yang di barat—di padang prairi—dijuluki sebagai Old Shatterhand, Winnetou raja Indian dari suku Apache, Old Death yang paling ditakuti di barat dan Sam Hawkins yang cerdas sungguh sangat menghiburku.

Saya Andy Riyan dari Desa Hujan, sampai jumpa.

jejakandi

5 thoughts on “Tentang 2020, Buku dan Aku

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Bagaimana Aku Menulis dengan 5W+1H

Thu Dec 10 , 2020
Daripada “Mengapa kamu menulis?” aku lebih suka pertanyaan lain. Pertanyaan itu sudah terlalu mainstream. Tentu saja, ada sekian banyak alasan yang menarik bagi seseorang untuk menulis, dan untuk aku, writing prompt untuk menuliskan alasan-alasan itu… juga sudah terlalu biasa. Ada 6 enam kata dasar yang dapat digunakan untuk bertanya, dari […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: