Jurnal Pagi: Tangan-Tangan Para Dermawan

Olahraga lari pagi yang kulakukan tadi berjalan dengan baik. Aku membuat peningkatan dari hari kemarin. Pagi tadi aku berlari sejauh sekitar 4 kilometer bolak-balik. Gunung Alap-alap masih setengah jalan lagi, tetapi aku memutuskan untuk tidak terburu-buru mencapainya, ada dua tanjakan yang sangat panjang. “Lain kali lagi saja,” pikirku. Jadi selama ini, mungkin aku salah, ketika mengira Gunung Alap-alap hanya sejauh 3 kilometer dari Desa Hujan. Mungkin aku memerlukan alat pengukur jarak, semacam aplikasi, dan kembali lagi besok untuk memastikan seberapa jauh aku telah berlari. Tetapi jogging dengan membawa smartphone tidak bagus ya, duh.

Sesampainya di rumah, setelah melakukan latihan pernafasan selama dua menit, aku langsung bermain bola di halaman. Ternyata aku cukup bugar, atau bisa di bilang kebugaranku sangat baik. Yah mungkin karena aku bukan perokok, hampir selalu mengonsumsi makanan sehat, bahkan aku lupa kapan terkahir kali makan di luar rumah. Mungkin pola hidup yang seperti itu membuatku masih cukup bugar walaupun sudah lama sekali tidak latihan dan olahraga. Alhamdulillah, puji syukur kuhaturkan kepada Tuhan pemelihara seluruh alam.

Selesai olahraga aku langsung melaksanakan ritual pagi, membaca koran dan buku. Apa yang kutemukan membuatku tersenyum. Di tengah-tengah keruwetan, hingar bingar berita yang terlampau fokus pada topik corona dan PSBB—yang sangat membosankan, rasanya seperti mie instan kelewat lama direbus—kutemukan sebuah cerita yang bernuansa penuh kegembiraan. Di suatu tempat di provinsi Jambi, di tengah krisis harga karet yang turun, seorang donatur asal Swedia mengucurkan dana sekitar 1 miliar rupiah. Sejumlah uang itu kemudian dimanfaatkan oleh warga masyarakat penerima donatur untuk membeli bahan pokok dan dibagikan kepada 1.259 keluarga.

Pandemi coronavirus memberikan dampak secara langsung pada harga getah karet dan menyulitkan petani untuk memperoleh penghasilan. Namun hutan lindung, yang selalu di rawat oleh masyarakat setempat, di provinsi Jambi itu telah menjadi hutan Zero Carbon, sehingga dicintai publik dunia. Seorang donatur yang peduli dengan pelestarian hutan pun tergerak untuk menyedekahkan sedikit hartanya untuk membantu masyarakat yang telah merawatnya. Cerita sederhana itu merupakan suatu hal yang sangat mengembirakan bagiku, bahwa aku yakin masih banyak orang yang peduli dengan alam sekitar kita, bahwa masih banyak orang baik yang mencintai sesamanya. Pun masih ada miliarder yang rela menyumbangkan miliran uang untuk membantu masyarakat yang tengah dilanda krisis itu. Seperti sebuah pesan; “Berbuatlah baik, niscaya Allah yang akan membalasnya lewat tangan-tangan para dermawan.”


Jurnal Pagi adalah tulisan super ringan yang bisa aku kerjakan. Dan tidak ada alasan khusus mengapa jurnal pagi ini dikerjakan, hanya sekedar mengekspresikan diri dengan tulisan-tulisan yang sederhana. Tidak diperlukan pemikiran yang mendalam dalam menuangkan dan membaca berbagai macam ekspresi ini. Aku pun tidak tahu akan dibawa kemana jurnal pagi ini. Biarkan saja ia menjadi sekelumit kisah sederhana.

5 thoughts on “Jurnal Pagi: Tangan-Tangan Para Dermawan

  1. Seperti tujuannya, tulisan jurnal pagi ini sederhana dan menyenangkan hati yang membaca. Pada awal tulisan, penulis memaparkan mengenai kegiatan harian yang bisa saya katakan sangat menerapkan minfulness, lalu diselipkan dengan kisah mengenai bahagia yang sederhana.
    Pagi hari yang seperti meditasi ini sungguh sangat menarik, Mas Andi.

      1. Ah menyederhanakan kehidupan, sungguh kata yang branded banget, boleh aku adopsi yang kata-kata itu. Meyederhanakan Hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: