Surat Kepada Seorang Teman dari Indonesia

Engkau tanyakan padaku, “Apakah sudah baca?” ketika kami meyuarakan penolakan kami pada suatu hal—sebut saja peraturan yang mengikat bagaimana kami harus berfantasi—yang ditetapkan dengan semena-mena kepada kami hanya dalam semalam, secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi. Aku tersentak dengan pertanyaanmu itu. Bagaimana mungkin aku sanggup membaca 1000-an halaman cerita fiktif itu dalam semalam. Lalu engkau sodorkan padaku tampang-tampang orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, yang cuma ikut-ikutan menghambur keluar dengan berteriak-teriak seperti orang gila memuja Romeo dan Juliet. Seketika aku jadi ikutan ‘bego banget’ seperti mereka karena pertanyaan “apakah sudah baca” mu itu.

Terus terang saja, Kawan, aku belum membacanya. Dan untuk pertanyaanmu yang sangat menyakitkan itu, apakah sudah kau tanyakan juga kepada bapak kita yang terhormat? Ah… tentu saja pertanyaan seperti itu sangat lancang untuk ditanyakan kepadanya. Jadi pasti kita tidak perlu mengajukan pertanyaan itu kepadanya. Toh, kita pun  sama-sama sudah tahu jawabannya, bukan?

Teman, sudah berapa lamakah kita ini berteman? Aku sedikit lupa atau benar-benar sudah lupa sama sekali sejak kapan kita berteman, maka penting sekali kuajukan pertanyaan ini supaya aku tidak lupa lagi bahwa pertemanan kita dulu penuh gelak tawa. Dan supaya kita tidak lupa bahwa dalam pertemanan kita selama ini juga sering diwarnai adu argumentasi. Kita juga selalu bersama-sama membaca wacana dan kadang kita bertengkar tidak hanya dalam kata-kata, melainkan sekujur badan kita babak belur juga. Namun setelah kita berdiskusi lagi, menurunkan sedikit ego, kita pun berhasil melakukan rekonsiliasi. Dari pengalaman ini, apakah kemampuan kita dalam membaca huruf-huruf dalam buku selalu linier dengan pemahaman kita dalam membaca suasana?

Teman, entah kenapa aku jadi ingat pertemuanku dengan Albert Camus di musim semi tahun lalu. Boleh jadi karena pertemuan itu seperti sebuah firasat sebab, dalam pertemuan itu kata-kata yang ia ucapkan menjadi relevan untuk pertengkaran kita sekarang ini. Karena jujur saja aku menjadi jijik dengan pertanyaan “apakah sudah baca” mu itu. Mungkin kau bingung kata-kata yang mana yang menjadi perhatianku kali ini. Biar kusebutkan saja, “Ketika daya pikir menjadi lemah, kata-kata akan menjadi tanpa makna: sekelompok masyarakat akan buta dan tuli saja terhadap nasib seorang manusia.”

Kau dan aku mungkin buta dan tuli terhadap nasib seorang manusia. Makanya dengan ringan saja kita bertanya, “Apakah sudah baca?” Entah kau yang tolol atau aku yang bego, 1000 halaman cerita fiksi itu disahkan secara resmi untuk mengatur dan mengikat kita bagaimana kita harus berfantasi, ditetapkan dalam semalam? Ditetapkan oleh mereka untuk kita tanpa persetujuan kita? Ditetapkan secara sembunyi-sembunyi tanpa konsultasi? Gila! Aku tidak percaya itu bisa terjadi. Entah aku yang tolol atau kau yang bego atau semua manusia di dunia ini memang demikian biadab.

Teman, kita boleh menjadi orang bodoh… tetapi tidak boleh menjadi orang yang tolol! Kita tidak boleh menjadi orang yang bego! Tidak boleh menjadi orang yang dungu seperti keledai! Gampang saja caranya. Ambil 1000 halaman cerita fiksi itu. Bukalah dengan Adobe Reader, atau terserah mau kau buka dengan alat apa… lalu ketiklah kata kunci yang ingin kau cari setelah menekan tombol Ctrl+F jika kau memakai Windows, command+F kalau kau memakai Mac.

jejakandi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Membaca buku "dari Buku ke Buku": Pengalaman Membaca yang Asyik!

Thu Oct 29 , 2020
Halo, apa kabar? Maaf kalau pada tulisan ini saya langsung to the point, basa-basinya lain kali saja, ya. Lagi gak mood basa-basi soalnya hehe. Sekarang saya ingin menceritakan tentang pegalaman saya ketika saya pertama kali membaca buku “dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu” karya Polycarpus Swantoro. Hari ini […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: