Shocking Moment, Seratus Tahun Kesyunyian

15

Semua orang gempar, semua orang resah, ketakutan ini menyebar lebih cepat dari virus Corona itu sendiri. Di beberapa tempat di wilayahku sudah diberlakukan protokol siaga satu pengantisipasian menyebarnya Covid-19. Beberapa sekolah, instansi, lembaga-lembaga negeri dan swasta mulai diliburkan selama dua minggu, beberapa pertemuan juga ditunda, selapanan, muslimatan dan pengajian-pengajian dibatalkan. Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi di Desa Hujan, secara pribadi aku tidak mengkhawatirkan apalagi takut akan Corona yang telah sedemikian dekat, namun keresahan yang dirasakan masyarakat membuatku bimbang. Aku tidak ingin resah apalagi takut, sebab sekalipun serius, kepanikan tidak boleh lebih besar dari keyakinan kita bahwa Tuhan jauh lebih besar, kasih dan pertolongan-Nya jauh lebih berkuasa dari ancaman ini. Di sisi lain aku pun bimbang, kepongahan bisa menyergapku lebih cepat dari yang aku bayangkan. Situasi ini persis seperti yang aku lihat ketika Macondo diserang wabah insomnia yang dibawa oleh Rebecca, gadis cilik yang jelek dan kotor (menyedihkan sekali) namun justru tumbuh menjadi perempuan paling cantik pertama di Macondo sebelum Remidios dan Meme dilahirkan. Wabah insomnia yang dibawa oleh Rebecca yang gemar memakan tanah ketika gelisah, menyebabkan penduduk desa Macondo, yang ditemukan dan dibangun oleh Jose Arcadio Buendia, itu berhari-hari hingga nyaris sebulan hidup bagaikan zombie. Begitulah salah satu dari banyak sekali ingatan yang terlintas di pikiran Kolonel Aureliano Buendia ketika ia menghadapi regu tembak yang akan mengeksekusinya.

Shocking moment berkali-kali menimpaku ketika menyeburkan diri untuk hidup dalam imajinasi Gabriel Garcia Marquez. Rasanya aku seperti Melquiades yang bisa menjelajahi waktu hingga antara ilusi dan kenyataan yang kualami dalam hidup ini menjadi tipis sekali perbedaanya, termasuk kegelisahan yang disebabkan oleh virus Corona dan wabah insomnia, ia terlihat seperti di ambang antara fiksi dan nyata. One Hundred Years of Solitude (OHYoS) adalah sebuah keajaiban yang sulit kujelaskan bagaimana ada orang yang bisa hidup seperti Ursula Iguaran, Tak-Terhitung-Berapa-Aureliano dan Jose Arcadio, Rebecca, Amaranta, Remidios, Renata Remidios Meme, Fernanda dll.

Terakhir kudengar kabar, bahwa OHYoS ini akan difilmkan. Netflix memenangkan hak untuk membuat film yang selama 50 tahun lebih ijin untuk membuatnya selalu ditolak. Patut sekali dinanti-nantikan kehadiran film ini.

“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak yang akan mengesekusinya, Kolonel Aureliano Buendia jadi teringat suatu sore, dulu sekali, ketika diajak ayahnya melihat es.” Begitulah bunyi kalimat pertama paragraf pertama dari One Hundred Years of Solitude. Sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh Gabo dalam wawancaranya yang kemudian dibukukan dengan judul “Bagaimana Aku Menjadi Penulis”, ia memikirkan kalimat pertama dengan sangat serius. Berdasarkan ceritanya, ia menulis novel dengan memikirkan kalimat pertama dengan sungguh-sungguh, setelahnya ia pasrah bagaimana Tuhan akan menuntunnya. Ketika ditanya Anda lebih menghabiskan waktu lebih lama untuk menulis kalimat pertama ketimbang isi buku yang lain, kenapa? Ia menjawab, “Karena kalimat pertama dapat menjadi laboratorium untuk menguji gaya, struktur dan panjang buku.” Jadi begitulah One Hundred Years of Solitude telah membiusku dan menjebakku dalam beberapa kondisi shocking of moment. Aku menyelesaikan novel ini pada minggu ketiga bulan Januari tahun 2020 lalu. Setelah hari itu aku seperti orang bingung dan linglung sampai-sampai aku bahkan mennyingkirkan buku-buku Gabo yang dulu ingin sekali kubaca, salah satunya Love in The Time of Cholera. Aku seperti kehilangan selera untuk membaca buku lain.

Setiap kejadian yang dialami oleh tokoh selalu kejadian yang penuh keajaiban. Dalam halaman-halaman awal diceritakan bahwa, setiap tahun selalu ada pengembara gipsi yang memberikan suatu pencerahan atau ilmu-ilmu yang dibawa dari luar Macondo. Jose Arcadio Buendia dan istrinya, Ursula Iguaran pendiri dinasti Buendia itu sangat dihormati di Macondo. Jose Arcadio Buendia—nama ini harus ditulis lengkap, memang, karena ada banyak Jose Arcadio dan Aureliano yang terus berulang di keluarga terkutuk ini—adalah orang yang eksentrik, seniman gila dan juga perilakunya bisa dikatakan seperti seorang ilmuwan. Aku membayangkan ia seperti Einstein dengan rambut kelabu yang awut-awutan ketika melihatnya yang begitu gigih dalam kesibukannya meneliti akan magnet, kaca pembesar dan teleskop. Ia dengan rakus mempelajari peta dan ilmu ukur yang diberikan oleh kaum gipsi yang kemudian menjadikannya ilmuwan yang, dengan kecapakannya sendiri, mampu membuktikan dengan teorinya yang ditemukan bahwa bumi itu bulat. Atas keberhasilan ini, di kemudian hari kaum gipsi menghargai mereka dengan laboratorium Alkemis, yang sangat penting bagi dinasti Buendia dan Macondo kelak. Jose Arcadio Buendia awalnya tidak diterima sebagai orang yang waras dan selalu ditentang oleh kaumnya karena ia berpikir sangat berbeda dan melampaui zamannya. Tetapi keteguhan dan kegigihan Jose Arcadio Buendia serta keberanian dan semangatnya juga sikap cueknya terhadap orang-orang yang mengabaikannya, membuatnya jadi ilmuwan yang sukses. Ia membuktikannya.

Semakin dalam menelusuri keajaiban dinasti Buendia, kisah Jose Arcadio Buendia hanyalah secuil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ursula yang mampu hidup hingga lebih dari satu abad, kalau tidak salah hitung umurnya mendekati 150. Semula aku berpikir bahwa seratus tahun kesunyian, adalah derita yang harus ditanggung oleh Ursula. Tidak ada apa-apanya dibandingkan oleh keajaiban dan kemalangan yang diderita putra sulungnya, Kolonel Aureliano Buendia yang harus terlibat dalam 32 perang yang melambungkan namanya; dibandingkan dengan persaingan antara Rebecca dan Amaranta yang berebut mendapatkan cinta Pietro Crespi yang di akhir hayatnya si pria yang telah membuat dua perempuan paling cantik mabuk kepayang itu bunuh diri. Belum kisah-kisah lainnya yang lebih mengejutkan, kisah Meme dan Fernanda. Ah Fernanda, mungkin hanyalah dia satu-satunya manusia yang hidup benar dan normal. Begitu hebatnya, semoga ada waktu untuk membaca kembali novel ini dan membuat ringkasan lengkpanya nanti. Demikianlah saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

jejakandi

15 thoughts on “Shocking Moment, Seratus Tahun Kesyunyian

    1. Kalau yang aku baca, photo di atas, terjemahannya OK, kadang membacanya sambil membandingkan yang terjemahan Bahasa Inggris, bukan karena terjemahan Bahasa Indonesia-nya jelek, tapi memang terlalu mewah untuk dilewatkan. Tapi bahasanya memang seperti itu baik yang English maupun yang Indonesian, sama-sama njelimet. Beli aja… Peraih Nobel Sastra.

      1. Aseeeeeeeeek! Wih pesennya di tempat si bos. Ntaaaaaaaap. Yak Google books juga sering jadi tempat saya mencari tahu. ???? ????

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Sebentuk Keegoisan

Sat Mar 21 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/shocking-moment-seratus-tahun-kesyunyian/ Sudah sejak lama kusadari jika Point of View (PoV) atau sudut pandang adalah elemen penting dalam suatu karya, terlebih lagi karya tulis. Tetapi baru 6 bulan belakangan ini aku menganggap sangat serius betapa pentingnya PoV dalam menggerakkan sebuah cerita. Sudut pandang yang paling kusukai dalam bercerita […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: