Sebuah Upaya untuk Menggenggam Makna Ketakwaan dengan Kuat

Aku terus bertanya-tanya apa sesungguhnya makna takwa. Aku terus mencari dan terus mencari. Seringkali ketika aku mendapatkannya—makna ketakwaan yang sesuai untukku saat itu—aku kembali kehilangan, beberapa waktu kemudian. Meskipun manusia memang tempatnya salah dan lupa, namun beberapa hal tak boleh dilupakan, salah satunya adalah makna ketakwaan. Semua manusia di sisi Tuhan kedudukannya adalah sama, yang membedakan mereka adalah ketakwaannya. Maka makna ketakwaan sungguh sangat penting untuk terus diingat, untuk terus digenggam kuat dan bila perlu diikat dengan kencang supaya tidak lepas kembali. Melalui tulisan ini semoga aku bisa mengikatnya apabila aku menemukan makna itu lagi.

https://open.spotify.com/episode/12FzfcnYKzgHuM4FJ2VVax?si=UXM3e25STRGkkvIp_cDkfw
Tulisan ini bisa juga disimak di spotify, sila tekan tombol play di atas

Takwa berarti menghindar, atau menghindari dan bisa juga berarti menghindarkan diri; dan dalam tingkatannya ada tiga tingkatan. Yang pertama menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Yang kedua, sebuah upaya yang gigih untuk terus melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya (menghindarkan diri mendekat pada sesuatu yang dilarang oleh Allah). Ketiga dan yang tertinggi adalah menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari Allah Swt.

Berkaitan dengan takwa yang telah disebutkan dalam surat al-Baqoroh, di antaranya mengenai al-Qur’an sebagai sebuah petunjuk—yang tak ada keraguan di dalamnya—berjalinan begitu erat dengan kata hudan li al-muttaqin—yang berarti petunjuk bagi orang yang bertakwa. Kata hudan tersebut mengandung informasi tentang waktu; kata hudan merupakan sebuah kata jadian atau mashdar yang dapat berarti kata kerja masa kini, masa lampau dan masa depan. Berbeda dengan kata kerja (fi’il) mudhari’—kata kerja masa kini dan masa yang akan datang; present dan future tense—ataupun kata kerja madhi (lampau—past tense). Sehingga ketakwaan yang disiratkan dalam ayat dua surat al-Baqoroh tersebut dapat berarti orang bertakwa (al muttaqin) adalah orang yang telah mendapat petunjuk, sedang mendapat petunjuk ataupun yang sebentar lagi akan mendapat petunjuk. Ini berarti ketakwaan adalah segala upaya untuk mengharapkan petunjuk yang lebih lagi—sebab petunjuk tidaklah terbatas, orang yang sudah mendapat petunjuk pun masih bisa mendapatkan petunjuk—dengan cara menghindarkan diri dari kekufuruan dan menjauhi larangan. Dari petunjuk itu bahwa makna ketakwaan tingkat tinggi yaitu menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari mengingat Allah teramat sangat penting sebagaimana yang telah diperintahkan jangan menjadi yang pertama kafir/kufur setelah mendapatkan petunjuk—akibat dari tidak mengindahkan perintah-perintah Allah dan berupaya dengan sungguh-sungguh menghindari larangan-larangan-Nya.

Takwa adalah upaya terus-menerus untuk menghindar dari kekufuran, supaya tidak tersesat setelah mendapatkan petunjuk. Tanpa takwa, apa jadinya kalau yang sudah mendapat petunjuk saja masih bisa tersesat, bagaimana dengan yang belum mendapat petunjuk? Mestinya terus mencari dan terus mencari, meskipun hidayah datangnya hanya dari sisi Allah dan Allah jua-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki, namun upaya untuk mencari itu merupakan bagian dari ketakwaan, yang mencari saja belum tentu menemukan, apa lagi yang tidak mencari.

Takwa bukan merupakan suatu tingkatan dari ketaatan kepada Allah.  Jadi penulis berpikir kurang tepat kiranya jika dikenalkan istilah meningkatkan iman dan takwa. Meskipun dalam tingkatannya iman dan takwa memiliki tingkat yang berbeda-beda antara satu sama lain. Takwa bukan merupakan suatu tingkatan dari ketaatan. Takwa adalah penamaan bagi setiap orang yang beriman dan mengamalkan amal shaleh. Seorang yang mencapai puncak ketaatan adalah orang bertakwa, tetapi yang belum mencapai puncaknya pun tetap juga dinamai orang bertakwa, bahkan yang belum luput sama sekali dari dosa pun dapat dinamai orang yang bertakwa, walaupun tingkat ketakwaanya belum mencapai puncak. Takwa adalah nama yang mencakup semua amal-amal kebajikan. Siapa yang mengerjakan sebagian darinya, ia telah menyandang peringkat ketakwaan. 

al-Qur’an merupakan hudan li al-muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Bertakwa dulu supaya mendapat petunjuk, dan tidak menutup kemungkinan yang sudah mendapatkan petunjuk pun masih akan mendapatkan petunjuk sehingga tingkat ketakwaan akan mencapai puncaknya. Sehingga anekdot: “Tidak benar jika membaca al-Qur’an supaya menjadi bertakwa” merupakan kalimat yang tidak sepenuhnya benar, sebab upaya membaca al-Qur’an supaya mendapat petunjuk sendiri sudah merupakan jalan takwa. Siapa saja yang datang untuk mempelajari al-Qur’an, berarti ia sudah memiliki sebuah modal yaitu takwa, ia tidak datang dengan tanpa modal sama sekali.

Mengapa hal ini perlu penulis singgung? Yaitu untuk menepis keraguan untuk datang mempelajari al-Qur’an. Seringkali seseorang merasa ragu untuk mempelajari al-Qur’an karena ia merasa berdosa besar. Seseorang seringkali menunda mempelajari al-Qur’an dengan alasan ia merasa tidak pantas mempelajarinya sebab merasa berlumuran dosa karena melakukan aneka perbuatan hina dan nista. Perlu penulis singgung untuk menepis buruk sangka dan keheranan pada orang yang tiba-tiba mempelajari al-Qur’an. Perlu penulis singgung supaya siapa pun yang hendak mempelajari al-Qur’an membulatkan tekadnya dengan tulus untuk belajar di mana itu merupakan sebuah modal awal supaya memeroleh petunjuk.

Sayyid Quthub memeroleh kesan dari penyifatan al-Qur’an dengan hudan li al-muttaqin, antara lain bahwa siapa yang ingin mendapatkan hidayah al-Qur’an, hendaklah ia datang menemuinya dengan hati yang bersih lagi tulus. Ia harus datang kepadanya dengan hati yang takut lagi bertakwa yang berupaya menghindari dari siksa Ilahi, berhati-hati sehingga ia tidak berada dalam kesesatan atau dipengaruhi olehnya. Nah ketika itulah akan terbuka rahasia dan cahaya al-Qur’an dan tercurah ke dalam hati yang datang dengan sifat dan keadaan yang telah dilukiskan di atas.

Demikian, Wallahualam…


Daftar Pustaka:

Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir Al-Misbah, Vol 1. Jakarta: Lentera Hati, 2017.

2 thoughts on “Sebuah Upaya untuk Menggenggam Makna Ketakwaan dengan Kuat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: