Sebuah Pengakuan

Aku bersyukur pada hidup yang kuhabiskan untuk belajar, memuasi rasa ingin tahu dan dengan gigih mendorong keingintahuanku lebih dari apa yang mampu aku pikirkan. Aku berterimakasih kepada para penulis yang telah mengisi hidupku dengan imajinasi sejak dulu. Aku berterimakasih kepada para filosof, pemikir dan pendakwah agama-agama, yang dengan sukarela telah menunjukkan padaku aneka warna dan hal-hal yang tak akan mungkin mampu aku ringkas sendiri dalam perjalanan hidupku yang sangat pendek ini; aku berterimakasih kepada mereka yang telah meringkaskan ribuan tahun dalam buku-buku, jam-jam kuliah dan tutur-tutur kata. Aku bersyukur kepada hidup yang telah memberiku kekuatan untuk bertahan dari kegelapan diriku sendiri di dunia yang kurasakan semakin sepi seiring dengan kesadaranku bahwa apa yang kutemui tak lebih dari hanya sebuah permainan yang palsu.

Jikalau pun aku tak mengerti, belum dan tak pernah sampai pada keyakinan bahwa apa yang kulakukan dalam hidup ini adalah bermakna, aku masih percaya dan berpegang teguh pada sebuah tali yang kuat. Sebuah pegangan yang datang sebagai sebuah dogma yang menuntutku harus percaya meskipun aku tak memahaminya, dan tak memberiku kesempatan untuk menyangkal, karena aku harus tunduk dan penuh dengan keterpaksaan menerimanya. Karena paksaan itu bersifat mutlak yang tak akan dapat dipahami oleh manusia sepertiku yang hanya memiliki otak yang begitu kecil, sebuah keterpaksaan yang tunduk sebagaimana tidak mungkinnya sebuah gelas menampung seluruh air di lautan.

2 thoughts on “Sebuah Pengakuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: