Sebuah Jurnal: Musuh Baru Bagi Kegiatan Menulisku

9

Aku sekarang sedang berada dalam persimpangan sejarah yang baru di dalam aktivitas menulisku: ada masalah baru yang sedang kuhadapi.

Kalau soal terganggu karena hape dan karena keributan yang berada di luar sana, dilewati saja, karena masalah itu solusinya cuma enyahkan saja mereka. Aku sedang tidak berbicara soal itu dalam pembahasan kali ini.

Sepanjang penglamanku dalam menjalani kegiatan menulis sehari-hari, aku telah mengatasi banyak hal yang pernah menghambatku. Masalah pertama yang saya alami ketika itu, aku tidak punya ide mau menuliskan apa. Seseorang akan mampu menulis jika dan hanya jika ia mempunyai ide dalam kepalanya, sejelek apapun itu, ide adalah syarat mutlak bagi seseorang ketika ia ingin menulis. Aku mengatasinya dengan mengajukan berbagai pertanyaan tentang sesuatu yang ingin aku ketahui.

Tetapi mengajukan pertanyaan ternyata bukan perkara mudah juga.

Cara mengatasinya dengan memasukkan pengetahuan baru, melalui membaca dan merenung. Juga melalui percakapan dengan orang-orang sekitar, terserah bagaimana caranya, apa saja bisa dilakukan selama itu dapat menambah pengetahuan baru kedalam kedalam pikiranmu. Karena apa yang tertulis adalah apa yang kamu pikirkan, bagaimana akan menulis kalau pikiranmu kosong. Aku mengatasinya dengan banyak membaca. Terkadang aku membaca dua sampai empat buku hanya untuk dapat menulis sebuah post. Terkadang hanya membaca sebuah artikel untuk dapat menghasilkan 3 post, bermacam-macam variasinya. Yang jelas, tanpa memasukkan pengetahuan baru kedalam pikiran, akan sangat sulit untuk dapat menulis dengan lancar. Lalu setelah membaca, dan kamu mulai memahami pikiranmu, apa yang kamu pikirkan itu akan menjadi sangat indah dan sangat seksi jika kamu mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang istimewa. 

Setelah pikiranmu terisi banyak informasi dan telah melahirkan aneka pertanyaan, masalah yang lain muncul, yaitu bagaimana cara mengeksekusi ide-ide itu, bagaimana cara menjawabnya. Masalah terbesarku adalah bagaimana cara mewujudkan ide-ide yang abstrak itu ke dalam sebuah lembaran-lembaran yang dapat dibaca. Dulu ketika saya masih dalam tahap awal-awal menulis, saya mengalami sebuah kegamangan cara menuangkan pikiran. Ketika ide banyak bermunculan dalam kepala, biasanya ada sebuah keraguan atau kegamangan bagaimana cara menuangkannya, apa yang harus, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dituangkan. Bahkan sebelum sampai kepada pilihan-pilihan itu, dulu aku seringkali mengalami kebingungan dari mana lalu kemana dan mau kemana. Seringkali pula ketika gambarannya sudah terlihat begitu jelas dan nyata dalam kepala, bahkan tak lagi abstrak hanya saja berserakan dan berlari-lari, kata-kata yang sesuai masih saja susah ditangkap. Dulu saya mengatasinya dengan menggunakan notepad, ya aplikasi yang sangat kecil dan sederhana itu. Menurutku, notepad adalah salah satu aplikasi terbaik diantara aplikasi-aplikasi terbaik yang pernah tercipta pada era teknologi digital ini.

Notepad sangat bersahabat bagiku, ia menjadi piranti paling gampang waktu itu. Kesederhanaan aplikasinya itu mampu mengeluarkan potensi terbaik dalam pikiranku, tidak menambah ruwet pikiran yang sudah ruwet. Tidak seperti Microsof Word yang ramai, banyak tombol, feature dan ada sebuah layar yang besar. Ada margin kanan ada margin kiri, bikin pusing sumpah… hahaha.

Di notepad hanya ada ketik ketik dan ketik tak ada yang lain, kita tidak tahu sudah berapa kata yang dihasilkan, kita tidak terganggu dengan kata yang ejaannya salah. Kita tidak akan tergoda untuk merapikan format penulisan, tidak akan tergoda untuk sekedar membuat jarak antar baris. Yang ada hanya ketik ketik dan ketik. Sesimple itu… sungguh notepad sangat membantuku. Berbeda dengan microsoft word… ya dulu aku pernah memakai MsWord, sekarang tidak pernah lagi.

Setelah beberapa lama aku cukup produktif dengan bantuan notepad aku terbantu dengan Evernote saat menyunting tulisan yang direncakan untuk publikasi di blog.

Pada perkembangan selanjutnya, aku tergoda untuk dapat menampilkan suatu tulisan yang bagus dan enak dibaca. Tulisan yang indah yang mengalir lancar dan tanpa tersendat-sendat. Yang terjadi aku terlalu banyak mikir. Terlalu sering menulis lalu menghapusnya lagi. Aku tergoda untuk menulis dengan sempurna… hingga aku setress tak bisa mengungkapkan apa pun. Karena dulu setiap kali menulis, aku tergoda untuk mengimpresi orang lain. Setiap kali menulis aku langsung publish di facebook, blog dan tumblr. Aku tergoda untuk menampilkan tulisan yang indah dan intelek. Yang rapi dan tidak kacau… sekaligus tergoda untuk sesering dan segera mungkin menampilkannya. Aku setress berat dan tak mampu menuangkannya. Karena selalu merasa insecure, merasa tak nyaman dan merasa gagal menyampaikan pikiran.

Lama sekali aku mentok dalam kondisi ini hingga berbulan-bulan sampai pada suatu hari aku menemukan konsep ruang privat. Aku kembali menulis dalam sebuah aplikasi, saat itu saya menggunakan OneNote, dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. OneNote memiliki sistem pasword, jadi saya menulis dalam ruang privat ini secara aman, tidak khawatir akan diketahui oleh orang yang kebetulan meminjam laptop saya. Masalah teratasi, aku bebas menuliskan apa saja secara aman dan nyaman. Dan dalam ruang privat ini aku kemudian sadar setelah berulang kali berdialog dengan diri sendiri bahwa tidak selalu ada gunanya, tidak selalu memuaskan untuk selalu menampilkan sebuah tulisan, apalagi hanya sekedar gaya-gayaan biar terlihat keren di mata orang lain. Ya waktu itu aku hanya merasa keren ketika menulis puisi. Tetapi masa itu telah berlalu. Aku lebih banyak berdialog dengan diri sendiri dalam ruang privat sampai hari ini. Sampai masalah baru ini muncul secara bersamaan. 

Yang pertama pada titik ini, ketika pikiranku mulai komplek, mulai rumit, mulai terjejali dengan banyak masalah, banyak pekerjaan sementara jiwaku selalu menuntut dialog dan menuntut obat yang itu artinya menulis dan berbagi… aku pun mengalami masalah-masalah baru dalam aktivitas menulis ini yaitu mengalami kesulitan bagaimana cara mengorganisasi banyak ide yang muncul itu agar dapat disajikan dalam satu lembaran yang rapi dan enak dibaca.

Karena yang selama ini saya kerjakan cuma menulis sampai akhir, terserah apa yang ditulis. Semua yang saya post dan biasanya terdiri dari satu kerangka pikiran, bukan kumpulan banyak pikiran. Kemudian belakangan saya ingin menyatukannya. Dan sekarang saya dalam proses itu. Rencananya aku ingin menyatukan semua peta pikiran ini. Dalam ruang privat ini, aku membaca pikiran-pikiranku yang berserakan dalam notepad, saya mengambil 4 sampai 5 catatan kemudian menceritakan kembali secara random dan mencoba menggabung-gabungkan antara satu sama lain, atau membuat catatan-catatan ini sebagai paragraf tersendiri, lalu untuk saya olah bagaimana keterkaitan antar paragraf ini sebisa mungkin untuk nyambung. Evernote pernah membantu, tetapi ketika pikiran sudah mulai menyala, dan semakin banyak dan berantakan otomatis notepad dan evernote saya isinya ikut berantakan. Saya kesulitan mengorganisasinya. Bahkan Scrivener dan DayOne yang telah bertahun-tahun menjadi senjata paling ampuh pun sedang tidak efektif. Aku tahu, masalah ini bukan perkara alat… ini adalah perkara aku yang tidak bisa mengorganisasi pikiranku sendiri. Karena aku memiliki keinginan yang lumayan ruwet. Catatan-catatan saya yang berantakan yang cuma berisi kumpulan-kumpulan yang ruwet itu ingin disatukan. Ketika saya ingin menyatukan notepad-notepad yang berisi potongan pikiran rasanya pusing bukan main. Berserakan seperti kertas. Ketika masalah ini hampir aku atasi dengan baik aku dihantam masalah baru… dalam proses ini aku sekarang sedang terhambat dalam satu masalah, yaitu menghadapi dan menaklukkan kegalauan.

Ah sepele sekali… dan sama sekali enggak keren. Masalahnya cuma galau… cemen sekali ternyata ya.

Bahkan setelah tiga minggu atau satu bulan terakhir ini aku masih mengalami saja belum bisa mengatasi kegalauan yang sangat berat. Yang terburuk adalah bahkan aku tidak bisa menuliskan kegalauan itu dalam ruang privatku sendiri, sebab ketika aku menuliskannya aku mengalami sebuah sensai yang membuat seluruh otak ku kacau tak terkendali, emosi yang buruk bercampur dengan segala perasaan dari masa lalu, sekarang dan kekhawatiran masa depan.

Aku mengalami kegamangan baru dalam menulis. 

Banyak hal sudah sangat jelas dalam pikiranku, ide pikiran yang sudah aku tuangkan dengan begitu jelas dalam mind map, dan tinggal dieksekusi… harusnya mudah karena aku telah berlatih dan berhasil mengeksekusinya bertahun-tahun… tetapi kegalauan itu… kegalauan yang sulit kudefinisikan itu selalu menyerangku setiap waktu. Kegalauan yang tidak bisa diajak kerjasama, kegalauan yang sangat tidak profesional yang menyebabkan aku menjadi sangat malas, membuat moodku sangat jelek luar biasa. Kita semua tahu, menulis kalau menunggu mood yang bagus itu bukan cara yang bagus, karena menulis seharusnya justru memperbaiki mood. Kita semua tentu paham, semuanya menjadi mudah ketika masalah-masalah kita sendiri diatasi dengan berdialog dengan diri sendiri melalui tulisan… tetapi sungguh ini lain.

Bahkan aku kemarin memaksakan diri untuk memposting coming soon, agar aku segera bangkit dan memiliki target untuk menulis kembali, tetapi nyatanya sampai hari ini coming soon itu masih sekadar abstraksi di dalam kepala saya. Aku sudah membaca esai yang abstrak itu ratusan kali di dalam kepalaku sendiri, tetapi selalu dikalahkan oleh kegalauan dan kegamanagn yang sangat berat yang sekarang sedang susah payah kuhadapi ini. Entah kenapa saya tiba-tiba galau banget sebulan ini, dan aku sangat kacau.

Ini adalah sebuah titik di mana saya dalam perjalan menulis ini adalah untuk menaklukkan perasaan galau yang tidak profesional ini.

Ketika kamu merasakan galau yang luar biasa dan kamu pun tahu persis apa yang ingin kamu tulis tetapi kamu tidak menuliskannya, karena ketika kamu ingin menuliskannya kamu selalu teringat lagi, teringat lagi dengan semua masalah kamu dan kamu menjadi marah dan bad mood, kini kamu telah sampai pada sebuah titik di mana kegiatan menulis sedang menghianati dirimu, bukannya menyembuhkanmu tetapi malah membuka luka-luka yang mengendap, bukan menjadi obat namun justru menjadi air jeruk untuk luka yang menggoresmu. Sungguh menyebalkan.

Ketika bahkan kamu dalam ruang privat pun kamu tidak berani dan tidak bisa. Kamu membutuhkan kekuatan dan keberanian yang lebih besar dari pada hanya berbicara kepada diri sendiri dalam ruang privat itu.

Itulah salah satu titik yang sedang aku hadapi ini.. Kalau postingan ini muncul… atau ketika postingan ini muncul “dan” postingan yang sudah kujanjikan kemarin itu muncul, semoga saja aku sedang dalam keadaan menghadapi kegalauanku, sedang dalam keadaan berjuang dan bertarung dengan kegalauan ini. Semoga setelah tulisan-tulisan yang kujanjikan muncul, aku sudah bebas dan sudah mengatasi masalah beratku ini.

Demikian Saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

jejakandi

9 thoughts on “Sebuah Jurnal: Musuh Baru Bagi Kegiatan Menulisku

  1. Makasih Bang Andi sudah nulis ini, tiap fase itu kayaknya udah saya lewati juga.

    Saya lagi di fase tergoda untuk menulis dengan sempurna dan godaan untuk impresi orang lain. Emang malah jadi bikin setress sumpah buat nulis. Dan karena lagi begini jadi tersalurkan lewat baca tulisan ini.

      1. Hahaha kayaknya emang enak jadi kain sutra aja daripada jadi manusia.

        Aku simak beberapa tulisanmu. Pantesan aja setress… tulisanmu memiliki pakem dan tema yang khusus dan sangat serius. Jadi tulisan receh kayaknya gak pernah kepikir bakalan dinaikkan ke blog. Hemmm

    1. Beta reader itu pembaca kedua, seperti itu? jadi ada semacam pembaca lain yang bertugas mengumpulkan ide? Hemmmm belum sanggup bayarin orang, hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Sebuah Jurnal: Kalimat yang Sukses Mengejek Diriku

Sun Nov 1 , 2020
Entah mengapa dulu aku begitu ingin menjadi penulis. Mungkin aku mengira jika aku menjadi penulis maka aku sedang terjun ke dalam suatu dunia yang hebat; mendalami sebuah seni, menjalani tradisi intelektual dan bertransformasi bersama kaum-kaum pintar; membuat prasasti keabadian, dan bernafas dalam dunia yang penuh dengan kebebasan. Tapi kini aku […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: