Sebuah Jurnal: Mengapa Aku Sering Mendorong Orang Lain Untuk Menulis

14

Ketika merayakan ulang tahun jejakandi yang kelima, aku pernah bilang, dalam jejakandi voices, bahwa blog ini dibuat setelah aku lulus kuliah, setelah aku tidak lagi memliki jabatan paling prestisius sebagai manusia yang fearless dan merdeka yaitu mahasiswa.

Saat pertama kali membangun blog ini bahasa ungkap yang aku gunakan dalam menyampaikan pikiran masih sangat kacau, dan tidak menunjukkan bahwa tulisan-tulisannya telah memenuhi standar tulisan orang-orang yang pernah menjadi mahasiswa. Artinya tulisan-tulisanku tidak bermutu seperti layaknya tulisan seorang lulusan dari perguruan tinggi—negeri lagi. Satu hal yang patut disesalkan, mengapa tak ada satu pun dosen—yang pernah mengajar saya—di perguruan tinggi negeri itu yang pernah mengajari bagaimana cara menuliskan gagasan dan pikiran. Itu adalah suatu topik yang kelak selalu aku kritisi dari seorang dosen. Sebab seorang dosen seharunya mendorong mahasiswanya untuk menulis—menuliskan gagasan sendiri ya, bukan menulis catatan di papan tulis—, bukan cuma mengajarkan teori. Dan kalaupun pernah ada dosen yang membaca tulisan mahasiswanya dan berniat untuk merevisi, mereka hanya sebatas merevisi tulisan-tulisan yang duh… paling mentok ketika mahasiswanya sedang skripsi. Dan revisiannya itu pun—bahkan menurut aku yang saat itu masih cupu—sama sekali enggak bermutu dan tentu saja aku tidak pernah puas. Makanya aku sering merevisi tulisanku sendiri, tulisan yang bahkan oleh dosen sudah dianggap bebas dari revisi. Mengajukan revisi yang tidak direvisi oleh dosen! Ngeeeeeenggggg!

Aku jadi membayangkan betapa kacau lagi jalan pikiranku dan gaya tulis-menulisnya ketika dulu masih menjadi mahasiswa. Memang saya sudah terbiasa menulis sejak dulu, namun tulisanku itu, aku kira, masih tidak terstruktur sebab aku tidak tahu bagaimana menuangkan gagasan dengan baik… lha wong aku belajarnya secara autodidak, belajar sendiri dan menulis dengan gaya sendiri tanpa tahu teknik-teknik menulis dari para ahli dan cendekia serta dosen-dosen yang terhormat. Ketika aku menulis di platform tumblr pun bahasanya yang aku pakai sangat rumit dan berputar-putar. Dan itulah gaya bahasa yang membantuku atau yang mengiringi perjalananku ketika menjadi mahasiswa dan saat skripsi. Aku berandai-andai jika saat itu ada yang mengajariku bagaimana cara mengatur dan menyusun pikiran lebih sistematis.

Tetapi bagaimanapun juga aku tak menyesalinya, sebab seandainya aku sudah belajar bagaimana cara merangkai pikiran, atau jika aku bertemu dengan beberapa orang yang mengajariku teknik menulis dan menyampaikan pikiran, yang mana kemungkinan besar akan membuatku bisa menuangkan dengan dengan cara lebih baik—kita tahu pikiran mahasiswa itu sangat indah, bebas, merdeka dan seringkali mengejutkan—meskipun begitu itulah yang telah terjadi dan tak ada guna menyesalinya.

Aku tidak cukup beruntung karena tidak berkenalan dengan penulis—sampai aku membaca buku-buku yang merangsang dan mendorong untuk menulis, buku-buku yang mengungkapkan betapa pentingnya dan bermanfaatnya menulis. Dan sekarang pun demikian, hanya saja setelah lulus kuliah aku lebih banyak membaca buku, jadi aku rasa tulisanku sudah lebih baik dari ketika awal membangun blog ini.

Apa pun yang telah terjadi, tetap saja aku sangat bangga dengan diriku yang bisa survive menulis blog pada tahun ke-lima.

Aku memiliki perjalanan yang mengasyikkan, dan membayangkan menjadi seperti Musashi yang belajar pedang dengan caranya sendiri. Pun tersemai sebuah kisah, aku dulu menulis blog di tumblr bersama seseorang, aku bisa bertahan bertahun-tahun (kira kira tiga tahun) dengan sangat rajin, hampir setiap minggu pasti ada tulisannya… satu atau dua kali, sementara temanku tidak mampu melanjutkannya. Aku memiliki kebanggaan bahwa saat itu aku berada satu level di atas dia. Perjalanan menulisku itu berlanjut dan tidak berhenti meskipun karena ada satu dan lain hal yang membuatku males menulis di tumblr. Lanjutan perjalanan itu dimulai saat aku membangun jejakandi ini yang semula karena memang ingin memiliki rumah baru untuk gagsan puisi dan cerpen serta cerita perjalanan. Meskipun ujung-unjung tidak berhasil seperti yang diinginkan, apa yang aku tulis tidak terkonsepkan lagi, karena ia bergantung dari ide yan kudapatkan. Akhirnya yang terjadi dalam jejakandi postingannya random. Tetapi walaupun serandom-randomnya tulisan di jejakandi, kalau diperhatikan ada ciri khasnya.

Setelah tahun ke-lima ini, aku merasa aku mendapatkan sedikit ilmu yang sedikit lebih baik, yang seandainya bisa aku praktikkan saat masih menjadi mahasiswa hasilnya tentu akan membuatku jauh lebih memuaskan, lebih bermanfaat dan lebih punya daya dobrak. Tetapi itu tak pantas untuk disesali, sebab memang dulu aku tidak serius ingin belajar menulis dan menjadikan kegiatan menulis-membaca sebagai jalan hidupku, sebagai suatu hal yang tak terpisahkan dari hidupku. Dan itulah mengapa ketika aku menemukan talenta-talenta baru, terlebih talenta-talenta itu masih menjadi mahasiswa, atau talenta-talenta baru yang sangat antusias dengan kegiatan membaca dan menulis, atau talenta baru yang proaktif dan getol menyampaikan isi pikirannya, aku selalu mendorongnya untuk belajar menulis. Aku selalu mendorongnya dengan sangat giat.

Aku mendorongnya dengan mengandaikan jika saja dulu ketika aku masih berada di tahap itu, ada orang yang mendorong seperti aku mendorongnya. Aku seolah-olah menjadi seperti orang tua, yang ide dan gagasannya ingin ditanamkan pada anak-anak mereka.

Aku cukup antusias berdialog dengan talenta-talenta muda dan mendorong mereka untuk menulis. Karena, walau saat ini mereka belum tahu apa manfaatnya, kuharap suatu hari mereka akan menyadari bahwa menulis dapat mengubah hidup menjadi lebih baik.

Saya Andy Riyan dari Desa Hujan… Sampai Jumpa!!

jejakandi

14 thoughts on “Sebuah Jurnal: Mengapa Aku Sering Mendorong Orang Lain Untuk Menulis

  1. sepertinya kejadiaan di mana-mana.dosen tidak mengajarkan bagaimana agar mahasiswa mampu menuangkan ide-idenya menjadi tulisan. Rata-rata penulis mencari jalannya sendiri untuk belajar menulis

    1. Yang saya sayangkan bukan hanya tidak mengajari atau menunjukkan jalan menjadi penulis, itu terlalu jauh… tetapi, mbok yo ho paling tidak itu menunjukkan manfaat menulis untuk merumuskan pikiran.

      1. Tepat sekali hanya dosen tertentu di jurusan tertentu… Dan itu masalahnya… Semua mahasiswa di jurusan apapun, menurut hematku, membutuhkan petunjuk dan kemampuan itu. Dan aku mungkin hanya segelintir yang tidak mengalaminya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Sebuah Jurnal: Jangan Sampai Tertipu dengan Kerja Kerasmu Sendiri

Mon Nov 9 , 2020
Sebagai pembukaan untuk tulisan kali ini, sekali lagi aku ingin mengutip sebuah kalimat yang sangat indah dari seorang Nazril Ilham, “Tulislah apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, tidak harus secepatnya berguna, tetapi yakinlah suatu hari nanti itu akan memiliki arti.” Mengapa aku membuka tulisan dengan mengutip kalimat yang indah […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: