Sebuah Jurnal: Jangan Kau Bunuh Egomu

9

Perasaan bahagia itu bagaikan mengapung muncul dari dalam bumi, kemudian berubah menjadi pusaran angin yang sejuk dan berputar mengelilingiku dan akhirnya menyelimutiku dalam damai ketika aku kembali menemukan kenikmatan dan kesenangan saat membaca buku. Kebahagiaan itu begitu terasa ketika aku mendapatkan cukup banyak waktu untuk menghadiahi diri sendiri dengan keasyikan yang sederhana ini. Sebenarnya hadiah—berupa waktu membaca—yang diberikan padaku itu tidak begitu lama. Sangat sebentar, kalau boleh kubilang, hanya sekitar setengah sampai satu jam saja, namun rasanya aku telah menghadiahi diri sendiri sepanjang waktu. Rasanya aku telah memberi makan seluruh egoku. Waktu, tempat dan cara yang tepat untuk membaca menjadi sangat penting di sini, agar memiliki kebahagiaan itu.

Setelah merenungkan beberapa detail kecil ini, rasanya egoku cukup sederhana, hanya setengah sampai satu jam membaca dalam suasana, waktu dan cara yang tepat. Ya setiap orang pasti memiliki egonya sendiri dan ego setiap orang berbeda-beda, namun ada satu hal yang sama, jika ego dalam diri seseorang itu telah diberi makan, ia akan menjadi orang yang bahagia dan akan melihat hal-hal di luar dirinya dengan lebih cermat. Ia bisa melakukan apa saja di luar dirinya dengan ringan dan gembira. Ia bisa melayani dengan tulus dan bekerja dengan sangat profesional. Ringkasnya ia pasti mau meberi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar dirinya.

Aku memiliki ego dalam pikiranku dan aku ingin memuaskannya, tentu saja kepuasaan akan tercapai ketika ia tidak bertentangan hal-hal yang sifatnya prinsipil. Maka dimulailah pengembaraan dalam permenungan. Hal pertama yang kusdari dari perenungan itu, adalah timbulnya sebuah pertanyaan sejak kapan aku mulai bergairah lagi untuk membaca? Sejauh yang kuingat, yaitu sejak aku memutuskan untuk membeli buku secara satuan saja. Tidak lagi menuruti nafsu yang ingin membeli borongan dengan alasan mumpung diskon atau dengan dalih biar ongkirnya lebih murah.

Ternyata dengan menerapkan prinpsip hanya membeli buku satuan, hanya membeli satu saja buku dari banyak yang diinginkan, gairah yang hebat perlahan muncul. Pertama, aku menang melawan hawa nafsu yang ingin membeli dan membaca banyak buku. Kedua aku tidak terlalu gelagapan dengan keinginan agar semua terpenuhi yaitu keinginan untuk membaca semuanya sesegera mungkin dan serentak—secara tak langsung memberi ruang bagi otak ku untuk memiliki ruang liarnya sendiri. Memang aku masih selalu melakukan kegiatan membaca secara serentak 5 sampai 6 buku dalam satu periode waktu. Tetapi sejak hanya memutuskan untuk membeli buku satuan, aku jadi punya energi banyak untuk membaca kembali buku-buku lama yang beberapa kata-katanya telah terpahat, sedemikian sehingga aku bisa melihatnya lagi dengan jelas dan mampu membuat korelasi antar buku yang ada, dan yang sedang kubaca. Atau bahkan aku jadi punya waktu untuk membaca buku-buku yang belum sempat kubaca. Sebab biasanya ketika ada buku baru, buku baru itulah yang ingin dibaca, dan buku lama yang sudah kebeli yang belum kebaca terlupakan.

Aku tidak ingin memusingkan ongkirnya jadi mahal. Atau terlalu kepikiran kalau beli nanti jadi mahal. Aku lebih berpikir waktu dan energi yang kumiliki SAAT INI lebih mahal. Dengan begini aku sadar betul dengan ego yang akan terus hidup meskipun setiap hari telah diberikan makan. Karena mencoba membunuh ego dengan tidak memberinya makan justru ia akan berubah menjadi monster yang mengerikan yang akan menelan dirimu sendiri, ia juga bisa berubah menjadi bom waktu yang kapan tahu bisa meledak setiap saat tanpa bisa dicegah. Dan tentu saja kemudian aku menjadi sangat sadar betapa apa yang pernah kubaca kini terlihat begitu jelas karena aku membuatnya menjadi menyenangkan yaitu bisa menuliskan pengalaman saat membacanya. Dan ya memang yang paling menyenangkan adalah ketika membaca kemudian berhasil membuat pikiran jadi terang dan menuliskan pengalaman membaca itu. Menulis pengalaman membaca ternyata jauh lebih menyenangkan dari pada membaca itu sendiri. Seperti ada interaksi antara buku yang dibaca dengan pikiran kita sendiri. Ada sebuah dialaog baru yang menyertai pembacaan sehingga lahirlah sebuah komunikasi yang hebat. Dan aku tidak lagi kesepian di dunia ini.

Mungkin di tulisan jejakandi berikutnya nanti akan sedikit kuceritakan tentang komunikasi itu. Sekarang sampai di sini saja dulu. Sekian saya Andy Riyan dari Desa Hujan. Sampai jumpa.

jejakandi

9 thoughts on “Sebuah Jurnal: Jangan Kau Bunuh Egomu

  1. Wah sama, aku juga sering kalap membeli buku karena sedang diskon. Akhirnya banyak buku yang menumpuk bahkan masih tersegel tapi belum ada niatan untuk dibaca. Euforia ketika beli seketika hilang begitu saja. Sering juga membaca beberapa buku dalam waktu bersamaan yang akhirnya hanya 1 atau 2 buku yang bisa kubaca sampai selesai.

    1. Terus gimana tuh siasatnya untuk baca buku yang sudah kebeli?

      Soal membaca banyak buku, sih aku tetep 5 sampai 6 secara bergantian. Itu membuatku tetep punya energi lebih untuk membaca hehehe

      1. Entahlah ???? Jadi suka sedih kalau melihay tumpukan buku yg masih disegel tapi terabaikan.

        Wahhhh bookworm beneran sih. Aku entah kenapa tidak punya banyak energi untuk membaca banyak buku, kecuali aku memang menjadwalkannya.

      2. Kalau aku sih, kenapa aku jadi punya energi, aku menyingkirkan buku-buku yang menyiksa, kadang salah satu alasan membaca banyak sekaligus ya biar tidak terlalu tersiksa dengan satu topik dan Genre. Ada selingan dan hiburan lain.

      3. Kurasa hanya aku yg merasa tersiksa dgn tumpukan buku yang tidak kunjung terselesaikan, ternyata tidak. Apakah ada tips khusus mengumpulkan energi untuk membaca beberapaa buku sekaligus?
        Sesungguhnya aku juga suka membaca buku dgn genre random, karena merasa cepat bosan kalau harus maniak satu genre.

      4. Ya banyak orang-orang yang merasakan hal yang sama. Tentu saja orang-orang seperti ini adalah tipe orang yang belum mengetahui cara mengendalikan diri dengan sempurna. Dan aku cukup yakin perlahan-lahan orang-orang akan menuju ke sana, atau setidaknya ingin menuju ke sana, mencapai kendali sempurna atas diri sendiri.
        Aku tidak tahu tips khusus dan tips ampuh. Aku hanya kadang menemukan yang cocok untuk diriku sendiri belum tentu cocok untuk orang lain. Kadang untuk meraih energi itu, aku mengambil sembarangan buku dan membuka sembarang halaman, tidak musti urut dari halaman pertama. Belakang, tengah akhir atau manapun yang disuka. Dan yang paling penting adalah… Memberikan komentar dengan membubuhkan coretan-coretan di buku itu. Yah seperti yang dilakukan Severus Snape muda yang memanggil dirinya sendiri Half-Blood Prince, membubuhi komentar pada buku pelajaran ramuan itu. Ahahahaha…

      5. Mencapai kendali sempurna atas diri sendiri adalah proses panjang sebuah kehidupan. Meskipun orang-orang berbondong-bondong menuju ke arah kesempurnaan, pada akhirnya tidak akan ada yang mencapai tujuan akhir, hanya ada sebuah perjalanan dengan makna personal untuk orang-orang yang memikirkannya.
        Jadi, semacam memulai dengan menumbuhkan ketertarikan ke bukunya?
        Aku tidak suka membubuhkan komentar atau meninggalkan jejak di buku, supaya kapanpun aku membacanya selalu akan jadi pertama dengan pemaknaan yang berbeda.

      6. Setuju tetapi juga tidak setuju. Sebab aku pernah menemukan orang-orang yang telah sampai pada kesempurnaan pengendalian diri, paling tidak kedewasaan telah mampu merekah raih.

        Bukan menumbuhkan, tetapi seakan-akan menemukan sebuah irisan, sehingga hati dan jiwa terpanggil untuk membersamainya.

        Oh begitu… tetapi ijinkanlah aku menanyakan ini, seberapa banyak buku yang pernah kamu baca ulang, dari 100 buku berapakah yang sering dibaca ulang? Baiklah katakanlah 90-nya sering dibaca ulang, apakah pembacaannya masih sama, sebagaimana membaca pertama kali setelah bertambahnya sekian banyak referensi? Satu contoh pengalamanku, aku baru bisa mengerti arti Sisifus setelah menemukan Mersault hanya merindukan matahari selama dipenjara. Aku baru menemukan arti Guillotine dan bagaimana sebenarnya kekacauan mesin pembunuh itu dalam sebuah hukuman setelah membaca Rebellion.

      7. Ah. Sebuah kedewasaan ya. Kukira pengendalian dirinya akan setinggi transendensi di piramida kebutuhan Maslow.
        Seperti menemukan kalimat atau bagian yang tepat untuk membersamai suasana hati?
        Tidak akan pernah sama seperti pertama kali. Hanya saja aku menyukai kebebasan untuk tidak terikat dengan pemahaman atau pemaknaan yang aku dapat ketika pertama kali membaca. Aku pernah menuliskan sebuah komentar di buku-bukuku, lalu aku merasa itu begitu mengganggu dan membuatku berpikir-berpikir tentang apa yang sedang aku pikirkan saat membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Mengapa Dialog dan Komunikasi dengan Buku Membuat Kegiatan Membaca Menjadi Lebih Asyik?

Mon Nov 16 , 2020
Kemarin telah aku katakan padamu, Amigos, bahwa sebuah dialog baru kemudian muncul menyertai pembacaan yang mana dari dialog itu lahirlah sebuah komunikasi yang hebat. Bukan sekadar dialog imajiner kukira, karena ia telah melibatkan cara berpikir hingga nampak dan memengaruhi suasana hati, melahirkan gagasan dan cara pandang baru untuk melihat dunia. […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: