Sebentuk Keegoisan

10

Sudah sejak lama kusadari jika Point of View (PoV) atau sudut pandang adalah elemen penting dalam suatu karya, terlebih lagi karya tulis. Tetapi baru 6 bulan belakangan ini aku menganggap sangat serius betapa pentingnya PoV dalam menggerakkan sebuah cerita. Sudut pandang yang paling kusukai dalam bercerita adalah sudut pandang orang pertama, sebab ia bisa mengantarkan diriku untuk berdialog dengan diri sendiri. Ia lebih menghujam penuh perasaan ketika aku ingin menumpahkan apa yang aku pikirkan dan rasakan.

Tetapi setelah kupelajari lebih mendalam tentang sudut pandang dalam karya sastra, seperti yang aku temukan dalam epistolary yang ditulis oleh Mario Vargas Llosa dalam suratnya kepada para novelis muda, sebuah karya seni (di dalamnya sebuah novel atau cerpen) adalah karya yang utuh dan terpisah dari si penulisnya. Artinya betapapun subjektifnya karya sastra, ia adalah karya yang terpisah dari diri penulisnya. Sekalipun memakai sudut pandang orang pertama, ia bukan tubuh bahkan sangat jauh dari penulisnya. Kalau istilah Garcia Marquez, ia adalah spektrum yang memiliki jarak tertentu, yang hanya akan terlihat jika dipandang dari kejauhan dari sisi luar naratornya.

Itulah sebabnya mengapa aku merilis tulisan lamaku dalam bentuk e-book yang aku bagikan per-cahpter kepada beberapa teman yang sudah bersedia membacanya. Aku sangat berterimakasih kepada mereka yang sudah bersedia membacanya. Sebetulnya itu adalah sebentuk keegoisan yang ingin aku buang. Tulisan itu selalu menjadi penghalangku untuk membuat tulisan lain yang lebih serius—tulisan lain seperti yang aku inginkan. Mudah-mudahan dengan membuang sebentuk keegoisan ini, dadaku menjadi lebih lapang dan pikiranku bisa menyala terang. Terima kasih teman, dan maafkan aku jika setelah membaca tulisan ini kamu jadi merasa seperti keranjang sampah untuk menampung sebentuk keegoisan itu. Mudah-mudahan keikhlasan kalian membacanya mendapatkan manfaat dari tempat lain. Sekali lagi terima kasih banyak ya, teman-temanku. Saya Andy Riyan dari Desa Hujan

jejakandi

10 thoughts on “Sebentuk Keegoisan

  1. Syukurlah kalau menyadari keegoisanmu. Hehehe. Dirimu sendiri lho mas, yg bilang kamu egois. Hehehe. Tulisanmu selalu merujuk banyak penulis, kelihatan kutu buku banget. Nice article.????

    1. Everybody is egoistic, Pak Heri. Hanya kadarnya berbeda-beda, bahkan saya bisa bilang, semua orang seribu kali lebih peduli terhadap dirinya sendiri daripada orang lain.

      Ah itu hanya… mulai terbiasa merujuk kepada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Bahasa Kesunyian

Tue Mar 24 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/sebentuk-keegoisan/ Dingin dan gelap; dingin yang meraba-raba indera perasa dan gelap yang menghalangi kedua mata. Dingin menyerang sekujur tubuhku; gelap tidak hanya membutakan penglihatan tetapi juga perasaan; kepekaan mata hatiku. Sekujur tubuhku yang membeku mematikan tidak hanya simpul-simpul kesadaran, tetapi juga akalku. Aku mati; I think I’m […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: