Membaca Lapar-nya Knut Hamsun dan Mengaitkannya dengan Kiai Hologram-nya Cak Nun

4

Kamu selalu mengeluhkan padatnya pekerjaan sehingga kamu tak punya waktu untuk menulis dan menyelesaikan karyamu. Memangnya berapakah waktu yang kamu butuhkan untuk menghasilkan buku, novel, atau tulisan seperti apa yang diinginkan?

Kamu selalu mengeluhkan suasana yang gaduh, lalu kamu berandai-andai seolah-olah kamu yakin dengan pasti jika kamu memiliki ketenangan kamu akan mampu menyelesaikan karyamu, mengeksekusi ide dengan baik. Apakah kamu yakin jika kamu memiliki semua yang kamu inginkan itu kamu akan mampu menyelesaikan karyamu?

Omong kosong! Tidak cukup tenangkah beberapa waktu yang pernah kamu miliki selama masa pandemi, tidakkah cukup lama kamu hanya berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa? Apakah selama itu kamu bisa menyelesaikan karyamu?

Dalam tulisan ini aku akan menunjukkan sesuatu yang kudapat ketika membaca novel “Lapar” karya Knut Hamsun yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Aku ingin menunjukkan apa yang aku baca pada bagian keempat, dari hal 227 s/d 233. Selain itu aku juga akan menghubungkan dengan ingatanku pada Cak Nun, yang berjudul “Kiai Hologram”. Sebuah buku yang sangat bagus dan inspirasional. Bisa dibilang, menurutku sampai saat ini, itu adalah buku terbaik yang ditulis oleh Cak Nun.

Pada Novel Hamsun bagian keempat itu, pertama-tama ia melukiskan sebuah musim dingin yang buruk, buruk dalam artian suasananya begitu mendukung untuk bermalas-malasan dan berdiam diri di suatu tempat. Keadaan yang begitu mendamaikan, suasana yang tepat jika ingin digunakan untuk menulis dengan damai tanpa gangguan.

Tokoh yang digambarkan di sana—aku lupa namanya dan lagi males membuka halaman awal—telah menginap di sebuah pondok selama tiga minggu-an tanpa melakukan apa-apa. Ia berharap dapat segera menulis dan mendapatkan rejeki atau uang yang dihasilkan dari menulis sebuah artikel untuk membiayai penginapannya. Ia sendiri adalah orang yang miskin dan tak punya uang. Tetapi meskipun begitu ia tidak terganggu selama tiga minggu itu sebab, induk semang pun sedang berbaik hati, ia tidak menagih tunggakan hutang dan biaya sewa kos-kosannya. Ia bahkan tidak kelaparan seperti sebelumnya. Dalam bab-bab yang sudah lewat, diceritakan bahwa penulis ini selalu kelaparan sehingga ia merasa lemah dan tak cukup tenaga untuk menulis. Sekarang ia dalam keadaan mampu menulis secara fisik karena induk semangnya selalu memberinya makanan selama tiga minggu itu. Induk semangya juga dengan suasana gembira menyediakan apa yang dibutuhkan oleh si tokoh—pada bagian ini aku masih lupa siapa nama tokoh ini, mau melacaknya kejauhan jadi males—. Induk semang si tokoh ini memberikan perlakuan yang baik agar anak yang ngekos, yang diketahui pekerjaannya adalah penulis artikel, berharap agar ia segera menuliskannya dan mendapatkan uang, sehingga induk semang pun dibayar. Mula-mula si penulis nyaman dengan keadaan itu kemudian setelah tiga minggu berlalu tanpa pernah ditagih, kebaikan induk semang ini membuatnya tidak nyaman.

Pada situasi ini, si tokoh sedang mengalami writing block. Semula ia mengira, ia dapat menulis jika dalam keadaan tenang, tetapi ternyata ketenangan tak membantunya. Ia kemudian terus-menerus dirundung gelisah. Kegelisahannya pun semakin menjadi-jadi karena ia tak kunjung mendapatkan ilham. Ia mengutuki keadaan yang membuatnya putus asa. Sebab, ia hanya menggantungkan diri pada pekerjaannya sebagai penulis.

Dalam narasi ini penulis menggambarkan, bahwa si tokoh begitu yakin ia memiliki sebuah ide yang sangat hebat, yang jika dieksekusi akan menjadi tulisan yang sangat monumental dan kuat yang akan bernilai sangat mahal.

Mari beralih sudut pandang sebentar.

Menulis tidak selalu bergantung pada ketenangan. Aku pernah beranggapan, bahwa aku akan mampu menyelesaikan novelku—aku sudah memiliki tiga konsep novel. Semuanya sudah jelas—tetapi kenyataanya sampai saat ini aku tidak mampu menyelesaikannya seperti yang aku inginkan. Aku pun kemudian menyalahkan waktu dan ketenangan yang tidak kumiliki. Tetapi setelah kuingat-ingat, nyatanya selama pandemi ini… Ketika dulu awal-awal lockdown, aku memiliki banyak waktu yang bisa kumanfaatkan untuk—minimal—menulis draft pertama secara utuh. Aku hanya masuk ke kantor dua kali seminggu, tetapi kenyataannya aku tidak bisa menyelesaikan satu pun novelku.

Berapa lama kah waktu yang aku butuhkan untuk menyelesaikan novel? Kondisi seperti apakah yang bisa membuatmu mampu menyelesaikannya?

Ia bukan soal waktu dan bukan soal kondisi tetapi soal kekuatan dan komitmen untuk menyelesaikannya bukan penyangkalan terhadap alasan. Terlalu lembek dan tidak keras terhadap diri sendiri, seringkali membuatmu gagal.

Dan sampai hari ini mungkin aku tidak pernah keras terhadap diri sendiri, sehingga aku tidak pernah berhasil menjadi penulis. Makanya aku sekarang berhenti bermimpi menjadi penulis. Sebab seperti yang sudah aku kemukakan pada postingan sebelum ini, bahwa menjadi penulis adalah panggilan jiwa bukan sebuah obsesi atau pun ambisi.  Sebab, pada kenyatannya selalu begitu, itu bukan masalah membagi waktu dan bukan masalah ketenangan. Aku memiliki ketenangan dan waktu yang cukup selama lockdown pada pandemi beberapa bulan yang lalu. Namun  toh aku sama sekali tak bisa menyelesaikan tiga konsep novelku yang sudah begitu jelas itu. Aku sudah memiliki novel dalam kepalaku, dan aku sudah membacanya berkali-kali dalam kepalaku, tetapi aku sama seklai belum memilikinya dalam tulisan. Itulah mengapa aku sekarang berhenti saja bermimpi menjadi penulis. Terlalu membuang-buang waktu.

Kembali ke novel Lapar karya Hamsun. Dalam bab keempat itu, penulis melalui si tokoh telah menyiratkan bahwa seseorang, kadang sangat begitu yakin ia akan mampu menyelesaikan pekerjaannya—menulis artikel—dan menulis yang lain-lain jika ia memiliki kondisi idelanya: waktu dan ketenangan. Kenyataannya setelah semua kenyamanan itu didaptakan, berpakah dari kita yang benar-benar mampu menyelesaikannya? Aku sih ternyata sama sekali tidak bisa menyelesaikannya, bahkan menjadi merasa kesal dan marah terhadap diri-sendiri, sebab sampai akhirnya masa tenang dan masa damai dengan banyak waktu yang kumiliki akhirnya usai dengan sia-sia. Keadaan yang sama persis yang ditunjukkan oleh penulis melalui tokoh utamanya dalam novel ini.

Pada bagian ini kemudian terungkapkan bahwa ia kemudian menyadari kelemahan dirinya lalu mulai menyalahkan hal-hal lain. Ia menyalahkan kemampuan otaknya yang tak mampu bekrja dengan sungguh-sungguh—ini bedanya aku dan si tokoh, aku tidak pernah menyalahkan otakku. Tetapi kenyataan ini pun kemudian ditepisnya sendiri. Diperlihatkanlah sebuah paradoks, si tokoh ini ternyata mampu melihat dengan jelas bahwa tidak ada kesalahan dalam hitung-hitungan pada tagihannya, ia bisa menghitung semua tagihan dan pengeluaranya, mampu berpikir logis dan matematis menjumlahkan dan mengalikan bilangan-bilangan dengan sangat baik. Itu merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa otaknya pun masih bekerja.

Pada adegan berikutnya induk semang si tokoh sudah terdesak dan membutuhkan uang, ia meminta si tokoh untuk segera membayar biaya kos-kosan dan tagihan lainnya. Pada situasi ini, si tokoh mulai merasa artikel yang diidam-idamkan dalam kepalanya adalah satu-satunya penyelamat yang telah ia abaikan berminggu-minggu itu. Ia lalu menyesalkan waktu yang telah dibuang dengan sia-sia, waktu yang seharunya dapat menyelamatkannya untuk menulis banyak artikel dan mendapatkan uang itu telah lenyap. Ia menjadi marah dan hal itu menunjukkan betapa ia adalah seorang pecundang. Orang-orang ini persis sekali seperti para pencundang, ya orang-orang seperti aku, suka membuat alibi dan mengasihani diri sendiri, membela diri yang tidak perlu:

“Anda sangka begitu,” teriaknya dengan meledak-ledak ketika ia dituduh bahwa ia nyatanya tidak akan pernah menyelesaikan artikel seperti yang telah dijanjikan dulu sekali. “Anda sangka begitu? Siapa tahu, besok aku mendapatkan ilham, atau malahan malam ini juga! Sama sekali tidak mustahil bahwa aku disambar ilham nanti malam, kalau begitu artikelku akan selesai dalam seperempat jam. Mengertikah Anda, menulis itu bukan suatu pekerjaan yang sama dengan pekerjaan orang lain, aku tidak dapat duduk saja lalu menelorkan banyak tulisan setiap hari, aku harus menunggu saatnya saja. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengatakan pada hari atau jam apa ilham itu datang, harus dipasarahkan.”

Kita bisa melihatnya, dalam kemarahan itu, ia menceramahi orang lain, kemudian mengklaim bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan khusus yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang. Sungguh alasan khas pecundang-pencundang yang tak berguna. Kalimat-kalimat itu menunjukkan suatu alasan kelemahan yang ia selalu sangkal dan ia jadikan tameng untuk mengakui dirinya tak berguna. Seorang pecundang sejati, yang terus menerus memupuk omong kosong “menunggu ilham’ itu.

Bagaimana keberlanjutan kisah ini? Bisa baca saja sendiri.

Apa yang aku tangkap dari novel ini? Sebenarnya otak selalu bekerja. Ilham selalu muncul setiap saat, selama otak bekerja itulah isi dalam kepalanya yang mestinya ia hargai. Apa pun yang ada dalam pikiranmu itulah yang paling bernilai. Kita sering melupakan pikiran-pikiran itu karena menginginkan ilham yang lain, menunggu sesuatu yang tidak datang, seperti kata peribahasa, “Mengharapkan burung yang terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.” Punai adalah burung-burung yang memiliki warna-warna yang sangat indah, yang selalu terbang dengan kelompoknya dalam sekuadron. Punai yang terbang biasanya ditangkap dengan umpan, yaitu punai lain yang dilepaskan sebagai jebakan. Itulah perjudian yang tidak selalu menguntungkan. Bukannya mendapatkan burung-burug yang terbang tinggi, burung yang sudah ditangan malah dilepaskan. Atau kalau mau menggunakan peribahasa yang lain, “Hanya karena mendengar gemuruh, kemudian mengharapkan hujan, sementara air di tempayan ditumpahkan.”

Lalu apa hubungannya novel Lapar-nya Hamsun dengan Kiai Hologram-nya Cak-Nun?

Marilah beralih pada buku ini. Aku ceritakan kronologisnya.

Pada paragraf pertama buku ini—Kiai Hologram—ditunjukkan dengan begitu jelas suatu alasan mengapa, menurut pandanganku, Cak Nun telah menjelma menjadi penulis yang paling produktif nomor satu di Indonesia. Penulis esai tercepat… yang tulisan-tulisannya sangat berbobot dan memiliki muatan nilai yang sangat dalam dan luas. Tidak heran mengapa Cak Nun dikenal sebagai seorang pemikir yang telah melampui zaman. Semua alasan yang menjadikan Cak Nun begitu luar biasa itu termuat dalam paragraf pertama buku ini: “Sepanjang dititipi tulisan, aku memberikannya kepada siapa saja yang mau. Tidak ada tujuan untuk “dimuat di media” sebagaimana dulu. Juga tidak dalam rangka “menjalani profesi sebagai penulis”. Hidupku nir-profesi.

Pada paragraf selanjutnya Cak Nun mengungkapkan rasa syukur kepada Allah yang telah menganugrahkan kehidupan yang merdeka kepada beliau. Rasa syukur itu kemudian beliau manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa setelah beliau memiliki kehidupan yang merdeka, beliau ingin memerdekakan yang lainnya. Tidak heran jika kemudian beliau dengan sangat jelas mampu melihat keadaan sekitar, kondisi sosial dan keadaan bangsa Indonesia. Sehingga dengan terbebasnya beliau dari keinginan agar tulisannya dapat dimuat di media, beliau justru mampu melejit dan menjadi sangat produktif. Tak diragukan lagi, banyak esais yang mengakui kalau mereka tertinggal jauh dengan Cak Nun. Cak Nun adalah esais tercepat dan terproduktif nomor satu di Indonesia. Belum adalah yang mengalahkannya.

Dapat dilihat dalam buku “Lapar” betapa Knut Hamsun mampu menunjukkan sebab-sebab struggling-nya manusia yang ingin menulis selalu terkedala dan mengalami berbagai cobaan sehingga sulit menghasilkan tulisan. Hal itu senada dengan apa yang ditunjukkan, melalu kontradiksi, oleh Cak Nun dalam Kiai Hologram.

Saya Andy Riyan dari Desa Hujan

jejakandi

4 thoughts on “Membaca Lapar-nya Knut Hamsun dan Mengaitkannya dengan Kiai Hologram-nya Cak Nun

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Bau Familier Itu Ampo Namanya

Wed Nov 4 , 2020
Semua orang mulai ramai-ramai menyebutnya sebagai bau Petrikor setelah membaca buku Aroma Karsa untuk mendeskripsikan tentang bau yang muncul ketika saat-saat hujan sedang datang. Aku yang mempunyai pengalaman pribadi soal mendeteksi bau ini tidak ingin menyebut hal yang sama. Aku pun mencari istilah yang tepat untuk mendeskripsikan bau-bauan ini, karena […]
Bau Familier Itu Ampo Namanya

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: