Membaca buku “dari Buku ke Buku”: Pengalaman Membaca yang Asyik!

Halo, apa kabar? Maaf kalau pada tulisan ini saya langsung to the point, basa-basinya lain kali saja, ya. Lagi gak mood basa-basi soalnya hehe. Sekarang saya ingin menceritakan tentang pegalaman saya ketika saya pertama kali membaca buku “dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu” karya Polycarpus Swantoro.

Hari ini kiriman buku yang sudah aku idam-idamkan sejak lama, sejak sekitar dua bulan yang lalu, itu datang melalui seorang kurir yang sudah sangat hafal dengan rumahku. Buku, yang aku beli di sebuah market place online, itu aku pesan karena sebelumnya aku sangat penasaran setelah membaca bukunya Muhidin M Dahlan, “Inilah Resensi”, atau “Inikah Esai (?), ah yang mana ya… lupa. Pokoknya aku penasaran setelah membaca satu di antara dua buku itu. Tepat seperti dugaanku, buku ini berisi kumpulan resensi buku oleh penulisnya.

Apa yang membuat buku ini menarik? Buku ini diceritakan oleh seorang yang berpengalaman sebagai wartawan dan penggila buku, yang—tidak secara kebetulan—juga memiliki akses buku yang sangat luas. Selain itu, buku ini menjadi sangat enak dibaca karena disajikan dengan gaya bercerita khas cerita kakek ke cucu-cucunya. Rasanya aku seperti kembali kepada suatu massa ketika aku duduk bersama Si Mbah Kakung ataupun Mbah Putri untuk mendengarkan mereka bercerita. Kira-kira seperti itulah kesan pertama saya ketika saya membaca buku ini.

Apa yang aku dapat dari buku ini? Susah juga untuk menyampaikannya secara ringkas, karena setiap paragraf dan setiap katanya selalu menarik, rasanya ingin aku kutip semua… tetapi jelas itu tidak mungkin. Makanya paling gampang kalau membicarakan buku, ya membicarakan pengalaman membacanya saja hehehe.

Buku ini sangat bagus, sehingga aku bahkan tidak bisa berkomentar apa-apa selain ingin menikmati saja. Barangkali suatu hari nanti ingatan ini akan tetap tersimpan, sebagaimana penulisnya sendiri mengisahkannya bahwa buku ini lahir berawal dari ingatannya tentang sebuah buku yang memiliki halaman berwarna, halaman-halaman bergambar berbagai perisai lambang-lambang kota pada zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Pengalaman pembacaan buku ini menjadi unik, sebab penulinya pun bisa memaparkan sebuah cerita melalui sebuah gambar yang diingatnya itu. Bermula dari gambar ia menceritakan simbol-simbol dan arti dibalik lambang berwarna. Misalnya, ia bercerita tentang lambang-lambang singa emas, merupakan lambang Belanda, padahal toh di Belanda tidak ada Singa, kecuali mungkin di kebun binatang. Melalui lambang itu pula, ia bercerita bahwa lambang gadis bergaun putih itu merupakan sebuah lambang semangat perlawanan rakyat Hindia kepada Pangeran Diponegoro yang telah memproklamasikan diri menjadi raja seluruh Jawa. Selain itu, melalui gaya berceritanya yang mengalir, tanpa memberi kesan menjenuhkan, ia mampu menyangkutpautkan lambang dan peristiwa dengan berbagai tokoh penting dari pemerintah kolonial yang pernah menguasai Hindia Belanda. Tak hanya sampai di situ saja, penulis juga mencantumkan buku-buku yang dibacanya, halaman berapa, terbitan mana tahun berpa…, lengkap! Kesan pertama… Asik!

“Sejarawan berurusan dengan masa lalu, tetapi relevansi masa lalu itu ditarik pula untuk masa kini dan masa depan.”

Pengantar dari Jakoeb Oetama untuk buku ini. Hal. Xvii

Sekian, mudah-mudahan kedepan aku bisa menceritakan lebih banyak tentang buku ini. Heuheuheu… saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

jejakandi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Sebuah Jurnal: Musuh Baru Bagi Kegiatan Menulisku

Fri Oct 30 , 2020
Aku sekarang sedang berada dalam persimpangan sejarah yang baru di dalam aktivitas menulisku: ada masalah baru yang sedang kuhadapi. Kalau soal terganggu karena hape dan karena keributan yang berada di luar sana, dilewati saja, karena masalah itu solusinya cuma enyahkan saja mereka. Aku sedang tidak berbicara soal itu dalam pembahasan […]
Sebuah Jurnal: Musuh Baru Bagi Kegiatan Menulisku

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: