Mawar Paracelsus dan Tujuan Yang Berselaput Misteri

8

“Setiap langkah yang kau ambil adalah tujuan yang kau cari.”

Adalah sebuah kutipan kalimat, dalam cerpen Mawar Paracelsus, yang saya temukan di buku kumpulan cerpen Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina oleh penulis kenamaan Jorge Luis Borges. Kumpulan cerpen yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan sangat baik (5/5) oleh Lutfi Mardiansyah ini dibukukan oleh penerbit Cantrik.

Tersebutlah Paracelsus seorang alkemis, yang dikira oleh banyak orang dari seantreo negeri sebagai Orang Sakti yang bisa mengubah apa pun menjadi emas hanya dengan batu ajaib dan jampi-jampi mantera laiknya pesulap. Batu, mengapa harus batu, di mana-mana dalam khazanah sastra, selalu menjadi premis cerita yang menarik. Entah bagaimana cerita tentang mengubah benda menjadi emas dengan batu dan jampi-jampi—yang tak pernah terjelaskan dalam bahasa apa—itu, seringkali disinggung di dunia sastra. Di The Alchemist yang ditulis oleh Paulo Celho misalnya; beberapa kali juga pernah di singgung oleh Gracia Marquez. Aku tidak mengerti ada kegilaan apa dengan sang alkemis dan Batu Bertuah itu, mengapa ia selalu saja muncul dalam khazanah sastra.

Setiap langkah yang kau ambil adalah tujuan yang kau cari. Ia seperti sebuah mutu manikam dari orang-orang bijak yang menemukan orang-orang sepertimu dalam kegelapan dunia. Kutipan itu menjadi berharga, setelah orang-orang sepertimu memahami bahwa tujuan seringkali berlapis dan berselaput misteri. Seperti halnya ketika kau memimpikan untuk sampai di suatu tempat setelah membuka pintu pertama, dan pada akhirnya kau menyadari tempat itu ternyata bukan tujuan sejati karena terdapat banyak pintu di dalamnya. Mereka menemukan lagi tujuan-tujuan di pintu-pintu berikutnya, tujuan selalu membingungkan seperti labirin berselaput misteri. Kadang terbesit dalam benak, mengapa tak langsung saja menuju titik terakhir atau pintu final, melainkan harus berputar dari titik menuju titik lain seolah-oleh harus melewati sebaran titik diskret yang acak di alam semesta, seolah dalam satu ruang segi enam dalam sarang tawon menuju pintu-pintu lain, tak pernah sampai di ujungnya. Padahal bisa jadi pintu terakhir adalah menjuju titik kembali pada awal semula, lalu mengapa harus seperti Santiago yang melakukan perjalanan mengembara sampai Mesir hanya untuk tahu yang sesungguhnya ia cari tersembunyi di bawah alas tempat tidurnya, tempat awal semua ia bermimpi? Atau seperti halnya perjalanan kita ketika mendaki sebuah gunung. Seakan akan puncak adalah tujuan itu. Pada akhirnya begitu sampai di puncak, tak pernah berlama-lama di sana, sialnya lagi toh harus buru-buru langsung turun; lebih parah lagi harus segera pulang. Padahal kau tahu, perjalanan menuruni gunung selalu lebih berat dari pada naiknya.

Setiap langkah yang kau ambil adalah tujuan yang kau cari. Kalimat ini sungguh menarik meski aku belum menemukan satu bentuk yang hidup dalam hari-hariku. Tetapi semenjak judul buku Hidup Bermakna telah tertulis, dengan apa saja yang terpenting dalam hidupku, yang lebih penting adalah yang saat ini sedang terjadi dan apa yang akan menjadikan hidup ini menjadi lebih bermakna adalah selalu memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan. Ya arti lain dari hidup bermakna selain menikmati dan mengerjakan apa yang bisa dilakukan pada saat ini, di mana semua kemewahan adalah dapat melakukan apa saja yang hari ini bisa dilakukan; tidak hanya mengangankan saja, terlebih lagi menyesali yang telah terjadi; adalah selalu memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan.

Setiap langkah yang kau ambil adalah tujuan yang kau cari. Meski betapa membingungkannya labirin sarang tawon, betapa random-nya sebaran diskret, setiap langkah yang aku ambil memang itulah tujuan yang aku cari. Aku memimpikannya untuk pada suatu tahap-tahap tertentu, tidak peduli betapa melelahkannya cermin dan pintu yang ada. Tidak peduli langit yang berlapis-lapis dan mimpi yang timbul tenggelam, apa yang aku jalani, yang aku alami, yang aku tekuni sepanjang perjalanan ini, itu adalah tujuan yang aku cari. Aku tidak bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi hari ini hanyalah sekedar melewati, meskipun benar pepatah mengatakan, “urip mung mampir ngombe”—hidup cuma mampir minum. Hidup dengan mengarungi luatan tak bertepi dan menapakkan jejak-jejakku, memang harus begitu. Betatapun hidup adalah menjalani ritme buah kesadaran, sekalipun bisa tersederhanakan sebagai urutan aritmetika setelah 1 kemudian 2 dan selanjutnya; tetapi apa yang dilakukan saat ini adalah makna itu sendiri. Seperti pertanyaan yang terus bergema di dalam kepala, “Mengapa aku menulis saat ini?” Sesederhana jawabannya, karena aku ingin menuliskannya saja, menuangkan apa yang sedang aku pikirkan. Mengapa aku perlu menuangkan apa yang aku pikirkan? Karena itu adalah hal terbaik, hal termewah bagiku yang terbiasa hidup dengan mikir. Dan apa yang kupikirkan adalah sebuah bukti bahwa aku memikirkan sesuatu dalam hidup ini. Meskipun lekat dengan sangat jelas dalam ingatanku untuk mengurangi luka adalah sebagaimana pepatah Master Leo Tolstoy dalam Sevastopol 1854, “… hal yang paling penting adalah bahwa aku tidak memikirkannya sama sekali. Jika Anda tidak memikirkan sesuatu, maka hal itu menjadi tidak berarti. Orang menderita karena berpikir lebih dan lebih daripada yang lainnya.” Namun hal terbaik untuk memaknai hidup ini adalah mencari sesuatu. Apa yang kucari. Adalah tujuan sejati megapa aku melangkah kaki langkah demi langkah dalam hidup. Lalu seperti mengapa aku membaca buku. Karena aku telah membelinya, dan mengapa membelinya, karena rasa sukaku padanya dan memang ingin membacanya. Mengapa ingin membacanya, karena sebuah rasa penasaran, sebuah keingintahuan yang memang ada sejak dari sananya. Apa yang kamu dapatkan setelah penasaran itu akhirnya terobati; puas dan bahagia. Aku senang menjalani hidup yang bermakna yaitu kebahagiaan. Hidup bahagia selalu berharga, meskipun selalu berubah dari hari ke hari. Itu adalah makna paling sejati; perubahan. Dulu aku mungkin bahagia cukup hanya karena bisa bermain layang-layang dan sekarang ini berubah, sesuai dengan kemampuan otakku dan sesuai dengan kemampuan lain dalam pendewasaanku, aku tetap seperti anak kecil dengan rasa ingin tahunya. Jadi aku terus berubah dan terus tetap dalam jalur perubahan itu, maka tetap seiring dengannya bahagia menyertaiku. Amin.

Setiap langkah yang kau ambil adalah tujuan yang kau cari. Pelajaran pertama yang akan kau dapat dari Mawar Paraselsus, sebagai seorang murid, kamu dituntut untuk mempercayai gurunya, segila apapun dia, jika memang kau serius ingin berguru padanya, ingin mendapatkan ilmunya hal pertama yang harus kau lakukan adalah mempercayai gurumu, se-omong kosong apapun dia. Bagaimana ilmu bekerja, itu adalah hal yang sangat rahasia dan ilahiah. Murid yang selalu menuntut kepada guru, dan guru yang selalu memberikan kepada murid yang menuntut itu bukan hubungan yang bagus. Kisah paling jelas adalah sebagaimana kisah yang sampai pada kita yaitu kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidizir itu. Pada akhirnya, Paracelsus sang alkemis sejati, sebenarnya sedang menguji keteguhan hati si Murid. Sang Alkemis selalu berdo’a setiap malam agar datang kepadanya seorang murid, namun begitu seorang murid itu datang ia tidak semerta-merta menerimanya bagaikan anugrah. Paracelsus adalah contoh sejati guru yang sangat berhati-hati. Kesejatian yang diharapkannya sebagai seorang guru akan melindungi apa yang diketahui dari kesewenang-wenangan ilmu, yang akan didapatkan kelak oleh muridnya. Jika tidak menemukan kesejatian itu, maka sudah pasti murid akan menyalahgunakan ilmu itu. Kisah terbaik hubungan guru dan murid adalah sebagaimana kisah Raden Mas Sahid, kesungguhnnya itu akhirnya mendapatkan hasil yang gemilang; diangkat menjadi murid Sunan Bonang dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

jejakandi

8 thoughts on “Mawar Paracelsus dan Tujuan Yang Berselaput Misteri

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Yang Datang Sore Ini

Sun Feb 2 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/mawar-paracelsus-dan-tujuan-yang-berselaput-misteri/ Cuma dengan uang Rp150.000,00 bisa mendapatkan 5 eksemplar buku, siapa sih yang tidak mau? Ya banyak! Betul… tetep banyak sih yang tidak mau karena itu masih kemahalan. Tetapi bagi saya, itu bisa dibilang murah apalagi 3 di antara 5 buku tersebut adalah buku incaranku sejak lama. […]
Yang Datang Sore Ini

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: