Matahari dan Hujan

3

Hujan jatuh begitu deras di Desa Hujan, pagi tadi, sepertinya hujan memang mengguyur secara merata di semua wilayah Temanggung. Dingin terasa menggigit kulit, meski sempat terhambat, nyatanya jam setengah sepuluh aku sudah berada di kantor, sendirian dan kedinginan. Pagi itu aku sempat ragu untuk pergi, kerjaan memang bisa dikerjakan di rumah, masih work from home, tetapi ketakberdayaan dan ketidakproduktifan yang tiba-tiba menyiksaku di pagi hari, yang serasa seperti jam setengah enam sore, mengantarku menembus kabut sepanjang 10 Km.

Beberapa jam kemudian, rekan kerjaku muncul dengan tingkah sangat waspada. Ia patut waspada, memang, dan tentu saja sedikit cemas karena Covid-19, sekarang, telah menjadi terror yang sangat serius; telah merambah ke wilayah jelajahnya. Ia kemudian bercerita dan menunjukkan padaku banyak fakta, kesimpulanku, pemahaman pemudik dari berbagai luar wilayah bisa dibilang sangat rendah.

Setelah sebulan lebih wilayah kami bertahan pada zona hijau tiba-tiba saja menjadi zona merah, padahal kami telah begitu gigih melawan kebosanan sejak karantina wilayah diberlakukan. Bosannya tetep gak hilang, eh kecolongan juga.

Di hari-hari ketika zona masih hijau bahkan ketika sudah kuning pun, aku sempat optimis karena sangat yakin kekuatan Bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman dan bahaya krisis terletak pada jumlah penduduknya yang sangat besar dan mayoritas tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian yang masih selalu berputar. Sementara kemarin saja masih terpantau olehku kemampuan dan daya beli masyarkat masih stabil dan terjaga. Pagi tadi tidak ada yang keluar rumah—hujan badai. Ketika wilayah kami menjadi zona merah, perlahan-lahan sektor ini mulai terdampak, setidaknya begitulah yang kudengar dari rekan kerjaku yang datang belakangan lagi menyusul kami.

Keresahan dalam selimut hujan itu membuatku jadi teringat akan suatu pagi yang indah. Matahari hangat menyinari Desa Hujan. Sinar kuning keemasannya merebak ke seluruh ufuk bumi hingga menembus celah-celah hutan cemara di bawah mega-mega yang sewarna kapas; putih, lembut dan empuk. Sesekali terdengar kokok ayam jantan dan kicau burung ikut menyemarkkan pagi yang telah riuh. Di perempatan jalan di depan rumah, terlihat aktivitas warga masyarakat yang tetap berjalan normal. Para petani dan pekebun berlalu-lalang berangkat sendiri-sendiri menuju ladang dan kebun mereka masing-masing; ada yang berjalan kaki dan ada juga yang menunggangi motornya. Para penjual kebutuhan pokok masih ramai silih berganti; masih menjadi penunjang dan penggerak ekonomi yang paling kuat, meskipun telah diberlakukan pembatasan jam operasional pasar.

Berlakunya pembatasan jam operasional pasar tidak semerta-merta membuat sektor ekonomi menjadi lesu dan semangat berhenti. Semua warga terutama ibu-ibu masih sangat antusias berbelanja dan tetap bergairah menghidupkan bumi Desa Hujan di tengah pandemi yang mewabah di seluruh dunia ini. Tak terlewat oleh pengamatanku, bapak-bapak dan semua tulang punggung keluarga masih semangat mengais rejeki. Mereka paham betul mana yang lebih penting, hidup penuh rasa khawatir karena virus atau khawatir tidak terpenuhinya kebutuhan pokok? Ternyata mereka tidak mengkhawatirkan apa pun, mereka lebih peduli dengan kebahagiaan keluraga dan masyarakat mereka. Hebat! Hebat betul orang-orang lugu dan awam ini, sungguh mereka tidak tahu bahwa mereka telah menyelamatkan bangsa.

Ya desa adalah penyelamat bangsa.

Kekuatan bangsa Indonesia pada masa-masa, yang katanya genting, ini adalah pada penduduknya yang sangat besar dan mayoritas bermukim di pedesaan. Sungguh pembuat kebijakan atau masyarakat intelek mana pun belum akan dikatakan intelek jika tidak melihat betapa kekuatan sesungguhnya adalah berada di pedesaan; Desa Hujan salah satunya di antara tak terhitung jutaan desa di seluruh negeri Indonesia. Sungguh aku akan mencibir paling lantang kepada semua orang yang meremehkan kekuatan desa apalagi di tengah pandemi ini. Memang desa seringkali dipandang sebelah mata; kampungan, awam dan tidak intelek. Tapi biarlah… biarpun begitu mereka tetaplah garda terdepan penyelamat bangsa.

Jika garda terdepan penyelamat bangsa ini dirusak; kedamaiannya diusik dan keselamatannya tidak dijaga, niscaya runtuhlah negeri ini. Semoga setelah alarm merah ini berbunyi nyaring, kesadaran untuk saling menjaga, kesadaran untuk karantina mandiri dan kesadaran untuk selalu mematuhi protokol pencegahan novel corona virus disease terbangun dengan kuat.

Pandemi sedang merebak di seluruh dunia, beberapa negara telah memberlakukan status lockdown total. Event besar seperti Games of The XXXII Olympiad atau lebih gampang kalau disebut sebagai olimpiade Tokyo pun ditunda; diundur hingga tahun depan; Juli 2021. Liga champion, liga inggris dan liga liga besar Eropa ditunda dan kemungkinan besar juga akan dibatalkan; entah Liverpool akan dinobatkan menjadi juara atau tidak. Ah kasian banget Liverpool ini, sudah 30 tahun tidak juara, tinggal dua match lagi untuk mengakhiri kutukan, eh corona, duh kasian. Anekdot paling lucu dan kejam pun sempat tersiar; karena Liverpool sulit dihentikan, di bursa musim dingin Januari lalu, MU mendatangkan Idion Ighalo dari China dan terjadilah lockdown, ha ha ha!

Terakhir kudengar negara-negara tetangga tengah berfokus untuk memutus mata rantai dan menjaga kestabilan agar tidak terjadi krisis. Sementara yang terjadi di negeri ini sungguh membingungkan. Seluruh aktivitas sudah banyak yang ditunda, pertemuan-pertemuan besar, acara-acara pernikahan banyak dibatalkan. Sendi kehidupan yang berbasis layanan publik dan pendidikan sudah dilakukan secara daring, namun aneh bin ajaib DPR masih terus mendesak untuk segera merampungkan omnibus law yang masih ghaib itu, bahkan dilakukan seperti cara dakwah Nabi pada periode Mekah yang pertama; sembunyi-sembunyi. Jika omnibus law memang akan menjadi undang-undang sapu jagad tentunya harus disosialisasikan kepada publik secara luas, namun alangkah baiknya ketika negara sedang menghadapi darurat Corona ini, semestinya pemerintah dan DPR menunda dulu agenda tersebut dan mengedepankan sense of crisis, lebih kurang begitulah yang kubaca dari surat kabar. Carut-marut dan ketidakjelasan kebijakan yang diberlakukan membuat publik menjadi gelisah, sehingga yang tampak di mata dan media-media, sekarang ini, adalah kekacauan. Enggak tahu sekarang kabarnya gimana!

“Pemerintah diminta tegas!” Seketika muncul dibenakku, berarti selama ini pemerintah belum bertindak secara tegas dalam menghadapi pandemi ini, masalah mudik misalnya. Banyak daerah-daerah di Indonesia yang mengalami keterbatasan tenaga, alat dan anggaran medis. Katanya pemerintah sudah menambah dana sampai Rp405,1 triliun. Tetapi tetap saja masih terjadi ketimpangan dan kebelum siapan dalam menghadapi arus mudik yang selalu terjadi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Ketidaktegasan ini membuat masyarakat bingung dengan boleh dan tidaknya mudik. Jika boleh pemerintah harus segera memberikan bantuan dan menyiapkan infrastruktur medis untuk menanggulangi pandemi di seluruh daerah. Karena skenario terburuk jika pemerintah tidak tegas, akan terjadi arus mudik paling tidak mencapai 18% dari seluruh total pemudik tahun ini. Akibatnya rumah sakit akan jebol dan kaum petani yang akan terdampak wabah ini. Padahal sekali lagi petani dan pedesaan adalah garda terdepan dalam ketahanan pangan dan penarik roda ekonomi dalam menghadapi badai yang dahsyat ini.

Kami, orang-orang seperti saya dan seperti kalian, tahu bahwa lockdown atau karantina wilayah yang diberlakukan sejak beberapa hari yang lalu dilakukan pemerintah negeri ini sejatinya bermaksud baik, yaitu untuk memutus rantai penularan pandemi novel corona virus disease 19— namun karena kebijakan itu tidak betul-betul dapat dipahami oleh publik sehingga menyebabkan sedikit kelucuan. Kata Lucas peraih nobel 1995 “Kebijakan publik sering mengasumsiskan publik sebagai pelaku pasif. Pola pikir ini harus diubah karena publik juga pelaku ekonomi aktif.” Kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan karantina wilayah yang tidak benar-benar dipahami tersebut kemudian menimbulkan banyak reaksi dari publik. Seperti yang kita temui banyak tempat-tempat di desa dan komplek-komplek perumahan tiba-tiba memberlakukan akses jalan satu pintu dan dijaga ketat. Pada minggu pertama situasi ini benar-benar mencekam dan heboh. Masyarakat benar-benar seakan dibuat bertanya apa dan mengapa dan apa yang akan terjadi. Seluruh elemen masyarakat pun terlibat aktif dalam pola ini, bersama-sama mencegah pandemi dengan pengetahuan seadanya. Tetapi minggu kedua, ketiga dan selanjutnya pos-pos sudah mulai lesu; semula setiap orang yang lewat harus disemprot, sekarang dibiarkn saja lewat karena memang betul tidak tahu akan sampai kapan kegiatan ini. Bahkan pos-pos ada yang sudah mulai ditingglkan dan jalan kembali dibuka.

Sialnya kebijakan yang menimbulkan reaksi yang mungkin tak pernah disangka-sangka sebelumnya oleh pemerintah tersebut, menimbulkan masalah baru; masalah persepsi bahwa seluruh aktivitas diberhentikan total, tidak boleh ada lalulintas manusia dan lalu lintas barang, sehingga rantai ekonomi pun sempat terguncang. Pasokan terhenti; terjadi kelangkaan dan kenaikan harga barang. Tetapi beruntunglah kita, harga barang-barang kebutuhan pokok masih stabil, tidak seperti yang terjadi di India. Karena kendala pada sirkulasi kebutuhan pokok ini tidak terjadi di desa-desa; roda ekonomi masih berputar dengan lancar; tidak terjadi krisis.

Menyadari bahwa publik juga pelaku ekonomi aktif, pemerintah harus berhati-hati dalam menyusun kalimat kebijakan. Maka disusunlah kalimat PSBB (Pembatasan sosial bersekala besar) untuk memutus rantai pandemi. Telah diberlakukan pengurangan dan pembatasan aktivitas dengan masif. Meskipun pembatsan dalam sekala besar namun tidak ditutup secara total seperti pemahaman ketika muncul lockdown. Sehingga masih memungkinkan bagi masyarakat untuk mencari rezeki dan memutar roda ekonomi. Ironisnya PSBB tidak dijalankan secara tegas.

Tetapi setelah siang tadi kudengar dari rekan kerjaku, petani cabai dan peternak ayam mengalami kebangkrutan, aku tidak tahu model sirkulasi ekonomi ini akan bertahan sampai kapan.

Sekarang yang lebih gila… wilayah kami yang biasanya aman-aman saja, tiba-tiba saja marak akan kejadian penjambretan. Sudah ada sekitar 8 kasus penjambretan yang terjadi di pagi hari. Bahkan kabar terakhir terjadi perampokan terhadap penjaga malam. Gila kan? Penjaganya dirampok! Ditodong menggunakan senjata oleh beberapa orang. Krisis biasanya ditandai dengan maraknya kejahatan yang terang-teranagan. Aku tidak tahu, maraknya kejahatan ini adalah efek dari dibebaskannya banyak narapidana atau sebab lain.

Desa Hujan sekarang begitu lengang, bahkan suara-suara dari binatang malam pun, tidak seperti biasanya, enggan menyapa, sunyi sekali. Aku akan mengusir kesunyian malam ini dengan mengambil buku Farewell to Arm dan menyelaminya. Besok para pemuda akan turun jalan lagi, menyemprotkan disinfektan dan akan memperketat pos penjagaan. Saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

jejakandi

3 thoughts on “Matahari dan Hujan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Duel Seorang Pria Paruh Baya vs Kolonel Yang Berkharisma

Thu Apr 23 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/matahari-dan-hujan/ Kami merasa sangat bahagia di sepanjang musim penghujan itu. Bagaikan sebuah simponi yang ditulis dengan megah, ketika bunyi derai hujan menghentak atap rumah diringi dengan suara hempasan yang jatuh menghantam bebatuan berwarna hitam serupa mutu manikam yang tertanam di teras-teras rumah. Sesekali deru angin mengisi pada […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: