Kunjungan Sore Itu

Beberapa hari yang lalu, saat aku menulis dan mengunggah kesanku terhadap salah satu novel terlaris karya penulis terkenal dari negeri ini, aku merasa ada sesuatu yang tak aku mengerti. Aku masih tak bisa memahaminya, mengapa aku sampai menulis demikian dan membagi buah pikiran yang tak begitu positif itu. Kadang aku berpikir tulisan itu tidak seharusnya dinaikkan, tetapi tetap saja tulisan itu naik—dengan sangat minimalis, aku tidak menautkan link otomatis ke Twitter dan pula tidak menyertakan hashtag.

Tulisan dan pikiran—kegagalanku bagimana seharusnya mengapresiasi karya sastra—itu terus menghantui. Tetapi betapapun keras aku mencoba untuk membuka diri, agar hatiku bisa tersentuh karenanya, ia tetap saja begitu; tak berubah. Sampai pada akhirnya, pada suatu sore di sebuah rumah aku berjumpa lagi dengan seorang bangsawan dari Rusia, Lev Nikolayevich Tolstoy. Perjumpaanku dengannya seketika membuat kepalaku menjadi dingin, padahal udara desa yang berbatasan dengan gurun itu sedang kering-keringnya.

Meskipun dia adalah seorang bangsawan paling penting di Rusia setelah Bangsawan Gereja dan Tsar, ia tinggal di pondok sederhana. Rumah-rumah di desa itu berdiri berjauhan antara satu sama lain dan rumahnya berada di balik gunung yang di puncak-puncaknya, kontras dengan dataran di bawahnya, salju tampak indah terukir di bawah terik matahari.

Kunjunganku hari itu membuatku teringat dengan perjumpaan kami musim dingin tahun lalu, ketika ia membuat sebuah pengakuan. Pengakuannya itu pula yang yang mengilhamiku untuk melakukan hal yang sama. Sepulangnya dari kunjugan itu aku menulis sebuah pengakuan. Tentang apa yang aku syukuri dan ucapan terima kasih kepada para penulis, para filosof, para pemuka agama-agama. Di kunjungan hari itu pula terbesit dalam benakku sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang hanya kusimpan dalam hati, tentu saja, aku begitu segan menanyakan ini padanya, “Bertahun-tahun engkau mencari makna sebuah kehidupan. Engkau berkelana ke seluruh negeri dan bertemu dengan yang paling tua dan bijak; Sokrates. Engkau juga bertemu dengan Schopenhauer dan bahkan Sakya Muni. Tak luput engkau mempelajari Warisan Sulaiman. Engkau juga bertemu dengan yang paling muda Descartes, tetapi… tetapi apa sebabnya engkau tak bertemu dengan Abu Hamid dan Ibn al-`Arabi?”

Kebersamaan itu membuatku kagum, karena tak terasa bagiku sampai tahu-tahu waktu telah banyak berlalu begitu cepat. Aku mempelajari sebuah hal, cara terbaik untuk membunuh waktu memang duduk bersamanya. Sosoknya begitu mirip dengan Gandalf—atau ketika masih muda dipanggil dengan Olorin—bukan terlihat hanya dari janggut putihnya yang panjang, tetapi juga pancaran kebijaksana dan keingintahuannya tentang makna-makna sebuah hidup, membuatku betah berada di sisinya.

Meskipun gaya bicaranya tak seindah Kahlil Gibran, tak selugas Luis Borges tetapi ada sesuatu yang rahasia dan misterius—entah apa itu—yang membuat beliau tampak lebih agung dan begitu berwibawa. Ia tak serumit Garcia Marquez dan tak sehangat Vargas Llosa, tapi ia begitu nyaman untuk diikuti. Ia selalu menabur benih keagungan di setiap jengkal langkah-langkahnya. Mungkin hanya Prof. Tolkien sendiri yang setara dengannya.

Aku baru sadar, tidak ada jaringan listrik yang mengaliri rumah-rumah desa itu, setelah berjam-jam duduk bersamanya, dan ia membiarkan ruangan itu tetap gelap. Akhirnya di penghujung kunjungan itu, dengan membelakangi jendela, beliau berkisah padaku, bahwa beliau tidak terkesan dengan salah seorang sastrawan dunia, yang karya-karyanya telah melegenda; William Shakespeare. Baginya karya-karya Shakespeare itu hampa dan tak bisa membuat emosinya bergejolak. Beliau mengakui bahwa, beberapa kali ia telah mengulang-ulang cerita Shakespeare dan beliau masih tidak mengerti, tentang apakah semua itu. Ia berkata, “Sama sekali tidak menyentuh.”

Sosok agung dalam backlight monochrome, hanya terlihat sebagai siluet itu membuatku puas. Aku pun tersenyum lalu menghampirinya, meraih tangan beliau dan menciuminya. Aku berkata kepadanya, “Aku bersyukur engkau hidup di zaman ketika Prof. Tolkien belum lahir, sebab aku khawatir engkau pun akan mempengaruhi pemikiranku tentangnya.”

7 thoughts on “Kunjungan Sore Itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: