Ketika Fajar 2020 Merekah

19

Amigos, sayangku.

Kalau kamu memperhatikan, kamu pasti tahu, sampai sebelum tulisan ini diunggah, di tahun 2020 ini aku sama sekali belum menerbitkan tulisan apapun. Sama sekali tidak menerbitkan jurnal, cerpen bahkan puisi. Apa yang aku lakukan di masa-masa itu? Sebetulnya tak pernah berubah. Masih sama. Pagi hari keluar rumah untuk membunuh waktu dengan bekerja. Dan sore harinya pergi ngaji. Di sela-sela itu yang aku lakukan pun masih sama seperti hari-hari membosankan yang aku jalani; membaca, menulis dan bermain twitter. Setelah tahun 2019 berlalu, tiba-tiba saja aku merasa hampa. “Apa yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini? Kok masih gini-gini aja,” begitu pikirku. Seketika fajar tahun 2020 merekah, aku merasa buntu dan tak tahu apa yang akan aku lakukan dalam hidupku. Aku jadi teringat suatu hari ketika sedang duduk di bawah kerindangan dahan, di suatu tempat, di sudut kota Jogja, aku melihat langit tak lagi berwarna, juga pemandangan di sekelilingku, semua warna tampak mulai memudar. Debu-debu berterbangan, tanah kering kerontang, batu-batu berserakan di mana-mana. Dan udara seharusnya begitu panas menyengat jika aku tidak berlindung di bawah kerindangan salah satu pohon yang banyak ditanam di sepanjang tepi rel kereta api itu. Dari kejauhan, terdengar deru lokomotif yang semula samar-samar lalu dengan sangat cepat terdengar semakin jelas dan kencang menggunang gendang telinga. Di hari itu aku merasa sudah cukup dengan hidupku. Tidak ada apapun lagi yang ingin aku raih dan kucapai dalam hidup ini. Rasanya aku sangat lelah dengan hidup dan ingin mati muda saja. Tetapi sebagaimana banyak keinginan manusia, tidak semuanya dapat terwujud sesuai kehendak mereka. Sepertinya sejak hari itu, paling tidak yang kusadari olehku, bahwa aku mulai kehilangan keceriaan masa yang indah dan gelak tawa yang cerah. Sepertinya sejak saat itu, paling tidak yang bisa kuingat, senyumku mulai kurasakan begitu palsu. Lalu setelahnya aku terjebak dalam roda kehidupan yang begitu gelap dan membuatku semakin merasa lelah dan berat. Sampai ketika aku memutuskan untuk mengambil jarak dengan diriku sendiri. Aku menghambakan diriku sendiri pada setan. Menggadaikan identitasku dengan identitas palsu. Di masa-masa itu aku bertemu dengan sebuah kitab. Dan aku terjebak di dalamnya. Lalu seakan-akan gejolak datang begitu saja dan membuatku bergairah ingin hidup bahkan hingga 100 tahun lagi. Aku ingin mengejar ketertinggalanku. Masih ada ratusan bahkan ribuan buku yang ingin aku baca sebelum aku mati. Dan begitu fajar tahun 2020 merekah, aku masih merasa buntu dan tak tahu apa yang akan aku lakukan dalam hidupku kecuali membaca. Aku pergi bekerja untuk membunuh waktu dan membeli buku. Dan aku pergi ngaji demi mematut-matut diri agar paling tidak berada pada garis moral yang patut saja.

Amigos, Sayangku. Kucukupkan dulu sampai di sini saja. Aku akan melanjutkan suratku lain kali. Sampai bertemu lagi.

jejakandi

19 thoughts on “Ketika Fajar 2020 Merekah

  1. Teruntuk sahabatku : Dimanapun sekarang kamu berada, entah seberapa dalam keresahan yang pernah kamu rasakan di masa lalu, semoga kamu bisa menyelaminya dengan kesabaran, semoga di tahun ini kamu tetap semangat menjalani hari-harimu.

  2. Masih ada ratusan bahkan ribuan buku yang ingin aku baca sebelum aku mati

    Kadang aku juga gitu, semangat langsung berkobar saat ingat masih banyak buku yang ingin jelajahi..

    1. Menjadi sangat sayang dengan waktu yang dimiliki, eman-eman kalau tidak dimanfaatkan. Karena bisa jadi sampai mati, belum semua buku sempat dibaca. Padahal kalau sudah mati mah gak ada yang dibawa juga.

  3. Di antara yang aku inginkan adalah membaca buku tabungan yang cukup mengantarku naik haji, menghajikan orang tua, membuat masjid atau mushola, membuat majelis taklim, dan kalau bisa tidak tergoda cari bini muda. ????????????

    Semangat, Andy. Kamu adalah inspirasi membacaku. Yg miskin referensi bacaan ini.

    1. Matur suwun, Pak Heri, atas energi positif yang ditularkan. Aku cukup senang hanya membaca komentar Pak Heri ini. Terima kasih banyak dan love you, Pak. ????

      Alhamdulillah kalau hal sederhana yang kulakukan bisa menginspirasi orang lain. Aku selalu semangat, Pak! ????????

  4. Halo, Mas Andi. ???? Selamat menulis kembali.

    Saya ikut senang melihat Mas Andi bisa menemukan semangatnya lagi, apalagi melalui bacaan. Sebelum mengetik ini saya sempat melihat-lihat isi blog ini terlebih dahulu, dan saya takjub melihat buku-buku yang dilahap Mas Andi. Wow (bukan promosi Binomo).

    Tidak apa-apa jika Mas Andi merasa tidak apa-apa, karena itu manusiawi.

    1. Halo Irma, Mira, celestilla… Terima kasih.

      That’s a joy for me to know that I can make you happy only by sharing my thoughts. Thank you for dropping by to read my blog. ???? Aku tidak banyak membagi cerita soal buku, tapi komentarmu… Sungguh manis dan menyenangkan.

      Yepz, let’s continue to keep this weirdness lifestyle ????

      1. Wqwqwq. Lho iyakah? Aku nangkapnya dari foto-foto buku dan beberapa kali penyebutan judul buku dalam tulisannya Mas Andi.

        I always love when people share stories about how they rediscovered their reasons for survival. Becuz for me, it’s quite difficult.

      2. Okay, so let’s keep writing and sharing our stories to people around, we don’t know if it could be a joy for somebody outside.

    1. Terima kasih Nina.

      Buya Hamka pernah berkata, “Kalau hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau kerja hanya sekedar bekerja, kera pun bekerja.” You get my point? ????

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Jawaban Yang Samar-Samar

Fri Jan 17 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/ketika-fajar-2020-merekah/ Amigos, Sayangku. Aku berterima kasih atas kebaikan hatimu. Apa yang kau berikan itu telah mendorongku untuk terus membuktikan bayak hal yang kutemukan dalam perjalanan ini. Informasi yang kau sampaikan itu, meskipun sesungguhnya kau tak menyadari sepenuhnya apa yang telah kau berikan kepadaku, ia telah membantuku melengkapi […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: