Jurnal Pagi: Terpedaya Rapid Test dan Terjebak Psikosomatis

Hening sekali. Semua suara seperti tunduk pada deru arus sungai yang mengalir dari hutan selatan itu. Sama sekali tak ada apa pun yang bergerak, semuanya seperti sedang bersujud mengheningkan cipta. Hanya sesekali burung perenjak bernyanyi. Nyanyian itu bukan untuk memecahkan kesunyian, sebaliknya ia seperti metronom yang mengemban tugas untuk mengisi dan menusuk ke kedalaman jiwa. Tidak sulit untuk mengingat saat-saat kicau merdu dalam kesunyian itu lepas, katika kamu memutar “Moonlight Sonata.”

Tidak seperti biasanya, kali ini, lari pagiku disambut oleh kabut yang turun dari langit yang temaram oleh sinar bulan separuh. Halfmoon yang dulu pernah membingungkan aku, bagaimana Mbak Jo sering melukiskan bentuk kacamata Profesor Dumbledore. Sinar separuh bulan yang temaram melukis langit sisa malam dengan Jupiter di sampingnya. Ya jika kamu memperhatikannya, selepas shubuh pada pertengahan bulan Mei, planet yang berada di dekat bulan di titik Zenit itulah Jupiter. Damai sekali.

Namun tidak bisa tidak aku tidak memikirkannya, ketika kembali kepada kursi dan meja tulis coklat dari kayu suren itu. Aku memikirkannya betapa ketakutan dan kepanikan bisa membuat banyak orang melakukan hal-hal gila. Dan betapa ada saja orang jahat yang memanfaatkan situasi semacam itu.

Terdapat anomali dan masalah pada uji Rapid Test untuk mengidentifikasi seseorang terjangkit corona atau tidak. Selama ini ketakukan dan kepanikan yang berlebihan telah membuat banyak orang terpedaya dengan alat uji rapid test yang dijual dan dilakukan dengan biaya termat ‘gila mahal’ itu ternyata memiliki akurasi yang sangat rendah. Kesalahan uji yang tidak akurat itu menimbulkan gangguan psikosomatis—kecemasan yang berlebihan.

Ditemukan fakta bahwa alat uji Rapid Test itu bukan dibuat di Belanda atau dari Belanda, melainkan dibuat di China dengan merek dagang Belanda. Banyak negara-negara, yang semula tergiur dengan iklan ‘dibut di Belanda’ batal memesan alat itu setelah hasil pengujian menunjukkan akurasi yang sangat rendah, termasuk Inggris, India dan Spanyol.

Pengujian dengan rapid test yang selama ini telah dilakukan menghasilkan laporan sekian banyak orang yang diduga positif corona, namun ketika dilakukan dengan swab test melalui mulut dan hidung atau dengan metode usap hasilnya adalah sebaliknya. Aku terheran-heran, jadi selama ini dari sekian banyak pasien yang diuji dengan Rapid Test yang menghabiskan dana dari 500 ribu sampai 1 juta itu merupakan hasil dari salah uji? Ah bukan salah uji… hasil uji melalui alat berakurasi sangat rendah? Seharusnya jika hasilnya lebih baik, tidak perlu terlalu menakutkan seperti sekarang ini? Ya Tuhan, do I really wake up in the world of pain?

Kecemasan yang belebihan atau psikosomatis ini tidak lain tidak bukan adalah akibat dari kesalahan uji oleh alat yang bernama Rapid Test. Yang paling mengejutkan adalah berita bahwa seorang pengusaha membeli alat itu dari situs belanja online seharga 1 juta rupiah pada akhir Maret saat itu ia baru pulang dari Israel dan Turki. Namun di Indonesia dijual dengan harga 6,5 sampai 13 juta rupiah. Yang lebih mengejutkan lagi, alat itu hanya dijual jauh lebih murah di situs Alibaba yaitu sekitar 11ribu sampai 100 ribu. Sungguh, ketika aku membacanya, aku kehabisan kata-kata.

2 thoughts on “Jurnal Pagi: Terpedaya Rapid Test dan Terjebak Psikosomatis

  1. Tapi bukannya dari awal udah dikasih tau ya kalau misal rapid test itu gabisa dijadiin acuan utk ngediagnosis ya? kok ya pada rela beli mahal-mahal :” Atau mungkin karena pas awal awal itu gasemua orang bisa pada test swab?

    Oiya, definisi psikosomatis bukan terletak di kecemasan berlebih sih, tapi lebih ke keluhan fisik yang disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, salah satunya bisa dari rasa cemas berlebihan. Cmiiw ????????

    1. Terima kasih 🙂

      Wah kronologinya panjang itu, Mbak Nadya. Sepanjang jalan kenangan. Sudah dikasih tahu sih iya, tapi aku ragu bagaimana mereka memberitahukannya, memberi tahu dengan memberi pemahaman kan beda. Terus, berapa banyak sih yang bisa mikir di tegah kepanikan yang edan-edanan gitu? Sejak Pak Presiden mengumumunkan ada dua pasien positif corona, beliau langsung menginstruksikan untuk segera dilakuakn rapid test secara masal, logikanya kan pemerintah sudah mempersiapkan peralatan dan lain sebaginya. Tetapi karena begitu lama, dan masyarakat sudah keburu panik, eh ya sudah mahal-mahal pun direlain, dan…. ketika alat yang dipakai berakurasi rendah. Meledak tuh… geger sana-sini. Halu semua. Mbak Nadya bisa cek kronologinya di sini https://infogram.com/deteksi-minus-akurasi-1h0r6r7ld5o32ek

      Terima kasih, Mbak Nadya yang baik hati sudah menambahkan. Di dalam KBBI psikosomatik merujuk pada dua istilah, jadi dua-duanya benar menurut definisi itu. Jadi well… intinya begitu. <3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: