Jurnal Pagi: Tak ‘kan Bermakna Tanpa Cinta

Kadang aku ingin melakukan suatu hal, tak usah banyak-banyak, satu hal saja, tetapi aku bisa melakukannya dengan dedikasi yang tinggi penuh determinasi dan bertahan dalam waktu yang sangat lama. Tetapi sebagai orang yang mudah bosan, menemukan satu hal itu, apa pun itu, ternyata sangat sulit. Bagaimana mengalahkan kebosanan, itu adalah rumus yang sedang kucari. Karena suatu hal yang menarik sekalipun, jika ia dilakukan berulang-ulang dan terus menurus pada akhirnya akan bosan.

Apakah ini sebuah sinyal kalau aku mulai bosan dengan jogging dan menerbitkan jurnal pagi di jejakandi? Jujur saja belum. Lalu apakah akan ada kemungkinan akan bosan? Sangat mungkin dan aku bisa bilang tentu saja. Tetapi aku mau bilang, menulis adalah hal yang mudah; aku biasa menulis catatan di pagi hari, tulisan ringan di malam hari, mengikat makna sehabis membaca nyaring, fragmen-fragmen yang muncul tiba-tiba ketika sedang membaca atau memikirkan sesuatu dll; apakah itu berarti aku produktif, aku bilang tidak. Seseorang bisa dikatakan produktif apabila ia bisa menghasilkan sesuatu yang segar dan terus bisa diikuti. Apa yang kutulis itu tidak menghasilkan sesutu yang baru, ia cuma soal repetitif.

Ah bagaimana aku akan bisa mengalahkan kebosanan ini, sebagaimana aku tidak perlu berniat ingin meminum kopi, tetapi tak seharipun aku pernah absen dari minum kopi. Padahal aku tak pernah berniat benar-benar ingin minum kopi.

Mungkinkah jawabannya adalah kau harus menjadikan apa yang kau lakukan tersebut adalah karena suatu kebutuhan? Jika iya, apakah mengunggah jurnal dan jogging adalah sebuah kebutuhan yang harus selalu dipenuhi? Ah… menyebalkan.

Mungkin memang satu hal yang dapat aku lakukan dalam waktu yang lama hingga mampu mengalahkan kebosanan satu-satunya adalah bekerja. Aku telah mengalami kebosanan berkali-kali, mengeluh berkali-kali soal pekerjaan itu, tapi tak sehari pun, selama bertahaun-tahun aku pernah mengambil cuti. Jadi memang benar kata orang, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Coba ada yang mau membayarku untuk rebahan, aku bisa sangat bahagia dan kaya raya. Coba ada yang mau membayarku hanya untuk lari pagi setengah jam dan mengunggah cuap-cuap tak jelasku ini setiap harinya. Sangat mungkin kebosanan itu tidak akan terjadi, walaupun tentu saja itu bukan jaminan, bahwa aku tidak akan bosan melakukannya, tapi paling tidak aku bisa mengalahkan kebosanan itu. Semua ini, pekerjaanku, hobiku dan hal-hal yang aku lakukan tak akan ada artinya jika aku tidak mendasarinya dengan cinta. Semua ini tak akan ada artinya jika tak ada cinta di dalamnya.

Jujur saja aku sangat bosan dan enegh membaca berita soal corona dan berbagai kontroversinya, mulai dari kacaunya Rapid Test, PSBB dan berbagai bentuk pelanggarannya, ketidaktegasan aparat untuk menertibkan pelanggaran-pelanggaran itu. Tetapi aku kok tetep aja masih membacanya. Apakah jangan-jangan berita-berita ini telah menjadi semacam zat adiktif dan membuatku ketergantungan padanya. Payah! Aku sudah sangat bosan dan muak dengan kelakuan-kelakuan pejabat publik, DPR yang tega-teganya kejar setoran di tengah pandemi; mengesahkan UU Minerba yang dulu pernah tertunda karena adanya polemik, dan kesan akan ketidaktegasan juga tarik ulur pemerintah menyikapi perkembangan, kebingungan massal dan semuanya. Tetapi kenapa aku masih saja terus mengikuti semua itu; essence of crazy. I do hate all these garbages! Hate but love? Huuuuuek!

Sebenernya tadi aku ingin menulis tentan buku untuk merayakan Hari Buku Nasional, tapi kok keluarnya malah begini ya? Hasudahlaaaaaah!

2 thoughts on “Jurnal Pagi: Tak ‘kan Bermakna Tanpa Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: