Jurnal Pagi: Solidaritas Itu Tak Akan Pernah Hilang

Di wilayah yang sering dilanda bencana seperti Indonesia, solidaritas tak akan pernah hilang. Itu adalah sebuah hal yang harus kita yakini. Kita harus percaya kita akan semakin kuat sebab bangsa ini sebagaimana yang selalu kita lihat bahwa jiwa sosialnya begitu tinggi. Meski kadang resah menampik keyakinan itu, semua orang terdampak, sehingga uluran tangganya bisa jadi tak sebesar sebelumnnya. Karena bencana kali ini berbeda dengan bencana-bencana yang pernah menimpa sebagian besar wilayah Indonesia; Tsunami, gempa, gunung meletus, tanah longsor, yang mana hanya sebagian saja yang terdampak sehingga tanpa menunggu gerakan pemerintah terlebih dahulu, sebagaimana yang Anda saksikan wahai pembaca yang cerdas, bangsa ini bergerak jauh lebih cepat dalam mengulurkan tangan mereka untuk saudara-saudara kita yang sedang dilanda bencana itu. Bangsa ini telah menjadi anak kecil yang berbondong-bondong lari untuk menolong saudara mereka sementara pemerintah masih berbentuk sperma.

Pemerintah lagi… pemerintah lagi… kamu gemar banget mengomentari pemerintah, benci ya cieeeee! Enggak aku geli tauk, soalnya kalau aku ngomongin pemerintah ada wae sik tersinggung dan kebakaran jenggot. Marahnya malah sama saya bukan sama komentar saya. Ha ha ha. Mereka harusnya tahu aku suka dialektika, dah gitu aja.

Sekali lagi kutegaskan, solidaritas tak akan hilang, bukan karena Indonesia merupakan negara yang ramah dan berbudi luhur atau bla… bla.. bla… tetapi memang naluri kemanusiaan yang dimiliki bangsa ini sangat tinggi. Karakter yang telah turun-temurun dan mengurat nadi, mendarah daging dari leluhur hingga anak cucu dan sedulur.

Sebagaimana yang kusaksikan tadi pagi dan aku terlibat di dalamnya. Saat itu aku sedang jogging seperti biasanya. Tak jauh dariku, terjadi sebuah kecelakaan kecil; seorang pedagang sayuran keliling dengan motor tiba-tiba jatuh, gerobaknya yang kelebihan muatan itu njengat, roda depannya terbang ketika sedang menanjak. Semua orang yang berada di sekitar situ langsung menghambur dan buru-buru membantu. Kami langsung gotong royong tanpa ada yang menyuruh atau meminta, kami bersama-sama menurunkan gerobak yang sangat berat itu dan menanta lagi sayurannya yang tumpah berceceran di sepanjang jalan yang menanjak. Pertolongan itu begitu cepat, sehingga bapak penjual sayur masih tetap bisa jualan tepat waktu. Ya tahu sendiri lah distributor sayuran dan bahan makanan pokok itu harus balapan dengan waktu, kalau tidak, pembelinya sudah keburu berangkat kerja. Gak laku nanti.

Solidaritas tak akan hilang, naluri kemanusiaan itu telah menjadi jati diri bangsa ini. Yang perlu dipertanyakan kini justru mereka yang tidak memiliki karakter ini, yang tega-teganya memanfaatkan kesempatan untuk mereguk keuntungan sebesar-besarnya, apakah mereka lupa dengan jati diri bangsanya? Melalui ini, aku ingin berbicara dengan anak muda generasi bangsa, adakah engkau tidak ingin meneladani dan melestarikan budi pekerti luhur yang menjadi karakter bangsa kita, karakter yang selalu kita bangga-banggakan itu? Bukan malah bikin psywar, cuma bisa mengumpat dengan segala kata ‘bangsat’ dan sejenisnya. Mengumpat gak punya malu dengan menyebut sederet nama kelamin. Menjijikkan. Semua kata itu pada awalnya tidak menjijikkan tapi ketika digunakan dalam konteks mengumpat jadi sangat menjijikkan.

Solidaritas tak akan hilang, karakter itu telah mengurat nadi dan mendarah daging. Mungkin memang di antara kita, ada yang tak mampu mengulurkan tangan, karena kita sama-sama terdampak, sama-sama membutuhkan bantuan. Tapi ingatlah jiwa besar dibangun oleh mental yang benar. Jiwa yang besar terbangun karena dirinya menjadi subyek gerakan, bukan obyek. Dengan mengulurkan tangan kita telah menjadi subyek, sebaliknya meminta uluran tangan berarti menjadikan diri obyek. Kalau memang kita tidak bisa mengulurkan tangan dalam aksi solidaritas kemanusiaan, paling tidak kita bersolidaritas kepada diri sendiri saja. Karena itu hal yang paling wajar yang bisa dilakukan, pasti dimaafkan. Bagaimana solidaritas kepada diri sendiri itu? Ya membantu semampunya. Kalau tidak bisa membantu tak perlu menambah masalah dan memperkeruh keadaan.

Kita melihat bahwa pandemi ini adalah pandemi yang luar biasa; secepat kilat dapat melumpuhkan sendi-sendi kehidupan. Publik sangat frustrasi melihat kebijakan-kebijakan yang berubah, akibatnya terjadi ledakan masal. Terjadi ledakan keramaian di bandara, pasar, mall dan bahkan yang paling menggelikan demi bisa mendapatkan akses dan fasilitas tersebut, publik membeli surat sehat yang dijual di online marketlpace. Lucu gak sih? Akibat selanjutnya mencengangkan; terjadi ledakan pasien positif corona 1000 orang dalam sehari. Sampai-sampai terlontar kalimat yang tentunya tak akan berani ia ucapkan tatkala bencana lain seperti Tsunami atau gempa melanda, “Ya sudah kalau tidak bisa diatur, ya biarin aja, kalau mati tinggal dikubur.” Ya bener sih tapi itu lebay dan kelewatan. Susah memang berempati dengan para-ingnorant ini, tapi gak gitu juga, Rek! Terserah… terserah… yang emang terserah… mau Indonesia terserah juga terserah. Sak karepmu lah, ini negara demokrasi, memang gak ada negara lain yang seenak negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makanya marilah kita jaga negara yang mawute ra karu-karuan ini, bagaimanapun juga saya cinta dengan negara ini.

Makanya aku bisa membenarkan ketika rekan kerjaku berkata, “Publik bandel juga sih, sudah dibilangin jangan mudik tapi masih aja ngeyel, gak mau karantina bahkan ada yang nantangin petugasnya. Ngajak gelud… Begitu kok masih nyalahin pemerintah terus… katanya pemerintah gak tegas, kurang tegas piye?”

Aku jawab, Rek! Semua itu terjadi karena mereka frustrasi. Tahu kan frustrasi itu apa? Semua itu terjadi karena kepercayaan publik sedang anjlok. Kalau publik sudah tidak percaya, apa pun yang dikatakan pemerintah jadi blunder terus. Ya seperti kamu yang sudah gak percaya sama pacarmu, apa yang dikatakan selalu salah. Daaaaan… kalau kamu wanita… ingat wanita selalu benar ha ha ha. Menurutku publik gak butuh tuh kampanye menteri yang ngomong jangan mudik dll. Terus malah ada konser apa itu… tapi gak jaga jarak juga. Mana gak pakai masker pula, itu stupid atau gimana sih? Begitu kok contoh bagi publik. Ngasih contoh aja gak bener. Apa yang sedang terjadi sekarang ini adalah komunikasi yang buruk antara pemerintah dan publik, jangankan pemerintah dan publik… antara pejabat pemerintah sendiri aja ngomongnya gak sinkron, duh!

2 thoughts on “Jurnal Pagi: Solidaritas Itu Tak Akan Pernah Hilang

  1. saya setuju sekali bang andi,
    bangsa kita sepertinya sudah terbiasa untuk bergerak dengan inisiatif sendiri
    sbb kalau mengandalkan pemerintah, kita sama2 tahu hal itu sangatlah riskan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: