Jurnal Pagi: Sehat dan Bugar Itu Beda!

“Sehat dan bugar itu berbeda.” Kata seorang dokter yang aku lupa siapa namanya. Aku merasa cukup sehat sekarang, tetapi aku tidak merasa cukup bugar. Aku tidak merasa bugar karena jarang sekali olahraga. Bahkan olahraga favoritku pun sudah bertahun-tahun tidak kulakukan. Begitu aku ingat, bahwa sehat dan bugar itu berbeda aku bertekad kembali meraih kebugaran yang prima; di mana sehat adalah bahwa kita memang sehat lahir dan batin, tidak sakit dan kita literally benar-benar sehat. Sedangkan bugar adalah kita mampu melakukan suatu kegiatan dalam waktu dan periode yang lama. Misalnya kita benar-benar sehat dan mampu melakukan lari sejauh 100 meter, pernafasan baik dan tidak tersenggal-senggal. Atau setelah melakukan olahraga naik-turun selama 15 menit dan merasa lelah, itu wajar. Dan bugar adalah ketika kelelahan itu (setelah lari 100 meter atau naik turun tangga) hanya sementara, sekitar 5 sampai 6 menit saja sudah pulih kembali dan kita bisa melakukan olah-raga naik turun tangga lagi atau melakukan pekerjaan lain. Namun jika kelelahan yang dirasakan berlarut-larut hingga 20 sampai 30 menit, berarti kita tidak bugar.

Setelah hampir lima tahun berlalu, pagi ini aku melakukan sesuatu yang lama sudah tidak kulakukan; jogging—tidak perlu garis miring ya, karena sepertinya sudah pada ngerti maksud kata berbahasa Inggris ini.

Tentu saja dulu aku selalu, hampir setiap pagi, melakukannya. Bahkan aku punya rekor pribadi yang sangat fantastis; sehabis subuh aku lari pagi dari kontrakan, di Pengok, PJKA; melalui jalan raya, trotoar-trotoar dan melewati toko-toko dan warung makan serta bengkel-bengkel yang masih tutup kemudian mengelilingi Stadion Mandala Krida 15 kali putaran dan pulang lagi ke kontrakan tanpa berhenti. Itu rekor, dan yang namanya rekor tentu saja tidak dilakukan setiap setiap pagi, setiap hari; bisa mati lah, gila! Tetapi aku berhasil menjaga rutinitas itu, rata-rata yang setiap paginya jogging dari kontrakan kemudian keling Mandala Krida 8 sampai 10 putran dengan sesekali jalan dan berhenti kemudian pulang. Sampai di kontrakan istirahat sebentar sambil membaca buku. Baru kemudian jalan kaki mencari bubur ayam di sepanjang jalan Kenari. Tim diaduk atau tidak diaduk? Polarisasi memang sengaja dibikin dari sejak akar rumput kayaknya, ya, duh!

Ah itu romantisme lama yang dulu sangat ku sukai.

Selain futsal dan sepak bola—yang tentu saja sudah lama sekali tidak kulakukan—olahraga yang paling kusukai lebih dari apapun ya jogging itu. Tetapi mengapa ya, setelah kerja aku jarang melakukannya lagi? Sebuah misteri!

Dan pagi ini setelah, kemarin mengingat perbedaan antara segar dan bugar dan merasa membutuhkan kebugaran untuk menyelesaikan bebrapa aktivitasku yang tersendat-sendat, aku mencoba mengikis kemalasan dengan melakukannya lagi, lari pagi, setalah bertahun-tahun lamanya absen. Ada rasa puas. Ada sedikit rasa bahagia, ya, meskipun untuk sementara waktu. Paling tidak aku bisa melupakan apa pun saat itu, dan hanya fokus pada pernafasan dan gerak badan. Meskipun lari pagiku belum mencapai Gunung Alap-alap. Tapi suatu hari nanti, akan aku mencapainya, insyaallah. Lari sampai Gunung Alap-alap, yang letaknya 3 kilometer dari Desa Hujan, menuruni lembah dan naik gunung, kemudian turun lagi dan naik ke Desa Hujan di bawah terpaan matahari terbit… aku rasa itu keren.

3 thoughts on “Jurnal Pagi: Sehat dan Bugar Itu Beda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: