Jurnal Pagi: Pengkotakan Sejak Dalam Pikiran

Jalan-jalan, sudah. Ngopi, sudah. Membaca surat kabar, sudah—tak ada topik baru dan tiba-tiba aku merasa sangat bosan. Tidak hanya bosan membacanya, menulisnya tentangnya; normal baru, pandemi, corona, PSBB, mudik, idul fitri—juga bosan.

Aku tetap memaksa duduk di kursi menulisku. Kemudian menuliskan apa saja, sembarangan tak mengangkat topik tertentu. Beberapa menit kemudian aku selesai dan ketika membaca hasilnya, yah materinya terlau berat untuk jurnal pagi, kelam dan tak mencerminkan suasana pagi ini yang sangat cerah bermandi sinar mentari putih dan menyilaukan; begitu hangat dan damai.

Aku tak tahu mau ngapai lagi, kulemparlah lembaran kertas dan pulpen itu. Jam digital telah menunjukkan pukul 8:19, udara sejuk masih berhembus spoi-spoi melalui jendela yang terbuka. Rasanya begitu segar dan manis. Aroma rumput-rumput yang masih muda menguar bersama aroma segar embun-embun yang menguap dari hujan dini hari tadi. Karena gak ada kerjaan dan tak tahu lagi mau ngapain, akhirnya aku hanya duduk melamun di depan jendela yang terbuka. Memandang ke luar ke jalan-jalan yang bersih dan ke arah pepohonan yang berwarna hijau keemasan berlimpahan dengan sinar matahari.

Ya pamer sithik, dadi racun! Racun buku… heeee

Sepeda motor dan mobil datang silih berganti telah menjadi pemandangan yang biasa. Beberapa tahun yang lalu saat aku masih SMP, jangankan mobil, sepeda motor saja masih merupakan barang yang begitu mewah. Sekarang sudah banyak keluarga yang memiliki mobil pribadi dan sudah hampir keluarga memiliki sepeda motor, bahkan satu rumah bisa ada 4 sampai 5 sepeda motor. Betapa zaman cepat sekali berubah.

Sekelompok anak usia pelajar SD kira-kira umurnya 10 tahun muncul mengenakan kaos dan celana pendek. Salah satu dari mereka menggenggam sebuah ranting kayu sengon yang diujungnya dipasang sebuah lidi yang membentuk oval dengan sarang laba-laba yang digulungkan keseluruh bidang oval itu untuk menangkap capung. Masih ada anak yang menangkap capung ternyata. Sekelompok anak yang lain lagi yang usianya sekitar 12-13 tahun, masing-masing dari mereka sudah menggengam HP Android dan salah satu dari mereka sudah waktunya masuk SMP.

Ah sebentar lagi pendaftaran siswa baru akan dimulai, di tengah situasi yang belum menentu ini, apakah pendidikan akan diselenggarakan lagi, atau lebih tepatnya kapan sekolah akan digiatkan kembali?

Mengenai pendaftaran siswa baru aku jadi teringat obrolanku dengan paman kemarin. Tak tahu awalnya gimana tetapi kemudian paman dan bibi nyletuk mengenai isu KIP dan PKH. Sekerang ini sedang berkembang isu kalau calon siswa pemegang kartu pintar dan kartu PKH tidak mendaftar di sekolah negeri, maka bantuan dari pemerintah itu tidak akan cair. Mendengar itu pun aku heran? Masa sih?

Sekolah-sekolah swasta yang tahun lalu telah kelimpungan karena dihantam dengan istilah zonasi yang tidak dapat dipahamai dan dimengerti oleh orang tua yang awam itu kini harus dihantam lagi dengan hal yang lebih mengejutkan. Entahlah aku sekarang ini gampang meradang dengan istilah-istilah yang seenaknya dihembuskan. Zonasi, PSBB, Lockdown, Herd Immunity dan segala macam. Istilah-istilah yang membingungkan dan membuat banyak orang salah paham. Zonasi misalnya, sangat ambigu. Sebab anggapan orang tua yakni si anak tidak bisa didaftarkan ke sekolah-sekolah selain sekolah yang berada dalam radis 3 km. Padahal aslinya kan terserah mau di mana saja, hanya saja calon pendaftar yang berada dalam radius 3km lebih diutamakan. Yang terjadi adalah… sekolah-sekolah swasta yang biasa menerima calon siswa dari daerah yang relatif jauh langsung anjlok dan sepi pendaftar. Sekarang ditambah dengan isu PKH dan KIP ini. Duh… zaman sekarang kok ya masih ada pengkotakan sekolah negeri dengan sekolah swasta, padahal lho ya sekolah swasta itu justru telah berjasa kepada negara menyumbang dana yang tidak sedikit untuk berpartisipasi dalam mencerdaskan anak bangsa.

Kembali dengan pengkotakan swasta dan negeri, aku jadi teringat dulu sekali ketika aku lulus kelas 6, isu yang berhembus yaitu kalau tidak mendaftar sekolah di sekolah negeri maka ijazahnya beda dan tidak akan diakui. Kalau dipikir-pikir ya jelas ijazahnya beda, jangankan antara negeri dan swasta, antara negeri dan negeri saja berbeda wong beda sekolahan, gimana sih? Tetapi soal ijazah yang tidak diakui itu sungguh isu yang jahat. Walhasil dari 21 anak seangkatanku yang lulus SD, aku sendirian memilih sekolah di Madrasah Tsanawiyah, yang lain ke sekolah negeri. Jadi aku sedikit-sedikit ngerti kalau ada kalimat Yadhabu Ahmad ilal madrasati mutawashitotil islamiyah, aku juga ngerti Hadzihi saburotun hiya ‘alal maktabi, atau tilka misbahun hua munirun fauqo maktabi. Heuheuheu

2 thoughts on “Jurnal Pagi: Pengkotakan Sejak Dalam Pikiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: