Jurnal Pagi: Pagi Yang Dingin

Sial. Dingin sekali. Hawa pagi ini dinginnya serasa meremukkan tulang-tulang. Bulan Juni yang ditandai dengan peringatan Hari Lahir Pancasila baru saja datang tetapi hawanya sudah sedingin ini. Sedingin Pancasila yang kesaktiannya semakin memudar. Atau sebaliknya, Pancasila sedemikian termat sakti sehingga ia sulit dijangkau oleh akal manusia-manusia yang picik. Falsafahnya sedemikian dalam sehingga tak mampu diselami oleh rakyat-rakyat serakah dan tak bernafas panjang.

Memang demikianlah adanya, Pancasila hanya dimaknai secara seremonial saja. Mayoritas penduduk Indoneisa hafal teks-teksnya di luar kepala, nama falsafah hidupnya sedikit sekali yang membekas di dalam jiwa.

Bagaimana ia mau dikatakan telah meresap di dalam nadi-nadi, kemanusiaan yang seharusnya menjadi simbol akan terciptanya manusia-manusia yang menyemai keberadaban dan menjunjung tinggi persamaan derajat umat manusia di depan hukum justru terhantam oleh isu rasialisme. Rasialisme adalah isu umat manusia, bukan hanya isu sebuah negara. Namun Pancasila berdiri di atas negara, ia bukanlah alat bagi negara untuk membungkam dan menyingkirkan musuh-musuhnya. Keadilan sosial yang diangankan seluruh rakyat Indonesia kian jauh dan kini tampak sekali kesenjangannya antara belahan wilayah yang satu dengan yang lainnya. Kesenjangan ekonomi, pendidikan dan hukum kian kentara. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan yang akan menjamin adanya keterwakilan aspirasi rakyat nampak tak tercermin di sini. Bagaimana mungkin DPR yang katanya perwakilan dari rakyat, tetapi banyak rakyat yang marah dan tak merasa suara-suaranya terwakili. Permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat tetapi malah pecah kongsi, terjadi saling tikung dan jegal-menjegal antar partai politik.

Sementara turunan dan falsafah Pancasila adalah demokrasi. Demokrasi akan menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat. Aku masih merasa bebas berpendapat dan masih bebas mengekspresikan diriku. Tetapi berdasarkan media-media yang kubaca, nilai demokrasi Indonesia sedang turun, karena terjadi pembukaman terhadap beberapa jurnalis yang mengritik pemerintah. Pembungkaman kritik dapat menciderai demokrasi. Demikian pula teror yang dilakukan oleh sekelompok orang pada narasumber dan penyelenggara diskusi kebangsaan dianggap telah menciderai demokrasi, sehingga skor demokrasi turun satu tahap lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: