Jurnal Pagi: Normal Baru atau Ketololan Baru?

Pikiranku tak dapat kumengerti kaki di kepala, kepala di kaki. Pikiranku patutnya menyadari (si)apa yang harus dan tak harus kucari tetapi tak dapat kumengerti.

Lagu Di Atas Normal itu terus bergema di kapalaku karena suasana yang menyertai olahraga pagiku tadi tidak normal, tidak seperti biasanya, ya di atas normal gitu. Jalanan sangat basah dan licin. Keadaan begitu gelap, tak ada rembulan ataupun sinar bintang. Pohon-pohon nampak hanya bayang-bayang hitam yang tinggi menjulang. Udara terasa begitu beku, hingga terasa begitu sulit untuk bernapas. Hanya pantulan dari langit kelabu yang sedikit membantuku melihat keadaan. Keadaan yang tak lagi normal ini atau harus membiasakan diri untuk menjadi standar baru dari keadaan normal, seperti Dita orang Indonesia, yang sepertinya merepresentasikan remaja kekinian, bangga menjadi Korea. Orang-orang bilang, semua orang akan menjadi Korea, menjadi K-Pop pada waktunya. Bisa dibilang yang gak K-Pop enggak normal. Inikah new normal? Konspirasi nih… konspirasi elit global :v

Aku pertama kali mengenal teori konspirasi setelah membaca buku The Knight Templar, imajinasiku mengembara tak tentu arah, Holy Grayle, Holy Blood, Freemason, Rostchild dll. Rasanya aku percaya, sebab jauh sebelum aku membaca buku itu, aku sudah menemukan Ksatria Templar ketika membaca buku-buku Enid Blyton, persisnya di seri Famous Five: Mencari Harta Karun Rockwell. Pengembaraan-pengembaraan pada buku itu bisa mengubah pandangan seseorang, aku misalnya, dulu ketika SMP kagum berat dengan revolusioner Turki, Kemal Pasha. Setelah membaca buku itu, dulu, aku sampai membencinya setengah mati, pemberontak yang dengan segala upaya meruntuhkan monarki hanya untuk mendirikan negara sekuler, bentuk-bentuk negara yang diinginkan oleh Ordo Knight Templar. Ha ha ha. Jadi benar kata Nelson Mandela puluhan tahun yang lalu, “Education is the most powerful weapon.” Dan pendidikan paling awal bisa dimulai dari buku guna menanamkan doktrin dan idealisme-nya

Tetapi di kasus ini, baca teori konspirasi K-Popisasi :v eh Konspirasi Coronovirus 2019, maksudnya, maap… aku tidak termasuk mereka yang mempercayainya, tetapi aku tidak menutup kemungkinan jika konspirasi itu ada. Karena memang sangat mungkin ada.

Seperti kita lihat wacana demi wacana hadir semakin memperkuat dugaan itu.

Wacana terkini yang sedang berkembang sedikit membuatku gelisah. Ah orang-orang seperti aku, yang overthingking pada hal-hal sepele, sepertinya tak kan bisa hidup tanpa gelisah. Wacana tentang masyarakat Indonesia yang akan dihadapkan pada situasi untuk mampu beradaptasi dengan kehidupan “Normal Baru.”

Kalau aku pribadi yang ‘hampir selalu’ merasa menjadi outlier dari kurva normal apapun, toh seandainya ada kehidupan dengan standar Normal Baru, tentu saja aku akan bisa beradaptasi, dan seperti biasanya akan menjadi outlier pula. Hanya saja ketika the things which people called it Normal Baru berhembus, aku bengong dan cuma terpikirkan, “Edan apa lagi nih?—makin demen deh orang-orang dengan penggunaan istilah-istilah baru yang ambigu.”

Tak bisa kubayangkan seandainya Normal Baru itu nanti benar-benar terjadi. Tentu saja banyak hal akan berubah. Tradisi-tradisi lama akan meredup, tidak menutup kemungkinan akan tergerus dan hilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa kubayangkan pemandangan yang penuh dengan ‘Ninja’ akan menghiasi sekitar kita, yang kalau ngomong jadi enggak jelas. Aku sendiri sangat menderita ketika memakai masker, kamu sih pasti tahu betapa struggle-nya ketika kacamatamu, literally kacamata bukan PoV, menjadi ngeblur. Pemandangan tanpa salaman akan menjadi normal pun tak bisa kubayangkan. Kalau duduk nongkrong tak boleh berdempetan, tak ada lagi kontak fisik dalam bal-balan, gak ada sleding-sledingan atau pelukan. Tribun-tribun kosong tanpa penonton. Ahahaha betapa sedihnya menjadi orang yang overthinking.

Atau mungkin aku terlalu melankolis? Sebab tiba-tiba menjadi hampa dan anjir tidak tahu mau ngapain lagi setelah mendengar gagasan Normal Baru ini.

Wo hoo hoo hoo ku mencari sesuatu yang tak kembali ku mencari hari yang kubenci.

Pandanganku kosong, aku hanya menemukan kaki langit yang berbungkus hutan cemara.

Tetapi aku yakin saja, cepat atau lambat perubahan pasti terjadi. Orang Indonesia tak kurang pinternya. Dan melihat konsisi masyarakat yang ajaib ini, semua akan menjadi normal tidaklah mustahil. Bayangkan saja, bahkan di tengah gelombang pandemi saja masih banyak orang-orang yang dapat beraktifitas normal. Hanya saja volumenya sedikit berbeda, karena ada sedikit shock momment aja.

Seperti anekdot satir mantap jiwa ini, “Virus-virus tak tampak di bandara, mall-mall, pasar-pasar dan tempat keramaian, virus tampak jelas di tempat-tempat ibadah.”

Orang Indonesia adalah orang-orang yang paling kreatif, Undang Undang saja dapat dipelintir, harga barang yang dipatok 100 ribu aja bisa ditawar 10 ribu ha ha ha. Pokoknya orang Indonesia adalah orang yang kreatif dan pinter mencari celah. Cepat atau lambat, keadaan yang memaksa ini akan melahirkan jenius-jenius baru.

Percaya saja, kebangkitan selalu berawal dan tumbuh di atas krisis. Kebangkitan Nasional misalnya, yang kemarin tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, tumbuh di atas krisis sosial dan kemanusiaan. Kebangkitan akan tumbuh di atas krisis. Dan uniknya kebangkitan-kebangkitan yang ada selalu dimulai dari pendidikan dan pengetahuan; Kebangkitan Islam di zaman Jahiliyah, Dinasti Abbasiyah adalah bukti dari pendidikan. Kebangkitan Eropa, Amerika, Perancis, Revolusi Inggris, Revolusi India… semuanya berawal dari kesadaran yang ditumbuhkan dari pendidikan dan pengetahuan.

Kebangkitan dari krisis yang kita harapkan ini, layaknya dimulai dari pendidikan. Mari merawat dan memulai dari menyebarkan informasi yang benar dan berhenti membicarakan kabar bohong. Atau kebohongan terpaksa akan terbongkar dan pelaku pembohongan akan terusir dan hina. Orang-orang yang tidak punya kapasitas gak usah ngomong deh, yang tidak punya pengetahuan gak usah sok tahu. Sadar diri aja.


Bonus:

Sehabis jogging, menulis jurnal pagi. Mungkinkah ini “New Normal” ku? Anyway ada gak sih yang mau membayar atau merekrut diriku untuk menulis jurnal pagi? Kali aja ada, bisa buat tambahan penghasilan ha ha ha

3 thoughts on “Jurnal Pagi: Normal Baru atau Ketololan Baru?

  1. Membaca tulisan ini, seperti bercermin pada diri sendiri. Sulit mengabaikan perasaan prasangka, pikiran yang tidak menentu sana dan sini pada situasi yang sangat tidak biasa saat ini. Saya pikir sebelumnya, saya akan bisa beradaptasi dengan keadaan baru ini, tapi kenyataannya sulit. Saya sulit melihat new normal sebagai sesuatu yang normal.

    Entah apa yang akan terjadi nanti, saya memutuskan untuk menikmati hari ini, detik ini dengan sepnuh hati. Saya harap Mas Andi juga demikian.

    Semangat untuk menulis seri jurnal pagi ini, Mas Andi.

    1. Terima kasih, Mbak Ayu, untuk tanggapannya. Ya pelan-pelan kita akan menapaki situasi itu, ya alon alon waton kelakon lah kalau kata orang Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: