Jurnal Pagi: Merayakan Kebahagiaan di Hari Ini Bukanlah Sebuah Ironi

Pagi-pagi seperti biasanya, di hari kedua bulan Syawal ini aku melanjutkan rutinitas jogging. Masih sama seperti rutinitas kemarin di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu. Setelah sholat subuh dan ngaji aku keluar membelah udara di antara rerimbunan pohon-pohon yang rasanya semakin dingin ketika memasuki akhir bulan Mei dan akan mencapai titik terendahnya nanti di bulan Juli dan Agustus. Hari ini pula Jurnal Pagi, setelah libur sehari di hari pertama Idul Fitri, akan kembali mengisi jejakandi, dan insyaalah masih akan terus lanjut sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Sepanjang jalan di luar desa, dekat dengan lapangan sepak bola tempat dulu aku bermain menjadi gelandang nomor 6, banyak sekali kertas bekas petasan bertebaran, berderet-deret panjang sekali dan menumpuk di pinggir jalan. Pemandangan yang selalu membuatku heran, dari mana orang-orang ini bisa mendapatkan bubuk petasan? Sinting. Dua malam yang lalu, langit desa yang gelap berubah merah membara. Kembang api meletus di seluruh cakrawala selatan dan timur—di utara dan barat tidak ada kembang api, karena di sana hutan luas terbentang jauh hingga seperti langsung berbatasan dengan ujung dunia. Di timur jauh, di desa-desa di luar sana, kembang api pun melayang di udara. Aku enggan menyebut perayaan itu sebagai sebuah ironi di tengah krisis seperti ini, itu pun kalau benar memang sedang krisis, orang-orang desa sepertinya tak mengenal krisis, dari kembang api yang paling murah hingga yang paling mahal—ada yang harganya 60 ribu sebatang—telah meletus di udara. Orang-orang desa tampak menghayati betul, ketika hari raya tiba, ia akan dirayakan dengan suasana gembira. Mereka yang sedang bersedih, akan kembali bersemangat. Mereka yang punya hutang, akan sejenak melupakan hutangnya, dan mereka yang sedang sakit akan meneteskan air mata kebahagiaan karena menjumpai Ramadhan dan hari raya. Sehingga jika gema takbir dan sholat Id berjamaah ditiadakan jelas akan terasa sangat aneh.

Pemerintah tidak akan pernah bisa mengintervensi persoalan yang berkaitan dengan agama yang sifatnya sangat personal tanpa melibatkan peran Ulama atau tokoh-tokoh agama yang bersangkutan. Ya kita sudah melihat kenyataannya sendiri—pemerintah menginstruksikan untuk sholat Id di rumah saja, nyatanya banyak umat yang tak mengindahkan instruksi tersebut. Di desa saya misalnya, sholat Id tetap dilakukan di luar rumah.

Untuk menghindari keramaian yang terlalu penuh, jamaah sholat Id tersebut dibagi menjadi empat kelompok dan dilaksanakan di empat tempat yang berbeda; Masjid Jami’, Mushola, Langgar dan TPQ, sehingga jamaah sholat sunnah tersebut tidak seramai dan sepenuh biasanya.

Pada mulanya sholat Id tidak akan diadakan sama sekali—dua malam sebelum hari raya, sempat terjadi cekcok dan debat antara pemuka agama dan pejabat pemerintah. Perwakilan dari pejabat pemerintah tingkat desa bersikeras sama sekali tidak akan mengijinkan terselenggaranya sholat Id. Sementara ulama melihat bahwa desa kami adalah desa yang relatif aman dari wabah, steril, dan tidak ada laporan kasus sehingga sholat Id tetap akan diadakan. Tebak, suara mana yang lebih didengar oleh masyarakat? Suara ulama. Resolusi akhirnya, sebagai jalan tengah, tokoh-tokoh agama tersebut membagi ke dalam empat jamaah di empat tempat yang saling berjauhan; mengatur sedemikian rupa sehingga ada jarak antar jamaah, dan sebagian besar mengenakan masker. Khutbah yang disampaikan pun sangat singkat, hanya diambil rukun khutbahnya saja, lebih kurang 5 menit khutbah sudah selesai.

Pemerintah tidak akan bisa mengintervensi rakyatnya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat personal—dalam hal ini berkaitan dengan agama—tanpa melibatkan ulama dan tokoh-tokoh agama yang bersangkutan. Selama ini pendapat ulama sering dikesampingkan, dalam artian tidak dinomorsatukan, hanya didatangi saat-saat kampanye dan saat-saat mendesak. Gus Nadirsyah Hosen dalam wawancaranya bersama Tempo ketika ditanya ketika beliau di tanya, bagaimana Anda menilai peran pemuka agama dalam penanganan pandemi? Jawab Gus Nadirsyah Hosen, “Pemerintah sering membutuhkan ulama atau pun tokoh agama kalau sudah terjadi “kebakaran”. Jadi fungsi ulama hanyalah pemadam kebakaran. Ibaratnya, kalau kata para kiai, para ulama itu seperti diminta mendorong mobil mogok. Begitu mobilnya sudah bisa jalan, kami ditinggal.”

Lebih lanjut, menurut beliau, yang seharusnya dilakukan pemerintah yakni seharusnya pemerintah dilibatkan sejak awal. Misalnya soal mudik. Mudik itu bukan aturan agama. Tidak ada di Al-Qur’an, hadis, dan kitab fikih. Tapi mudik adalah tradisi yang berkenaan dengan perayaan besar umat Islam, yaitu Idul Fitri. Ada 20 juta orang yang ingin mudik. Tanpa aturan dari pemerintah, ulama tidak bisa melarang karena itu bukan wilayahnya. Tapi kalau pemerintahsejak awal melarang mudik, ulama bisa menenangkan umat agar mematuhi larangan mudik dengan bahasa “berdasarkan kemaslahatan”, “agar menghindari kemudaratan”. Jangan sampai setelah ricuh dan gaduh baru ulamanya dipanggil.

Klau kita mau melihat sejarah masa lalu, tidak ada sebuah pemerintahan yang bisa mengabaikan peran tokoh agama. Siapa yang melantik seseorang menjadi sultan atau raja, ya tokoh agama itu sendiri. Dalam masalah pemerintahan pun tokoh agama selalu dilibatkan. Di kerajaan Majapahit misalnya, seorang raja atau ratu, selalu sowan dan meminta do’a restu kepada pembesar agama Hindu Syiwa dan Budha Mahayana ketika hendak memutuskan suatu perkara besar yang dikenal sebagai “Sabdo pandito ratu”, begitu keputusan itu disabdakan maka telah menjadi titah, gak ada revisi-revisian. Para Dharmmadhyaksa Ring Kasaiwan dan Dharmmadhyaksa Ring Kasogatan ini memiliki peran yang sangat vital, sehingga raja atau ratu yang sekalipun kekuasaannya sangat absolut itu tetap akan sowan dulu dan mempertimbangkan kebijaksanaan dan peran agamawan. Lain lagi ketika kesultanan Demak dan kesultanan Giri berdaulat, peran walisongo sungguh tak bisa diremehkan.

Di tengah-tengah kebingungan seperti gabah yang dijungkir balikkan di dalam tampah, di tengah setress yang melanda dan kesedihan yang menyayat, merayakan sebuah kebahagiaan di situasi seperti ini bukanlah sebuah ironi. “Bingung secukupnya. Setres secukupnya… sedih secukupnya. Gembira sebanyak-banyaknya.” ~ Joko Pinurbo

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Selamat hari raya idul fitri 1441 H, Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya dan semoga amal ibadah dan puasa kita diterima Allah Swt. Amin amin amin ya rabbal alamin.

3 thoughts on “Jurnal Pagi: Merayakan Kebahagiaan di Hari Ini Bukanlah Sebuah Ironi

  1. Selamat hari raya Idul FItri, Mas Andi. Mohon maaf lahir dan bathin, dan semoga perayaan hari besar pada tahun ini menjadi pelajaran baik untuk kita semua.

    Saya terkesan dengan topik mengenai ulama dan pemerintah dalam menghadapi pandemi di negera kita, Mas. Banyak yang mengatakan, “Pemerintah harus lebih intens membawa para ulama untuk menghadapi pandemi ini”, mengingat banyak masyarakat kita yang lebih mendengarkan ulama.

    Perayaan hari besar keagamaan saya tahun ini pun dilakukan secara online. Tapi, saya rasa tidak mengurangi esensi dari ‘perayaan’.

    1. Terima kasih, Mbak Ayu. Terima kasih terima kasih. hehe Iya mohon maaf lahir batin juga ya. Iya semoga menjadi hal baik bagi kita semua umat manusia Amin.

      Sepertinya itu juga terjadi di berbagai banyak negara dengan latar belakang agama apa pun, biasanya agama mayoritas. Masyarakat lebih mendengarkan suara pemuka agamanya ya. Mbak Ayu yang sudah membaca Sapiens juga mengerti mengapa agama begitu memiliki peran yang sentral dalam sejarah umat manusia, dan petinggi agama mendapatkan tempat yang istimewa. Seperti khayalan tentang Peugeot? seperti itulah kira-kira.

      Syukurlah. masih bisa merayakan perayaan suci. Paling tidak kita masih bisa merawat tentang hal yang kita miliki.

      1. Ia, Mas Andi. Semoga ya.

        Saya suka pesan dibagian akhir komentar, “..Kita masih bisa merawat hal yang kita miliki”. Good point!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: