Jurnal Pagi: Menjadi Damai karena Menerima Keadaan dengan Ikhlas dan Merelakan Semua yang Terjadi

3

Berhenti membeli buku baru, sebuah kalimat tak lengkap yang sering bergema dan berulang-ulang dalam kepalaku. Sebuah hal yang masih sulit kulakukan kecuali aku benar-benar tak punya uang. Ketika aku punya sedikit uang, aku menabungnya sampai cukup untuk membelinya. Ketika uangnya tak cukup untuk membeli yang baru, yang bekas pun jadi. Aku tak mengerti mengapa, mungkin seperti yang dibilang Pak Cik Andrea Hirata, aku menderita penyakit gila nomor 37; obsesif komplusif.

Ketika kamu sudah membeli buku, maka yang harus kamu beli berikutnya adalah waktu. Waktu untuk membaca dan memahaminya. Dan kamu akan tahu apakah buku itu penting dibaca atau tidak. Seperti yang dikutip oleh Leo Tolstoy pada Calendar of Wisdom, “Bacalah buku terbaik, kalau tidak kau akan mendapati bahwa kau tidak punya waktu.” Pada kutipan yang lain dia berpesan, “Ada terlalu banyak buku berkualitas rata-rata yang hadir hanya untuk menghibur pikiranmu. Oleh karenanya, bacalah hanya buku-buku yang tanpa ragu dianggap bagus.”

Kadang sering kali terbesit di benakku, “Betapa beruntungnya mereka yang sudah mendapatkan akses buku sejak masih kecil, yang berada di tengah keluarga yang memiliki tradisi membaca.” Mereka dapat menemukan mutiara-mutiara kehidupan seiring dengan waktu yang mereka lalui. Aku tidak lahir dari keluarga dengan tradisi membaca buku, sehingga aku merasa sangat terlambat untuk menggali mutiara-mutiara makna, di lain sisi aku harus menjalani hidup yang lebih bermakna, waktu yang kumiliki semakin sempit. Memang sejak aku menamatkan novel pertamaku di kelas 2 SD, aku sudah sering bolak-balik ke perpustakaan sekolah tetapi koleksi bukunya sangat kurang. Terkadang aku juga sudah berada di pinggir lemari kerja pakdhe ku yang memiliki buku-buku sumbangan dari pemerintah kala itu, bukan sebuah buku mengenai realitas kehidupan. Tetapi di sana, dari pakdhe ku aku belajar mengetik untuk pertama kalinya, menggunakan mesin tik tua dengan pita yang diolesi tinta, kadang kertas karbon diselipkan di antara dua kertas untuk membuat salinannya sekaligus. Aku punya pengalaman yang bisa aku banggakan yang tidak dimiliki oleh orang lain di usiaku.

Kenangan indah seperti itu yang mungkin masih mendorongku untuk membeli buku, sebagai investasi masa depan. Kenanagan seperti itu pula yang membuatku lebih memilih buku fisik daripada ebook—beberapa buku digital kubeli karena terpaksa, tidak beredar di Indonesia atau harganya terlampau mahal. Bisa saja aku menjual buku-buku itu, seperti yang dilakukan kebanyakan orang yang sudah memiliki tradisi membaca sudah lama. Mereka menjualnya guna menerapkan metode KonMarie. Menjual atau menyingkirkan buku-buku yang sudah tidak terbaca.

Selama masa pandemi Corona, Sejak Maret sampai bulan ini, aku ‘terlalu banyak membeli buku’ sementara kecepatan membacaku sedang menurun oleh karena keadaan ini, dan semua jadwalku begitu kacau. Orang-orang mungkin berpikir, selama pandemi aku lebih banyak di rumah, lebih punya banyak waktu untuk membaca. Kenyataannya tidak. Ruang baca dan menulisku tiba-tiba berubah menjadi ruang kerja. Dan itu membuat dada ini terasa seperti sesak. Karena bosan pula, di masa pandemi ini, aku yang tidak pernah main video game di hape dan hanya pernah main PES atau WE itu pun dulu sekali ketika masih sekolah dan kuliah, aku membeli dua game. Iya membeli, karena sick dengan iklan yang muncul hampir tiap lima menit. Bukan hanya aku saja sih yang mengalami aneka perubahan ini, semua orang terdampak dan merasakan hal yang sama. Ada yang setress ada yang gila dan cemas.

Tetapi berkat keadaan ini pula, aku kembali menemukan rutinitas yang sudah aku tinggalkan bertahun-tahun, rutinitas yang membuatku begitu bahagia, rutinitas yang mengembalikan sebagian jati diriku; jogging. Aku begitu bahagia, aku menemukan sebagian dari diriku pada olah raga lari setiap pagi ini. Perlahan-lahan aku bisa menerima keadaan, menjadi ikhlas, dan merelakan semuanya yang telah terjadi dan sedang terjadi ini. Hidupku menjadi lebih tenang dan damai. Kurasakan kedamaian dalam tiap hentakan kaki dan engahan napas, pada setiap meditasi dengan latar musik alam; kicau burung-burung, desahan angin dan daun-daun dan deru arus sungai yang menghujam di kedalaman jiwaku.

jejakandi

3 thoughts on “Jurnal Pagi: Menjadi Damai karena Menerima Keadaan dengan Ikhlas dan Merelakan Semua yang Terjadi

  1. akan terhenti dengan sendirinya pada dua hal, kebutuhan yang lain lebih butuh diutamakan (biasanya setelah berkeluarga) atau sampai pada titik jenuh, nah untuk titik jenuh ini yang tak bisa diprediksi akan terjadi apa tidak

    1. Bener nih ramalan Pak Narno, aku mulai menahan diri beli buku karena sudah berkeluarga sekarang. Ada berbagai kebutuhan yang mendesak yang menjadi tanggung jawabku. Hihihi

  2. Bener nih ramalan Pak Narno, aku mulai menahan diri beli buku karena sudah berkeluarga sekarang. Ada berbagai kebutuhan yang mendesak yang menjadi tanggung jawabku. Hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Jurnal Pagi: Tak 'kan Bermakna Tanpa Cinta

Mon May 18 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/jurnal-pagi-menjadi-damai-karena-menerima-keadaan-dengan-ikhlas-dan-merelakan-semua-yang-terjadi/ Kadang aku ingin melakukan suatu hal, tak usah banyak-banyak, satu hal saja, tetapi aku bisa melakukannya dengan dedikasi yang tinggi penuh determinasi dan bertahan dalam waktu yang sangat lama. Tetapi sebagai orang yang mudah bosan, menemukan satu hal itu, apa pun itu, ternyata sangat sulit. Bagaimana […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: