Jurnal Pagi: Mengawali Tatanan Kehidupan Baru dengan Disiplin Tinggi

Ketika fajar tanggal 02 Juni tahun 2020 memecah di timur, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk melakukan penyesuaian baru dalam tatanan kehidupan baru; ngaji lebih banyak, berlari lebih cepat dan menulis lebih cepat, singkat dan padat.

Pagi ini seperti hari pertama ketika aku mengawali jogging dan jurnal pagi pada bulan Mei kemarin; dingin dan sepi. Langit begitu gelap, mendung menghalangi sinar bulan dan gemintang beserta planet-planet indah itu. Kehidpuan pagi pasca lebaran benar-benar berubah 90 derajat. Tak ada suara gema Al-Qur’an dari masjid. Tak ada riuh anak-anak yang berkerumun dan bermain hape di teras rumah dan pos ronda. Tak ada bapak-bapak yang jelan-jalan pagi. Hanya embun-embun sisa hujan yang masih sama, yang akan berjatuhan dari dedaunan yang terhembus angin. Selebihnya berubah.

Pada jurnal yang lalu aku menulis bahwa aku selalu kesulitan untuk menentukan indikator dari kedisplinan yang harus aku miliki. Sekarang aku tahu—selama aku masih jogging, menulis jurnal pagi, menulis bebas di sore hari dan mengikat makna di malam hari, selama itu pula berarti aku telah mencapai standar minimal dari kedisiplinanku. Ketika fajar hari pertama bulan Juni kemarin memecah, aku sudah membulatkan tekad untuk lebih disiplin dan lebih giat daripada sebelumnya. Sekarang aku memulainya hari ini ketika tatanan kehidupan baru dimulai.

Jadi mengapa lari pagi dengan ritme 3 hari berturut-turut, hari keempat istirahat kemudian hari ke-5 dan 6 lari lagi dan istirahat hari ke-7 ditambah dengan menulis jurnal pagi, menulis bebas di sore hari dan mengikat makna di malam hari harus menjadi standar minimal? Karena jika aku bisa menerapkan itu semua, aku tahu aku telah menyisihkan sedikit dari waktuku untuk melakukan sesuatu yang sangat berharga.

Lari pagi akan menjaga kebugaran fisikku. Udara yang masih bersih akan mengisi paru-paru dan melancarkan aliran darah ke otakku. Dengan demikian orakku akan terjaga agar selalu encer dan siap untuk memikirkan hal yang berat. Lalu jurnal pagi akan melatih diriku untuk menulis serba cepat dan sederhana. Dimana kesederhanaan dalam tulisan adalah bentuk lain dari kemampuan seorang penulis untuk menyuarakan pikirannya dengan lebih jelas. Kemudian menulis bebas akan membantuku untuk membentuk kreativitas yang unik yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku. Dan mengikat makna akan membantuku mengingat dan menjaga agar ingatanku selalu tajam. Setelah itu aku bisa menambah satu agenda lagi–menyisihkan satu jam setiap hari untuk digunakan sebagai bahan diskusi dwimingguan.

Jadi hari ini aku mengaji lebih banyak daripada biasanya dan berlari lebih cepat dengan jarak tempuh yang sama seperti biasanya namun jauh lebih cepat untuk menyingkat waktu. Jika jurnal pagi harus terbit di jejakandi, maka jam 6 lebih 15 harus sudah selesai ditulis. Sebab editing selalu memakan waktu lebih lama. Lalu aku akan segera bersiap-siap untuk berangkat kerja dan hadir di kantor 15 menit lebih awal untuk membaca koran atau majalah.

Demikianlah jurnal pagi di era new normal. Jika jurnal ini bermanfaat dan menginspirasimu, maka ucapkanlah terima kasih pada dirimu sendiri lalu bersikaplah keras kepada dirimu sendiri untuk mendisiplinkan diri. Karena hanya dengan disiplin, orang yang berbakat dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Selebihnya hanya masalah kesempatan. Salam saya Andy Riyan dari Desa Hujan

6 thoughts on “Jurnal Pagi: Mengawali Tatanan Kehidupan Baru dengan Disiplin Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: