Jurnal Pagi: Lupakan Sejenak Gelisahmu Itu

Pagi kurasakan datang lebih cepat dari biasanya. Waktu-waktu yang ada kurasakan semakin berhimpitan dan padat. Sesungguhnya ia tak pernah mempercepat dirinya sendiri apalagi melambatkannya. Tetapi ketika normal baru perlahan-lahan mulai bergeliat dan merangkak, kelelahan yang kurasakan berlipat ganda. Tadi malam aku tertidur dengan buku berada di pelukanku. Tertidur ketika hendak ngebut guna mengejar jumlah bacaan dan ingin lekas menghabiskan buku TBR (to be read) ‘sepertinya’ merupakan masalah buruk. Tetapi aku menganggapnya adalah hal yang baik, aku bisa beristirahat dengan sangat damai dan tak pernah mencemaskan hari esok.

Buku-buku sejenak bisa membantuku melupakan hari esok. Membuatku lupa akan kabar-kabar terbaru dari harga-harga jual komoditas yang kian jatuh dan ambruk. Bisa sejenak menenangkanku dari padatnya jadwal yang harus kulampui keesokan harinya. Bisa mengobati lelah pikiranku, ketika kemarin sampai jam 10 malam aku masih bekerja menuntaskan deadline-deadline yang tertunda. Sejenak mengobati hatiku yang sepi dan dirundung galau serta kerinduan yang tak jelas dari mana asalnya dan kemana ia akan bermuara.

Selama pandemi ini aku seperti tidak bisa menghentikan hasratku untuk membeli buku-buku baru dan list tbr ku semakin meningkat saja. Sementara waktu yang harus kubeli semakin mahal. Untuk bulan Juni saja, kiriman sudah datang sejumlah 7 eksemplar. Sementara tbr bulan-bulan sebelumnya di tambah tbri tahun lalu masih ada sekitar 20 buku yang belum kubaca. Selama pandemi rata-rata perbulan aku membeli buku 6 sampai 15 eksemplar. Sementara kemampuan bacaku tidak meningkat, andai pun ia meningkat ia sudah bertempur habis-habisan, mencuri waktu dengan mati-matian. Sebulan paling-paling aku cuma mampu menyelesaikan 4 buku yang kalau dirata-rata jumlah halamannya sekitar 600 halaman. Padahal dari semua tbr itu, aku sudah menyeleksinya dengan ketat; “cuma benar-benar buku yang akan kubaca yang hanya kubeli.

Sosial media memang racun, kok. Sial. Di masa pandemi ini, tiba-tiba saja ada banyak diskon besar-besaran. Bikin aku gelap mata, membeli dan membeli. Kayaknya mulai sekarang aku kudu mengencangkan perut dan menahan godaan, hanya ada satu buku lagi yang ingin sekali kubeli. Ia baru akan terbit bulan Juli nanti. Setelah itu aku akan menahan dengan sangat kuat sampai akhir tahun. Semoga saja bisa.

4 thoughts on “Jurnal Pagi: Lupakan Sejenak Gelisahmu Itu

  1. Wgwgww saya belum ada banya duit, jadi pas liat banyaknya diskonan, kayak, ah, yaudah sih, nga butuh ini wgwgw.

    tapi dulu pas masih ada duit dan liat kamera analog, langsung belibeli wgwgw.

    1. Eh tapi duit gak banyak amat, dompetnya menjerit juga.

      Yo sama aja, Mas. Kalau sudah ngarah ke urusan hobi memang sering kalap, nggak ada duit aja, tiba-tiba bisa jadi ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: