Jurnal Pagi: Lupakan Gelisahmu

10

Sinar kuning yang agak kemerah-merahan itu belum begitu banyak ketika aku keluar dari rumah. Jingga yang lebih kusukai daripada jingga yang satunya ketika berada di barat itu belum menyemburat di ufuk timur, ketika aku menerbangkan kaki-kaki kekar ini keluar dari Desa Hujan, bintang timur masih menyala dan bulan masih temaram di bawah selaput awan tipis di ujung barat. Lari pagi memang hal yang selalu aku sukai, peluh yang berceceran seperti membawa gelisahku keluar bersamanya.

Sambil mendengarkan musik klasik aku kembali menuliskan jurnal pagi ini. Aku memilih nomor Piano Trio No.7-nya Beethoven “Archduke”. Entahlah kenapa aku memilih nomor itu, meski aku lebih suka dengan “Moonlight Sonata”. Mungkin karena Archduke lebih cepat dan menghentak begitu dalam. Lari Pagi kali ini membawaku ke salah satu tempat yang penuh dengan kenangan. Aku kembali ke tempat yang lebih dari sepuluh tahun tak pernah kudatangi; lapangan sepak bola tempat dulu aku bermain menjadi gelandang nomor 6. Aku selalu suka dengan tempat itu, selain itu adalah tempat di mana aku merayakan hobi dan kebebasan, di tempat itu juga dulu aku bertemu dengan Bunga Desa dari desa tetangga. Ia bahkan selalu menonton ketika aku bermain dalam kualifikasi di kejuaraan sepak bola tingkat desa. Vina; ialah nama Bunga Desa itu, tetapi aku selalu memanggilnya Dinda.

Aku berlari dan terus berlari sampai dua kali putaran di lapangan kelabu dan gelap yang kira-kira diameternya 30 meter itu. Lapangan itu kini tampak menyedihkan. Meski sudah dibangun, diperluas dan diberi dinding, tak ada anak muda yang bermain bola lagi di sana. Ketika aku keluar dari rumah sejak tiga hari yang lalu, setiap pagi, selalu aku jumpai anak-anak usia SD dan SMP sudah pada berkerumun di pos-pos ronda, beberapa ada yang berada di balai-balai, mereka asik dengan hapenya masing-masing. Anak-anak lebih suka bermain psikologis daripada bermain fisik. Sepertinya tidak ada anak lagi yang suka dengan olahraga sepakbola atau olahraga aerobik seperti jogging dan marathon. Mudah-mudahan aku salah. Karena aku sangat sadar betul, meski lebih suka bekerja dan bermain yang lebih mengandalkan psikologis dan berpikir, tetapi olahraga fisik sangat penting; baru tiga hari berturut-turut aku memulai lagi lari pagi, tapi dampaknya sangat signifikan pada perkembangan emosional dan spiritualku. Aku tidak mungkin akan melanjutkan kebiasaan ini, jika tidak berdampak signifikan. Ketika jogging, aku bisa melupakan gelisahku. Aku masih ingin berlari jika tidak ingat kalau hari ini aku harus pergi ke kantor.

Sesampainya di rumah, setelah latihan pernafasan, aku langsung pergi ke ruang baca, dan menemukan memo yang kutulis dari surat kabar kemarin.

Pandemi Covid-19 ini, bukanlah pandemi yang main-main. Berita yang kubaca, di Korsel sana telah terjadi ledakan kasus baru Covid-19. Korsel, yang dalam kasus penangan pandemi, lebih baik dari Amerika itu pun kini terancam oleh gelombang baru ledakan coronavirus yang sebelumnya berhasil mereka tangani dengan baik. Terjadi 54 kasus dalam semalam setelah karantina dilonggarkan. Berita ini membuatku begitu waspada, ternyata tidak semudah itu ya melawan Covid-19. Sampai belum benar-benar berakhir kewaspadaan harus selalu dijaga, duh!

Berita lain dari dalam negeri; laporan netizen bikin geram juga, tadi malam di McD Sarinah keramaian membludak. Katanya itu hari terakhir dari McD sebelum tutup, sehingga orang-orang berbondong-bondong ke sana; salah satunya ada yang melaporkan mereka datang hanya untuk selfi dan mengabadikan momen terakhir sebelum tutup, duh!

Sebagai penutup, biarlah screen shoot ini yang berbicara. Males ngetik!


NB: Gambar-gambar tadi aku pungut langsung dari twitter, tanpa ijin tentu saja…. ahsudahlah

jejakandi

10 thoughts on “Jurnal Pagi: Lupakan Gelisahmu

  1. mengenai yang kumpul di McD Sarinah itu… mereka adalah kaum ignorant. maaf, aku sangat marah sama mereka itu. merasa bangga meski sudah melakukan kebodohan, hanya demi merayakan kenangan yang tentu saja terjadi di masa lalu dan kemudian mengancam masa depan.

    1. Aku juga kesel banget. Silakan marah-marah, Bang Joe, banting hape juga boleh, tapi akibatnya ditanggung sendiri ya ha ha ha. Aku sampai bingung mau ngomel apa sama orang-orang ini, akhirnya… mendingan aku ndengerin lagu-lagunya Kangen Band yang kata Fedi Nuril itu norak. Lah orang ini juga sama-sama norak. Ha ha ha

      1. ga ah, ga mau banting hape… entar susah mau posting tulisan hihihihihii…. banting sendal jepit aja lah ya…

      2. Judulnya FTV able itu, Bang! Protagonisnya cewek cantik dan kaya jatuh cinta sama pemuda penjual kerupuk. 😀

      3. dan ternyata itu tukang kerupuknya anak orang kaya yang lagi disuruh belajar oleh ortunya untuk jadi orang sederhana supaya bisa mandiri dan ternyata cewek cantik itu adalah adik satu bapak tapi lain ibu.
        luar biasa! akan jadi FTV yg dahsyat nih.

      4. Bener-bener luar biasa. Endingnya twist banget. Mereka pun patah hati dan tragis. Bagaimana kelanjutan Cinta Sedarah ini, Bang?

        Kalau belajar dari novel Samurai-nya Takashi Matsuoka, kakak dan adik tidak akan timbul hasrat, dan jatuh cinta. Tetapi kalau belajar dari One Hundred Years of Solitude, keduanya bisa bernafsu satu sama lain apalagi tidak tahu kalau mereka bersaudara. Mereka biasanya sudah bercinta duluan. Lalu kalau mereka akhirnya menikah dan punya anak, anaknya akan lahir dengan memiliki ekor babi. ???? Itu yang terjadi pada Aureliano yang terakhir dari dinasti Buendía

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Jurnal Pagi: Menyederhanakan Hidup

Tue May 12 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/jurnal-pagi-lupakan-gelisahmu/ Di hari aku bilang, aku sedang tidak baik-baik saja, memang aku sedang tidak baik-baik saja. Apa yang kurasakan, yang kualami dan yang kuamati dari orang-orang di masa ini, terlebih lagi generasi-generasi melenial adalah krisis personalitas. Ya krisis personalitas bukan identitas. Eh yang mana ya personalitas apa […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: