Jurnal Pagi: Kerinduan Yang Sempurna

Pagi benar-benar dingin, aku sudah lari sejauh 3km dan kembali lagi sehingga total jarak tempuhnya 6km, tetapi tak ada keringat yang keluar. Rutinitas yang kujalani hampir setiap hari dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit itu telah membawaku ke tempat seperti biasanya, keluar dari desa dan sampai di tepi sungai Selatan. Pagi ini benar-benar dingin meskipun tidak ada kabut yang turun sehingga langit begitu benderang menampakkan sinar bintang-bintang terakhir dan cahaya indah dari planet-planet sebelum meredup oleh pendaran sinar yang cepat sekali memecah di seluruh belahan nabastala.

Dari arah luar, rumah-rumah desa tempat kami tinggal yang berada di barat itu tampak gagah menjulang seperti dipahatkan di bukit-bukit tempat Desa Hujan itu berada. Tembok-tembok putih itu kemudian berubah warna dengan pergeseran yang begitu lembut, mula-mula putih dan pucat kemudian menjadi kuning keemasan ditimpa pendaran matahari yang sejengkal kemudian akan bersinar di atas Gunung. Ribuan burung walet keluar dari sarangnya dan langsung melesat membumbung ke angkasa lalu menukik jatuh dan menyambar dedaunan di pucuk pohon-pohon yang tumbuh sangat tinggi untuk menyantap serangga-serangga yang menjadi makanan mereka.

Angin kemudian bertiup semarak menyempurnakan pagiku yang berselimut dingin dunia, yang tidak hanya membuat aku gagal berkeringat tetapi sempurna membuat dingin kopiku yang disajikan dengan roti beku. Secangkir kopi dan selembar roti beku atau beberapa potong biskuit adalah kesukaanku untuk kunikmati sambil membaca atau menulis jurnal pagi. Sebenarnyalah dunia yang begitu dingin atau aku yang berselimut dingin di tengah kerinduan akan kehangatan cinta, canda dan tawa. Anggap saja dua-duanya sempurna.

Sekarang matahari telah bersinar, tidak tepat di timur, 25 derajat ke utara, atau bisa dikatakan terbit di timur laut di atas bukit-bukit sunyi. Ia bersinar begitu indah, dan seperti kekasih hati, akan selalu membuatmu tersenyum meski dunia sementara sekarang ini begitu suram.

Suramnya dunia oleh suara-suara putus asa yang menuntut keadilan, rintih sedih orang-orang yang kehilangan pekerjaan hingga carut-marut data penerima bantuan JPS. Suramnya dunia di tengah normal baru yang masih menyimpan kekhawatiran dan seribu ketakutan lainnya.

Di tengah darurat sosial akibat pandemi muncul teror, isu rasialimse yang kian memuncak dan adanya pembungkaman terhadap kritik, semakin melemahkan demokrasi. Muncul pula sikap apatis yang entah tujuannya adalah mengail atau sistem pertahanan diri; munculnya kepentingan-kepentingan politik di atas kemanusiaan.

Kesenjangan pendidikan dan ekonomi kian terasa antara kota dan desa-desa. Pandemi ini secara tidak langsung membongkar kebobrokan dan carut-marutnya pendidikan di Indonesia. Pendidikan ambruk, anak-anak sekolah kebingungan tidak tahu lagi bagaimana cara belajar. Kurikulum belum berhasil mengajarkan anak untuk dapat belajar mandiri. Sekolah-sekolah masih belum bisa mewujudkan dasar dari sebuah pendidikan, yaitu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang di luar dugaan.

Nampaknya pendidikan belum akan bergulir dalam waktu dekat sebab masih terjadi kasus yang cukup besar; sampai bulan Mei lalu, terdapat 129 korban meninggal dari 3ribuan anak yang berstatus dalam perawatan. Virus ini tidak kenal usia. Anak-anak pun rawan terpapar corona.

Belum reda, muncul lagi berita dari KPK yang mengendus kecurigaan kasus suap dan korupsi, ini berita suram atau berita baik ya? Ah enthlah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: