Jurnal Pagi: Kembali Normal? Tak Ada Jalan Pintasnya

Tidak ada jalan pintas ataupun jalur cepat untuk kembali normal. Yang aku alami, lari pagi dan mengisi jurnal pagi di jejakandi setiap hari bukanlah suatu hal yang normal, ia adalah sesuatu yang begitu baru pada lima tahun terakhir ini. Seseorang bertanya padaku, “Bagaimana caranya agar bisa menulis setiap hari?” Aku pun berpikir keras untuk menjawabnya, apakah memang benar-benar dibutuhkan sebuah cara agar bisa menulis setiap hari? Tak ada jawaban yang lebih baik dari ini; “Ya menulis saja lah setiap hari, pokoknya menulis.”

Tentu saja kedengarannya judes, tapi ya memang begitu. Kalau kamu ingin menulis setiap hari yang harus kamu lakukan ya menulis, bukan berbelanja kue atau membeli baju lebaran.

Tetapi kalau yang ditanyakan adalah bagaimana cara agar bisa menulis dengan baik setiap hari, tetap bisa menjaga kualitas dan kontinuitas, jujur saja, jawabanku adalah aku sendiri belum tahu. Tetapi aku sering menerapkan beberapa rumus yang telah saya pungut dari berbagai tempat, “Menulis adalah obat bagi jiwa yang tersesat. Kamu tidak perlu menjadi penulis yang baik, cukuplah saja menjadi penulis yang jujur, mengobati dirimu, menemani kesendirianmu dan menerangi jalan gelap hidupmu. Tulislah apa yang ingin kamu tuliskan sekarang, tak harus secepatnya berguna, tapi yakinlah suatu hari pasti akan ada artinya.”

Kemudian soal tulisan yang berkualitas, ini sangat sulit untuk diukur. Tetapi pahamilah, apa pun yang kamu tuliskan itu adalah cerminan dari pikiranmu. Jika ingin memiliki tulisan yang berkualitas, senantiasa segar dan baru maka yang harus kamu lakukan adalah teruslah memberikan input ke dalam pikiranmu. Bagaimana caranya? Membaca, mengamati, mendengarkan dan merasakan. Konsep menulis itu sederhana yaitu bagaimana kamu merumuskan pikiranmu ke dalam rangkaian kalimat. Kalimat-kalimat itu bisa diekpresikan dengan berbagai bahasa; simbol, linguistik, semiotik dan bahkan bahasa matematika.

Lalu mengenai rumus apa yang harus dipakai untuk menjaga kontiuitas? Tak ada jawaban yang lebih baik untuk ini lebih dari komitmen. Hanya komitmen yang bisa membantumu agar bisa konsisten terus menulis setiap hari. Sebab apa pun itu, sekalipun ia begitu menarik, jika dikerjakan terus-menurus dan berulang-ulang tentu saja lama-lama akan membosankan. Hanya komitmen itu yang bisa mengalahkan rasa bosan. Komitmen seperti apa yang kubangun untuk memenuhi harapan seperti ini? Komitmen untuk membahagiakan diri sendiri. Ya membahagiakan diri sendiri telah membantuku berkomitmen untuk menulis setiap hari. Aku punya sebuah sensasi gila ketika bisa mempertahankan suatu rangkaian rutinitas sepanjang mungkin. Rasanya semakin panjang rangkaian itu, aku semakin menggilainya. Dan akan sangat sedih seandainya rangkaian panjang itu mendadak terputus. Apa komitmenmu? Temukan dan jagalah hal itu selalu.

Memang seperti itulah, tidak ada jalan pintas ataupun jalur cepat untuk kembali normal. Karena situasai yang sedang kita hadapi ini bersinggungan dengan soal yang telah menjadi akar budaya. Bukan sebuah teknologi yang kapan saja bisa diupgrade, yang siap disulap kompatibilitasnya. Berdamai dengan cornona 2019 sebagaimana yang digemakan pemerintah agar segera memasuki situasi normal baru, bukan berarti menyerah, tunduk dan pasrah. Tetapi itu berarti kita akan beradaptasi dengan segala situasi yang telah menanti kita.

Manusia, sejauh yang aku ketahui merupakan penguasa rantai makanan. Makhluk hidup yang lemah namun paling sanggup untuk beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungan. Leluhur kita telah sanggup melewati berbagai zaman. Dari sesuatu yang lama menuju era yang baru. Leluhur kita telah melewati zaman es mencair, telah bertahan dari air bah di bahtera Nabi Nuh, bahkan yang masih segar, dunia telah beradaptasi dengan kehidupan modern setelah perang dunia pertama dan kedua meletus. Manusia telah beradaptasi dengan WA, padahal dulu SMS dan BBM adalah dewa.

Sesuatu yang baru pun kita alami di bulan Ramadhan kali ini… ya akhirnya menyinggung Ramadhan sestelah sebulan penuh tidak pernah menyinggungnya dalam tulisan. Di bulan Ramadhan kali ini, kita—lebih tepatnya aku—mengalami sensasi bulan puasa yang sungguh berbeda. Sungguh sangat tidak terasa, tiba-tiba saja bulan Ramadhan sudah sampai di ujungnya, sungguh nikmat. Tahun ini aku dapat menjalani Ramadhan yang tidak menggema-gemakan bilangan-bilangan pahala, tidak menghambur-hamburkan uang pada acara buka bersama yang terlalu hedonis dan mengumbar nafsu belaka, lebih banyak menginsyafi diri, merenung dan berpikir. Seandainya dari dulu Ramadhan memang seperti ini dan telah menjadi budaya, meraih kemenangan dengan sebenar-benarnya memerangi hawa nafsu dan keinginan-keinginan… bagaiman ya kira-kira bentuknya? Hemmmm. Alhamdulillah, puji syukur kuhaturkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kesempatan untuk menjumpai Ramadhan dengan kenikmatan yang berbeda ini, semoga Allah merahmati umat Islam khususnya, seluruh umat manusia umumnya dan seluruh alam semesta untuk cinta kasihnya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rosulullah Muhammad Saw dan keluarganya.

Mari Amigos! Mari kita rayakan Idul Fitri; kembali kepada kesucian. Mari rayakan Idul fitri sebagai tonggak kelahiran kembali guna beradaptasi dengan kehidupan dalam Normal Baru. Sebab bagi kita, terutama muslim, menuju Normal Baru sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Setiap kali Idul Fitri, kita mengalami kelahiran baru. Dan kelahiran baru kali ini adalah lahir dalam situasi yang baru, mulai hidup yang benar-benar baru, membuka lembaran baru dalam hidup dan ayo, Rek! Move on. Kita terima saja keadaan ini, relakan, ikhlaskan dan kita akan benar-benar meraih kemenangan sebagai hasil dari latihan dan tempaan hidup selama Ramadhan.

Demikian wallahu muafiq ila aqwawaitthariq, salam.

4 thoughts on “Jurnal Pagi: Kembali Normal? Tak Ada Jalan Pintasnya

  1. Bagiku, menulis adalah sebuah proses yang mesti dibiasakan setiap hari. Setidaknya setiap hari itu, kita bisa berlatih untuk memperbaiki kualitas tulisan kita. Dan ya, komitment adalah kunci atas kekonsistenan kita. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: