Jurnal Pagi: Batal Ngomongin Buku

Hei apa kabar jurnal pagi? Dari pada ngomongin new normal atau normal baru yang bisa disingkat jadi norba dan diplesetin jadi new orba mendingan ngomongin buku kali ya?

Tapi mau ngomongin buku juga terlalu pagi. Buku apa yang bisa diomongin di pagi-pagi begini, yang bisa ditulis secara singkat dan padat?

Kenapa agaknya aku mulai lelah ngomingin normal baru? Mungkin karena aku ngerasain sendiri kalau normal baru berasa banget kalau capeknya kuadrat. Kemarin aku ketemu rekan-rekan kerjaku, rata-rata mereka sudah pada bosan dengan situasi seperti ini. Bahkan mereka mulai enggan ngomongin coronavirus; ya kita ingin corona ini segera berlalu. Soalnya capek kemana-mana deg-degan terus. Panas dikit langsung cemas, capek dikit langsung kepikiran aneh-aneh, bahkan bersin berkali-kali aja bisa bikin gak nyaman, padahal lho lebih gak nyaman dan sering kesel lagi kalau gagal bersin berkali-kali. Hah males banget kan? Sudah ndongak dan ngelihatin matahari, tapi aja gagal bersin, rasanya kek mau nendang apa gitu saking gemesnya.

Eh kalian tahu enggak kenapa norba kok diplesetin jadi new orba, orba baru? Menurut sejarah yang aku baca, dulu ketika rezim orba berkuasa, pemerintahannya anti kritik. Sampai ada anekdot jika pada suatu malam ada sekelompok orang yang bergerombol untuk berdiskusi, meskipun diskusinya dilakukan dengan bisik-bisik, paginya orang-orang itu sudah hilang. Anjir serem gak tuh?

Menurut majalah-majalah yang aku baca, dulu di zaman orba, banyak koran dan majalah dibredel karena menyuarakan kebenaran, dengan dalih mengacaukan kestabilan politik. Sampai-sampai ketika rezim orba runtuh, media dan jurnalis adalah kalangan yang paling menikmati pesta pora.

Yang terjadi sekarang ini, walau memang belum menjadi fakta, apakah pembungkaman suara kritis itu dilakukan oleh rezim atau oknum lain, teror itu kini terjadi dan pelakunya belum atau bahkan tidak akan ditangkap, seolah-olah kepolisian membiarkan hal itu terjadi dan tak terungkapkan. Yang rada aneh, kenapa kepolisian tidak segera bertindak dan secepat biasanya ketika terjadi polemik yang menyerang lawan-lawan politik pemerintah saat ini.

Ya kalau kepolisian dan pemerintah menjadi tertuduh pelaku represi dan pembungkaman itu tak bisa dihindari karena pihak kepolisian dan pemerintah sendiri tidak secepatnya menangkap pelaku dan mengklarifiksi kasus ini.

Memang pada kenyataannya siapapun bisa menjadi pelaku teror. Tetapi yang paling pokok, tugas kepolisian adalah melindungi dan menjaga keamanan serta terjaminnya hak untuk bersuara dengan lantang tanpa ada pihak lain yang berusaha membungkamnya dengan aksi teror. Jika pihak yang seharusnya bisa memberi rasa aman tidak bisa memberikannya, padahal kita tahu, bahwa kepolisian memiliki teknologi yang canggih untuk segera mengungkap pelaku teror, maka yang ada dibenak masyarakat, negara ini sedang tidak aman untuk menyuarakan kritik. Jika kepolisaian tidak segera melakukan upaya penangkapan, hal itu akan menjadi sinyal bahwa betapa berbahaya situasi sekarang ini dan menyebabkan ketakutan pada orang-orang yang ingin menyuarakan aspirasi dan sikap kritis mereka karena mereka seoalah-olah tidak lagi terlindungi oleh pemerintah.

Aku pribadi sebetulnya agak was-was ngomongin masalah ini. Judul untuk jurnal pagi yang pertama kali terlintas setelah selesai menulis kira-kira sperti norba atau new orba. Tapi rasanya kek provokatif banget. Hei, aku gak seberani itu ya, padahal pagi ini aku agak seneng karena kayaknya Timo Werner bakalan ke Chelsea, harusnya tulisnnya gak surem dong tapi ah sudahlah. Aku mau kasih judul batal ngomongin buku aja dah, karena emang gak jadi ngomongin buku. Hadeh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: