Jurnal Pagi: Back to Normal

Hujan yang merinai-rinai dini hari kemarin, yang membuatku mager lari pagi, seakan-akan adalah sebuah sinyal. Dua dan tiga hari yang lalu kurasakan sakit di lutut kananku, sakit sebagaimana yang pernah kurasakan ketika turun dari Gunung Lawu, dulu sekali, di hari ulang tahunku yang ke-24. Pagi ini aku mampu lari lebih jauh dari yang kulakukan selama 13 hari terakhi ini. Membuatku ingat sebuah teori yang kubangun sendiri berdasarkan pengamatan.

Harus ada jeda dan istirahat pada kegiatan rutin olahraga fisik harian. Lakukanlah kegitan fisik itu selama 5 hari berturut-turut, kemudian istirahat di hari keenam. Atau kegitan fisik itu dilakukan selama 3 hari berturut-turut kemudian di hari keempat istirahat dan dilanjutkan di hari kelima dan keenam dan di hari ketujuh istirahat lagi dan kembali lagi seperti hari pertama, tiga hari berturut-turut kemudian jeda satu hari lalu dilanjutkan dua hari dan jeda sekali. Polanya sama seperti tangga nada, do-re-mi-fa-sol-la-si; 1-1-1 −1/2-1-1-1/2; yang jaraknya setengah digunakan untuk istirahat. Atau pola ini kalau diganti dengan nama-nama hari, kira-kira seperti ini; lari pagi di hari Ahad, Senin, Selasa, lalu Rabu-nya istirahat, dilanjutkan hari Kamis dan Jum’at kemudian Sabtu-nya libur.

Yah itu teoriku sih, aku tidak tahu apakah ada penjelasannya secara ilmiah. Dari dulu aku memang gemar sekali berteori dan membuat kesimpulan dari pengamatan-pengamatan sederhana. Pernah selama dua minggu berturut-turut, bersama temanku, aku nongkrong, duduk lesehan setiap malam di warung-warung sederhana yang terletak di sepanjang Jembatan Kalicode hanya untuk menghitung seberapa banyak pengamen, waria dan anak-anak kecil yang meminta-minta dengan menyodorkan plastik bekas Aqua gelasan. Ah masa-masa yang indah, dengan membeli mendoan tempe, Joshua—ekstrajos susu di kasih es batu—atau kopi jos; kopi panas yang dituangin arang, kayaknya masih ada bara-nya deh dan bunyinya jossss! Gitu, Rek! Ha ha ha

Kayaknya gara-gara itu juga dan terjadi secara natural, setelah mikir-mikir juga, aku sudah gak bisa lagi marah-marah melihat orang yang berjejalan di bandara, mekdi, mall-mall, pasar-pasar dan foodcourt yang beritanya heboh di Jogja itu, di mana lupa, aku sudah gak marah-marah lagi. Sebaliknya aku malah ngakak. Loh, gimana ya… marah-marah toh gak ada gunanya. Gak ngaruh juga. Oke, kamu boleh bilang kalau cuma aku memang tidak berpengaruh apa-apa, tapi kalau sejuta orang berpikir sepertiku Indonesia bisa hancur. Oke! Kamu boleh bilang begitu; boleh ngatain aku apatis. Tapi, Hei… aksi massa seperti itu sudah tak bisa dibendung lagi, perlahan-lahan, orang-orang yang tadinya sudah mantap menjalani PSBB, di rumah aja dll, akhirnya jadi ragu. Kamu tahu kenapa? Jawab aja sendiri, aku kira kamu tahu maksudku. Masa’ aku kudu bilang esuk tempe sore dele?

Ya Allah, Engkau memang Mahaguyon. Aku bener-bener cinta dengan guyonan Engkau. Engkau menghadirkan rakyat yang lucu-lucu ini. Aku benar-benar cinta dengan bangsa ini. Engkau melihat, Ya Allah, bangsa ini memang benar-benar bangsa yang tangguh. Mudah-mudahan Engkau tidak murka kepada bangsa ini, sebab bangsa ini sungguh mencintai Mu, Insyaallah.

 الهم صل على سيدنا محد

Yuk, tetep optimis aja, everything gonna be alright, and let’s preapre going back to normal.

jejakandi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Jurnal Pagi: Normal Baru atau Ketololan Baru?

Thu May 21 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/jurnal-pagi-back-to-normal/ Pikiranku tak dapat kumengerti kaki di kepala, kepala di kaki. Pikiranku patutnya menyadari (si)apa yang harus dan tak harus kucari tetapi tak dapat kumengerti. Lagu Di Atas Normal itu terus bergema di kapalaku karena suasana yang menyertai olahraga pagiku tadi tidak normal, tidak seperti biasanya, ya […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: