Adaptasi Lagi… Adaptasi Lagi! | Sebuah Jurnal Pagi

Aku sering bilang ke beberapa temenku—iya temen, aku lebih suka menulis temen walau bentuk bakunya teman—secara man to man, secara one v one kalau aku tidak terlalu suka menanggapi soal saltik… salah ketik… typo atau lebih tepatnya begini, aku sering tidak ambil peduli kalau orang lain cuma mengomentari perkara typo pada tulisanku.

Sebelum lanjut juga sebagai Edisi Hari Ahad, aku mau sedikit cerita kepadamu; beberapa hari ini aku absen dari jurnal pagi karena suatu alasan yang enggak make sense juga. Pernah aku bilang beberapa waktu lalu kalau konsep jurnal pagi itu tulisan yang sederhana, sesederhana tulisan yang bisa aku tulis. Dan belakangan ini, tulisan pagiku terlalu rumit dan mbulet alias rumit gak karu-karuan bentuknya. Kalau dipikir-pikir itu juga alasan yang kadang tak masuk akal; memangnya kenapa kalau tidak sederhana? Ya enggak kenapa-kenapa juga, tetapi jadinya melenceng dong dari konsep biasanya. Kalau sudah melenceng lama-lama konsep yang sudah aku bangun ini jadi gado-gado lagi seperti konsep menulis bebas dan jurnal-jurnal lain yang sudah release.

Kalau masih rumit, kan seharusnya aku menulis lagi sampai bentuknya sederhana, beberapa hari ini juga setelah lari pagi, ada saja sesuatu yang menyita waktuku untuk menulis jurnal pagi yang sederhana. Seperti kemarin misalnya, hari Sabtu, pagi-pagi sekali sekitar jam setengah enam, aku sudah berjibaku dengan komputer dan menyelesaikan deadline urusan pekerjaan. Saat kalian masih goler-goler di kasur, aku sudah lari pagi dan sudah menyelesaikan pekerjaan untuk setengah hari. Sehari sebelumnya lagi, ketika sedang asik mendengarkan podcast berita, sambil menulis untuk bahan jurnal pagi, Pakdeku telpon. Sepagi itu ada tamu di rumah pakde yang ingin bertemu dengan aku juga. Wealah ternyata tamunya suka sekali ngobrol, dari jam setengah tujuh baru kelar jam setengah sembilan. Sehari sebelumnya lagi, aku kudu kelarin kandang ayam yang kubikin bersama bapak tempo harinya. Ya sudah begitulah.

Sekarang, pada hari terakhir di bulan Mei, di luar sana hujan pagi sedang deras menghantam jalan-jalan dan bebatuan di teras. Hujan yang turun dari sejak semalam itu masih belum reda, sehingga tidak ada jogging hari ini. Saking derasnya hujan itu, petugas PLN pun memutus aliran listrik. Petir yang menyambar susul-menyusul membuat semua orang khawatir. Angin deras yang bertiup kapan saja bisa tumbang dan roboh memutus kabel. Ketika aliran listrik putus, sinyal pun ikut terputus. Obrolan dan chatting pun terputus.

Bulan Mei yang telah sampai pada penghujung akhirnya ini, sepertinya juga merupakan penghujung dan akhir dari WFH. Mulai hari Selasa besok, new normal sudah diberlakukan, secara tidak langsung hal ini juga akan menandai sebagai akhir dari Jurnal Pagi. Dan menandai saat untuk melakukan beberapa penyesuaian baru.

Tanpa wacana dari pemerintah pun, penyesuaian baru mau tidak mau memang akan dilakukan. Hidup yang terjadi kadang sedinamis ini. Walau kadang-kadang penyesuaian baru itu tidak seperti yang kita inginkan, dan seringnya itu mengacaukan, bagaimana pun juga harus tetap dinamis. Yah perlu adaptasi terus menerus

Kembali kepada soal typo. Dari pada mengurusi hal-hal yang pada dasarnya orang lain sudah paham di mana salah ketiknya, aku lebih suka kalau berdiskusi soal struktur kalimat, paragraf dan isinya. Bagaimana kalimat itu di susun. Apakah antar kalimat yang di susun itu bisa mengakomodasi penyampaian isi yang sesunggugnya ingin disampaikan. Dan apakah perpindahan antar paragraf terjadi dengan mulus atau kasar sekali bahkan bisa dibilang tak nyambung? Hal-hal yang seperti itu lebih menarik minatku. Dari sana kita bisa belajar dasar pemikiran dan style tulisan.

Sebentar, aku mau disclaimer dulu biar jelas apa dan mengapa. Walau aku membuat pernyataan aku tidak terlalu peduli dengan orang yang mengurusi typo, bukan berarti aku tidak peduli dengan typo bahkan mengabaikannya. Bukan berarti secara tidak langsung aku menganggap itu masalah sepele, bukan. Itu penting sekali. Tetapi bagiku masih lebih baik tidak apa-apa salah ketik, asalkan orang lain masih bisa memahami apa yang ingin disampaikan atau apa tujuan penyampaiannya. Lebih percuma rapi tanpa salah ketik, tetapi kalimat serta struktur bahasanya ambigu dan bikin kepala pening. Lebih penting apakah penulis telah menempatkan kalimat dan tanda baca dengan tepat, telah meletakkan subyek dan obyek pada tempat yang sebagaimana mestinya?

Saya kira kasus pada press release yang dikeluarkan FHUGM, di mana di sana terjadi banyak salah ketik dan sedikit keliru pada kata “dirubah atau diubah” tidak mengurangi esensi makna yang ingin disampaikan. Walaupun agak mengejutkan dan geli juga, sekelas press release fakultas ternama aja bisa seperti itu. Tapi perjuangan merangkai kalimatnya patut dihargai.

Di sisi yang lain, aku agak mikir juga, press release yang dikeluarkan Pimpinan Daerah Muhamadiyah Klaten. Lho, stempel itu memang ditempatkan di Sekretaris ya, bukan ketua? Tapi tak apalah. Itu bukan masalah besar.

Yang pelik itu justru konflik yang sedang memanas tersebut, yakni konon ada rencana makar di tengah pandemi sampai teror yang mencatut nama suatu lembaga. Dan lembaga yang dictut enggak terima. Aku belum membaca kronologinya, sih. Belum sempet aja. Belum reda berita heboh itu, sudah ada berita heboh lain. Gubernur Jatim Bu Khofifah sedang tengkar sama Walikota Surabaya Bu Risma. Aduh deh emak-emak lagi rame.

2 thoughts on “Adaptasi Lagi… Adaptasi Lagi! | Sebuah Jurnal Pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: