Bagaimana Jika Yuval Noah Harari dan Paulo Freire Dibaca Tanpa Konteks?

Membaca tanpa konteks juga menjadi saran ketiga yang kutawarkan, supaya gaya membacamu lebih variatif dan lebih banyak hal yang didapat dari sekadar apa yang dibaca.

Membaca tanpa konteks terkadang sangat menyenangkan, lebih menyenangkan dari pada membaca dengan metode apa pun. Membaca tanpa konteks memungkinkan seseorang bisa berimajinasi dengan pemahaman dan kilasan-kilasan pikiran lain yang sudah lebih dulu berproses di dalam kepalanya sendiri. Di samping itu, membaca tanpa konteks dapat menjadi jembatan yang memungkinkan untuk menautkan berbagai tema dan puzzle yang sudah terlebih dulu tersimpan di dalam memori–dari ingatan manapun, bahkan termasuk ingatan-ingatan yang sangat purba. Dengan demikian, membaca tanpa konteks mampu membebaskan diri dari keterikatan untuk memahami cara pikir penulisnya. Membaca tanpa konteks akan membuat seseorang bahagia karena pikiran bisa menafsirkan berbagai kemungkinan yang boleh tidak harus sama persis dengan maksud aslinya. Pendek kata, membaca tanpa konteks adalah cara membaca dengan bahagia.

Membaca tanpa konteks juga menjadi saran ketiga yang kutawarkan, supaya gaya membacamu lebih variatif dan lebih banyak hal yang didapat dari sekadar apa yang dibaca.

Misalnya, pagi ini, ketika aku membaca tanpa konteks paragraf dari sebuah buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, seperti di bawah ini:

Kritik lebih jauh menengarai bahwa manusia memiliki pengetahuan dan alat untuk mencegah wabah, dan jika sebuah epidemi ternyata tak terkendali, itu karena manusia tidak kompeten, bukan karena kemarahan ilahi.

Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia. Hal. 15

Tanpa memahami konteks yang sedang dibicarakan Harari, aku bisa menafsirkan tidak kompetennya manusia dapat menyebabkan sebuah malapetaka yang sangat besar, salah satunya wabah dan epidemi.

Kemudian pikiranku tiba-tiba berkelana melampaui korupsi, malpraktik kedokteran, malpraktik pendidikan, sepeda motor dan mobil yang dibawa ke bengkel malah makin rusak saja, bukan makin bener. Semua karena manusia tidak kompeten.

Lalu timbul pertanyaan sepele namun mengejutkan diriku, “Di Indonesia–lihat orang-orang di sekitar kita–berapa banyak manusia tidak kompeten di bidangnya? Bagaimana semua ini bisa terjadi suatu persoalan tidak ditangani oleh orang-orang yang memang berkecimpung di bidangnya dan oleh ahlinya?”

Jika keteledoran seorang dokter dapat menyebabkan malpraktik, bagaimana jika dokter yang menangani manusia tidak kompeten? Mungkin di antara kalian, kalian ada yang juga pernah merasakan ini: Sepeda motor hanya rusak sedikit, di bawa ke bengkel malah jadi nggak karuan? Pernah? 😀

Bagaimana dengan pendidikan? Kita simak tuturan Paulo Freire:

Seringkali, para pendidik dan politisi berbicara yang tidak dapat dimengerti karena bahasa mereka tidak sesuai dengan situasi nyata dari masyarakat yang mereka tuju.

Pendidikan Kaum Tertindas; Paulo Freire. Hal. 93

Seorang pendidik yang tidak kompeten dalam menangani peserta didiknya dapat menyebabkan masalah pada diri peserta didik, ia bukannya membebaskan pikiran manusia yang masih terpenjara, tetapi malahan memenjarakan pikiran manusia dalam bagunan segi empat yang tak tertembus. Dan ya memang seringkali kita menemui seorang pendidik berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.

Dari Yuval Noah Harari tiba-tiba melompat ke Paulo Freire, dan menggabungkan antara kemampuan manusia yang politis dan juga bergerak di bidang rekayasa genetika.

… menjadi lebih jelas bahwa politisi harus menjadi pendidik, dalam arti kata yang paling luas. …

Pendidikan Kaum Tertindas; Paulo Freire. Hal. 93

Bioteknologi memungkinkan kita mengalahkan bakteri dan virus, tetapi pada saat yang sama mengubah manusia sendiri menjadi ancaman yang tak ada presedennya. Alat sama yang memungkinkan para dokter dengan cepat mengidentifikasi dan mengobati penyakit-penyakit baru juga memungkinkan militer dan teroris merekayasa penyakit yang lebih mengerikan dan [doomsday patogen] penyakit kiamat.

Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia. Hal. 15

Dapat dibayangkan jika seorang ahli sains tetapi tidak memiliki independensi bahkan cenderung berjiwa politisi yang tidak mendidik dan sama sekali tidak memiliki jiwa pendidik, dan untuk kepentingannya ia memanfaatkan pengetahuan dengan merekayasa situasi. 

Dari paragraf yang ditulis Harari dan Paulo Freire aku jadi berpikir macam-macam, bukan salah pikiranku jika aku pernah berasumsi bahwa tidak kompetennya manusia dan keserakahan manusia, Covid-19 menjadi pandemi yang kacau. Terlebih lagi ketika membaca lanjutan paragraf Bioteknologi itu.

Paragraf itu membuat pikiranku sangat liar dan tak terkendali. Buku ini telah diterjemahkan tahun 2018, buku aslinya ditulis tahun 2015. Dan Covid-19 ditemukan akhir tahun 2019, dan menjadi sebuah pandemi yang kacau balau di awal tahun 2020. Kadang itu yang bikin saya takut dan berasumsi kalau Covid 19 merupakan sebuah rekayasa genetika yang diciptakan. Sebab, sebagaimana mungkin pembaca duga, bagaimana mungkin hal-hal yang sifatnya dugaan bahwa pandemi akan meningkat di bulan bla bla bla seperti itu bahkan dapat berjalan sesuai ramalan dan hipotesis yang ada. Ramalan mengatakan bahwa gelombang virus baru akan terjadi pada bulan Februari-Maret dengan varian baru, padahal saat itu masih bulan Juli? Sains? Oh oke itu adalah Sains😄

Demikian sedikit mengenai Membaca Konteks Homo Deus dan Pendidikan Kaum Tertindas. Saya Andy Riyan dari Desa Hujan. Sampai Jumpa.

andyriyan

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

3 Metode Membaca Yang Bisa Membuat Gaya Membacamu Lebih Variatif.

Sun Jun 26 , 2022
Pin it Email https://desahujan.com/jika-harari-dan-freire-dibaca-tanpa-konteks/ Tak lagi jadi rahasia; bahkan bagi seseorang yang notabene hobinya adalah membaca, ia pun masih berkali-kali dapat dihantam dengan rasa bosan pada kegiatan mencerna kalimat dan kata-kata. Seseorang yang sama, orang yang gila baca itu, juga dibikin frustrasi sebab ia tahu, ia harus membaca, karena jika […]
3 Metode Membaca Yang Bisa Membuat Gaya Membacamu Lebih Variatif.

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: