Jejakandi, Kamu Kenapa Lagi?

17

Writing could and should be able to relieve any pressure, menulis dapat dan seharusnya mampu mengatasi tekanan. Dan semoga dengan berbagi di sini aku bisa mengobati, mengangkat tekanan yang sedang aku hadapi. Tekanan? Apakah aku sekarang sedang tertekan? Oleh apa?

Sejujurnya yang aku rasakan, aku tidak merasa sedang mengalami suatu perasaan tertekan oleh apa pun saat ini. Tetapi setelah memperhatikan apa saja yang kukerjakan dan kualami akhir-akhir ini, aku melihat sesuatu tidak berada pada jalan yang benar. Kayaknya ada yang salah, deh. Seharusnya enggak gini, deh.

Aku sangat suka membaca, tetapi entahlah… bacaan seperti apa pun saat ini sedang tidak masuk ke dalam pikiranku. Aku kehilangan fokus. Aku kehilangan daya berpikirku (?). Rasanya aku terus terganggu dengan hal-hal abstrak dan absurd yang tak pernah terjelaskan. Aku sangat gelisah, dan perasaan gelisah ini menjadi semakin parah karena aku tidak tahu penyebabnya mengapa aku gelisah. Aku bertanya-tanya, aku ini kenapa?

Kalau dipikir-pikir, kalau ngaca kepada diri sendiri, aku menemukan gejala absurd ini sudah lama. Berulang kali aku megambil hape, sebentar kemudian menaruhnya lagi. Aku perhatikan hampir setiap 40 menit aku melakukan hal yang aneh ini; mengambil hape, mengusap layarnya (membuka kunci), scroll layar ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah tanpa membuka aplikasi apa pun, kemudian menguncinya lagi dan hapenya digletakkan begitu saja, berdiri, mondar-mandir gak jelas, lalu inget hape lagi tapi lupa tadi menaruhnya di mana, terus nyari-nyari seperti orang bingung. Entahlah sudah berapa kali kegiatan yang aneh itu berulang-ulang dengan frekuensi yang variatif.

Aku berpikir sahabat terabaikku saat ini adalah pena dan buku dan juga word processor. Di sanalah aku menari-nari, membuat mind-map atau fishbone. Kemudian menuliskan sesuatu di laptop atau kertas, menumpahkan apa saja sampai ratusan hingga ribuan kata. Aku tidak memikirkan apa pun yang aku tahu aku hanya ingin mengetikkan entah apa yang berada di kepalaku saat itu. Setelah selesai, aku mendiamkan tulisan itu beberapa saat, bahkan aku meninggalkannya; dan mencoba melupakan sejenak. Harapannya nanti ketika aku kembali dengan nuansa baru, aku bisa mengeditnya dan membuat sesuatu dari tulisan itu. Selang beberapa waktu, sehari dua hari aku membukanya lagi dan tiba-tiba pusing menyimak tulisan-tulisan ini. Ini mau diapain sekarang?

Karena tidak tahu mau ngapain lagi, maka aku iseng-isenglah membuat tulisan ini. Pengen iseng aja, sekalian membagikan sesuatu di blog. Harapannya sih, aku tidak memendam kegelisahan ini sendirian, meskipun aku sadar betul, mau menulis untuk diri sendiri di notes ini saja sudah bagus untuk kesehatan jiwaku. Menulis, sebagaimana kata ini selalu kuulang-ulang, adalah obat bagi jiwa yang tersesat.

Saking tersesatnya, beberapa hari yang lalu aku membuat coret-coretan di kertas. Menulis dengan huruf besar-besar, meluapkan emosi dan kalimat pertama yang muncul, “Aku mengalami perasaan yang sangat absurd, sepertinya aku benar-benar telah sakit jiwa.”

jejakandi

17 thoughts on “Jejakandi, Kamu Kenapa Lagi?

    1. Hai, Jeng Fiska!!! Yo ngene-ngene wae sih Fiska. Eh nomormu sudah diganti?

      Ya siapa juga yang bilang gila? Sakit jiwa kan gak musti gila. ???? Ya aku aware karena kerjaannya emang gini dialog sama diri sendiri. Ahahaha

      Cari tahu kemana ya?

      1. Semoga jiwamu cepet pulih e mas. .

        Nomorku masih sama sih. Dirimu saja yang entah kemana.. Haha.

        Cari tahu di pasar banyak.. Banyak yg jual 😀

      2. Amin…. Amin… Amin. Terima kasih do’anya.

        Masa? Kok sekarang gaka pernah lihat status updatemu lagi? Ahahaha

        Aseeeek besok lah aku boring kalau gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Sebuah Jurnal: Mencari Makna

Thu Oct 1 , 2020
Hidup ini singkat; jangan lupa bahagia, hidup ini indah; jangan lupa menikmatinya, hidup ini penuh makna; jangan lupa bersyukur, hidup ini hanya sekali; jangan menyia-nyiakannya, dan masih banyak lagi hal yang dapat dikatakan untuk mendeskirpsikan hidup ini tentang apa—hidup ini bla bla bla… terserah suka suka saja mau hidup ini […]
Sebuah Jurnal: Mencari Makna

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: