Bahasa Kesunyian

Dingin dan gelap; dingin yang meraba-raba indera perasa dan gelap yang menghalangi kedua mata. Dingin menyerang sekujur tubuhku; gelap tidak hanya membutakan penglihatan tetapi juga perasaan; kepekaan mata hatiku.

Sekujur tubuhku yang membeku mematikan tidak hanya simpul-simpul kesadaran, tetapi juga akalku. Aku mati; I think I’m going insane—aku pikir aku akan gila; mataku tak dapat menangkap apa-apa—tidak benda-tidak pula hakikat—selain akhir yang buruk dan penuh derita.

Aku terlempar ke dunia yang penuh nestapa. Bukan dunia yang tak gandrung akan keadilan; bukan dunia tempat nenek-nenek yang kedapatan mengambil kayu bakar ditangkap dan dipenjara; bukan dunia para koruptor dapat melambai di depan kamera dan terseyum, mereka ditembak mati, dan pasti mati. Bukan dunia yang sedang berperang; bukan dunia yang berebut tanah jajahan; bukan dunia kaum pemodal sebagai pemenang. Bukan dunia yang berjebah diskriminasi dan penindasan; bukan dunia yang berkonflik status sosial, agama, ras dan sosial budaya; bukan dunia yang menindas kaum kromo, miskin papa. Bukan dunia yang penuh kepalsuan. Bukan dunia yang terserang wabah dan virus mematikan; tak ada cholera, malaria, HIV/AIDS ataupun sars, mers dan corona. Bukan dunia yang penuh berita-berita besar dalam kebohongan; bukan dunia yang jurnalis dan media pro dengan penguasa penindas rakyatnya. Tetapi dunia yang terdiam tanpamu.

Aku sendirian di tempat ini, tersesat dan berputar-putar; atas-bawah, kanan-kiri, segala arah, benar-salah tak ada bedanya. Histeria… mereka mengatakan aku mengidap penyakit ini; gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa. Histeria… membuatku tak bisa mengendalikan diri, 49 monster berganti-gantian memakai tubuhku. Aku pikir aku telah jadi gila dan kegelapan telah menelan diriku pada kehampaan yang tak berkesudahan. Ia terus menyeretku, dan aku semakin jauh terhisap kedalamnya, lubang gelap dengan titik ekuilibirium mendekati nol, yang terus membesar menuju kehancuran alam semesta. Histeria… aku sendirian, tersesat dan terus meneriakkan namamu; terus meneriakkan namamu… sepertinya hanya itu yang bisa kulakukan. Dalam kegelapan ini, meskipun keputusaasaan menguasai diriku, namun tak ada apa pun yang kusesali. Sebagaimana tak ada sekecilpun rasaku tuk mampu berharap. Histeria… dan hanya meneriakkan namamu. Screaming your name; that’s all I can do.

Telah terlambat bagiku untuk kembali kepada bagaimana awal semua ini bermula. Ketika kesadaranku masih menapak pada jalan-jalan taman surga yang penuh bunga dan rindang pohon-pohon kastanye; mawar merekah dan embun-embun berjatuhan seperti bola-bola kaca; sungai-sungai jernih dan segala rupa ikan berenang tanpa resah, terlabat bagiku kembali kepada itu. Titik-titik di mana cahaya pernah bersinar; menunjukkan keberadaanmu, ia telah pudar dan hanyalah tipuan. Suara-suara yang bergema di dalam kepala dan telinga terlalu kencang agar ku mampu mendengarkan deru nafasmu yang memburu, detak denyut nadimu yang berirama dan memantul di dinding rasa dan getar damai jiwamu yang mengombak dan menari dalam perasaanku. Terlambat bagiku, hanya kamu yang semakin jauh dan tak kuketahui keberadaannya.

Dalam kegelapan, dingin dan sendirian di dunia ini; dunia yang diam tanpamu, menjadi semakin sulit untuk dapat fokus jika hidupmu mengabur; tak jelas ke mana dan di mana dirimu. Menjadi semakin sulit untuk menemukan kebenaran kabar dan kebenaran akan keberadaan dirimu.

Dan bagaimana aku bisa melupakan dan berpaling darimu, ketika masih terlalu banyak yang harus kupelajari, kukenali dan kutemukan dalam dirimu sementara keberadaanmu semakin sulit dan membingungkan. Bagaimana aku berpaling dan melupakanmu, sementara semua jalan harus kembali kepadamu; semua dunia… apa pun itu tetap terdiam tanpamu.

6 thoughts on “Bahasa Kesunyian

  1. Galau pisan, tapi unik aku jadi keingat soal film SPLIT yang punya 23 atau berapa kepribadian dalam satu tubuh saat bagian membaca 49 Monster, bisa diteruskan untuk sebuah cerita nih

    1. Itu film vangkeeeee banget, psikopatnya bikin aku jantungan, ngeri kalau nonton itu. Menulis ceritanya? Membayangkan aja aku bisa jadi psikopat beneran… Duh. Nanti kalau materialnya sudah siap bisa dibuat… *dih jadi merinding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: