Bahasa Diam

Hari itu adalah musim dingin, di bukit Alap-alap; tiga kilometer dari Desa Hujan, aku bertemu dengannya, sebut saja namanya Amir. Sebab semakin lama kuperhatikan, ia semakin mirip dengan Amir Khan karena perannya sebagai Rancho; satu dari 3 idiots dari ICE.

Aku dan Amir tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya kami saling berbicara dalam bahasa diam.

Mula-mula udara bergemerisik lalu angin bertiup. Aku mendapati dirinya menangkap sinar matanya sendiri di dalam mataku. Embun-embun di ujung daun berkilau laksana perak; terhempas kemudian meluncur dan menjerit. Jeritannya menggema dan melambatkan waktu. Jeritan yang melengking hingga 8 oktaf dan terus naik itu mengangkasa dan bergerak ke segala arah hingga menyentuh dasar palung-palung jiwa. Amir telah menceritakan segalanya sebelum embun itu jatuh tepat di tengah-tengah antara Amir dan aku, karena kecakapanku melihat sisi lain darinya.

“Apa yang kau lihat?”

“Hantu masa lalu.”

Aku pun menceritakan segalanya. Hantu-hantu yang telah membuatnya terpenjara dalam kesepian. Suatu hari di musim panas, ia berdiri di puncak bukit. Di sebelahnya hanya ada sebuah pohon yang sebatang kara. Daun-daunya telah habis, kering, berguguran terhempaskan angin barat. Ia menatap ke Selatan—membelakangiku; Gedung-gedung perkotaan terhampar di kejauhan, terlihat sebagai kotak-kotak putih di bawah naungan mendung yang kelabu. Awan itu cepat sekali menebal dan menghitam lalu hujan deras mengguyur seluruh bumi di hadapannya. Sinar matahari kemudian muncul membelah kegelapan dan awan hitam itu sirna tak berbekas. Pelangi terlukis; satu ujungnya melengkung dari puncak gunung di sisi barat dan ujung lainnya jatuh di timur, di dasar lembah di mana danau bercahaya keemasan. Dengan sangat cepat semuanya pun berubah menjadi hitam; malam telah jatuh dan seluruh bumi menjadi gelap hanya titik-titik di kejauhan tempat kota-kota berkerlipan lampu-lampu bagai hiasan natal.

Malam dan siang berganti dalam tempo yang sangat tinggi. Bintang-bintang bergerak mengisi malam yang sunyi. Meteor berjatuhan bagai hujan diiringi dengan suara retak-retak seperti kayu yang patah.

Musim panas telah berlalu, Amir masih berdiri di bukit itu. Alang-alang telah tumbuh tinggi menyentuh lututnya. Pohon yang dulu sebatang kara itu kini tidak lagi. Pohon catinggi dan lamtoro banyak tumbuh di sekitarnya. Pohon itu telah bertunas, kuncup-kuncup banyak bermekaran di ujung-ujung daun yang kini telah rimbun meneduhi Amir dari hujan yang jatuh bagaikan jarum-jarum emas.

Di bawah kerindangan pohon itu, aku duduk di sebuah bangku panjang dan bercat putih. Amir bergerak dan duduk di sampingku. Lalu setetes embun jatuh tepat di tengah-tengah antara aku dan dirinya. Ia kini melihat tajam ke dalam mataku. Dan ia tampak yakin dan tak lagi ragu.

Satu jam telah berlalu.

“Siapa itu lubang di hati,” ia menatapku dan memincingkan matanya.

“Seseorang yang apabila ia tak memakan pathi gelang—garis kehidupanku mungkin tak kan tertulis—ketika krisis kelaparan melanda bangsa ini,” kataku membalas.

“Jadi karena itu…” Amir menggosok janggutnya “… kamu menjadi begitu sinis dan benci dengan kata pahlawan?”

“Aku tak pernah membenci kata-kata, apa pun itu. Anjing, babi, bangsat, sederet nama kelamin dari semua bahasa, taik kucing, jancuk; apa pun itu, aku tak pernah membencinya, kamu pasti tahu apa sebabnya.”

“Karena bahasa kata-kata adalah tingkatan terendah dalam ilmu,” Amir melanjutkan monologku.

“Ya. Dan membencinya adalah suatu tindakan yang konyol dan bodoh.”

2 thoughts on “Bahasa Diam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: