Bagaimana Aku Menulis dengan 5W+1H

10

Daripada “Mengapa kamu menulis?” aku lebih suka pertanyaan lain. Pertanyaan itu sudah terlalu mainstream. Tentu saja, ada sekian banyak alasan yang menarik bagi seseorang untuk menulis, dan untuk aku, writing prompt untuk menuliskan alasan-alasan itu… juga sudah terlalu biasa.

Ada 6 enam kata dasar yang dapat digunakan untuk bertanya, dari 5W +1H, mengapa Why harus selalu diulang-ulang? Tak dapat dipungkiri memang, Why, dalam tingkatan pertanyaan, termasuk pertanyaan berkategori HOT—High Order Thinking, pertanyaan tingkat tinggi.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin berbicara tentang “Bagaimana Aku Menulis”. Tetapi sebelum sampai ke sana, biarlah aku singgung sedikit pertanyaan 5W-nya.

Why?

Mengapa aku menulis. Aku telah banyak mengungkapkan berbagai alasannya di blog ini. Ada banyak sekali, aku bahkan tak ingat persis apa saja yang telah aku tulis. Biarkanlah begini saja, menulis bagiku telah menjadi semacam kebiasaan yang mengasikkan, sampai-sampai aku tak butuh alasan lagi mengapa aku harus menulis.

Alasan menulis yang belum pernah kumiliki adalah menulis demi uang. Bukan karena aku tidak membutuhkan uang, tentu saja aku membutuhkannya, hanya saja aku belum sampai pada tahapan itu. Aku tidak tahu bagaimana tulisan-tulisanku bisa menjadi uang, atau bagaimana cara menghasilkan uang dari menulis. Mungkin seharusnya aku mulai memikirkan bagaimana kualitas tulisanku jika dihargai dengan uang.

Tapi ah sudahlah… menulis karena motif uang dan mengetahui bagaimana kualitas tulisanku jika dihargai dengan uang supaya aku semakin termotivasi untuk meningkatkan skill ini… aku sungguh jauh dari alasan itu. 

What?

Apa yang kutulis? Banyak!

Yang pertama, ada Jurnal Harian. Kegiatan harianku entah itu menarik atau membosankan, yang terjadi di dalam hari-hariku, aku tulis di sini. Membayangkannya saja sungguh sangat membosankan. Terkadang aku menuliskan hal yang sama setiap harianya selama berminggu-minggu, karena kegiatan yang kulakukan sebegitu monotonnya, dan tidak ada kejadian luar biasa, atau suatu kejadian yang menyimpang dari rutinitasku. Aku menuliskannya semua itu semembosankan aku menjalaninya.

Selanjutnya Mengikat Makna. Apa yang kudapatkan setelah membaca—buku, koran, artikel, majalah, berita, dll.—aku tulis sebagai mengikat makna. Aku menuangkannya sedapat mungkin. Ini adalah kegiatan menulis yang paling melelahkan tetapi sekaligus paling menyenangkan.

Gagasan Pendek. Gagasan-gagasan yang tiba-tiba muncul, aku tuliskan di sini dengan sangat cepat dan dalam sekali aktivitas, tidak terputus oleh kegiatan lain. Paling sebal adalah, ketika gagasan-gagasan ini muncul ketika aku sedang BAB. Aku tidak bisa membawa catatan apa pun ke WC; Itu akhlak yang buruk.

Puisi dan Prosa. Aku juga menuliskan puisi dan prosa, meskipun tidak sesemangat dulu. Dulu, hingga sekarang kukira, aku sangat menyukai puisi dan prosa. Ada banyak puisi dan prosa yang bergema dalam pikiranku. Ia bagaikan nyanyian. Tetapi menuliskannya tidak lagi mudah, seperti dulu, ia membutuhkan elemen dan dorongan lain, kekuatan yang lebih besar dari hanya sekedar keiinginan.

Kesemua itu dapat disimpulkan begini; apa yang kutulis adalah apa yang kupikirkan dan apa yang kurasakan; adalah apa yang terlintas dalam pikiranku dan apa yang bergema di dalam hatiku.

Who/Whom

Siapa yang aku tulis. Siapa saja yang sedang ingin aku tulis, dan siapa saja yang kebetulan kutulis, tidak tentu. Dan untuk siapa aku menulis. Aku menulis mostly untuk diriku sendiri. Dulu aku pernah punya harapan, apakah aku bisa menulis untuk Indonesia, tetapi itu terlalu tinggi, terlebih lagi, kecenderunganku menulis yaitu menulis jauh ke dalam diriku sendiri.

Aku pernah menulis untuk orang lain; menulis untuk membuat seseorang terkesan, menulis untuk menarik perhatiannya, dan menulis agar ia memahami perasaanku, bahkan untuk menyindir orang-orang tertentu. Lalu kemudian aku tahu itu sia-sia dan tak berhasil.

Jika aku ingin menyampaikan sesuatu secara khusus kepada seseorang, mestinya aku menulis surat saja dan mengirimkan kepadanya. Atau mestinya aku mengatakan saja apa yang ingin aku katakan secara langsung. Oh kenapa aku pernah begitu bodoh? Entahlah. Mungkin aku ingin sok menjadi sosok yang misterius.

Aku juga pernah menulis untuk majalah dinding—mbiyen jaman sekolah tapi—, media online, dan blog orang lain. Kalau sekarang, aku menulis untuk diriku sendiri. Aku juga admin dari beberapa website dan medsos—tapi ah sudahlah. Itu tidak ada urusannya dengan tulisan kali ini.

Where

Di mana aku menulis. Di mana saja, dan di media apa saja yang bisa kutulis.

Tetapi itu tidak menjawab pertanyaan, Jon! Oh, OKE.

Aku paling sering menulis di rumah, di ruang bacaku. Tetapi aku kadang juga menulis di kantor, di taman dan bahkan di alam bebas.

Media yang kugunakan juga banyak. Paling sering ya buku. Aku menyiapkan banyak buku yang kutempatkan di banyak tempat, ada di kantor, di tas untuk dibawa-bawa dan tentu saja di rumah, ada tersendiri.

Aku juga menulis di media kertas HVS. Entahlah, menulis dengan media ini, seperti ada momen magisnya, sebab terkadang ide-ide yang tak disangka-sangka muncul seiring dengan aktivitasku menuangkan beberapa kalimat di sana, sehingga tulisanku bisa menjadi begitu panjang.

Dulu aku malah suka menulis di belakang struk belanja, tetapi sekarang sudah kuganti kebiasaan jelek itu dengan block note, kemana-mana aku hampir selalu membawanya.

Media elektronik yang kugunakan untuk menulis ya laptop. Aku jarang menggunakan hape untuk menuliskan ide dan gagasan kecuali ketika menulis di Twitter, bahkan aku hampir tidak pernah menulis langsung di blog. Hampir lho ya hampir… tetapi memang pernah.

When

Kapan aku menulis. Biasanya di pagi hari sebelum berangkat kerja dan setelah olah raga, sehabis membaca buku sambil minum kopi, aku menulis beberapa kalimat saja.

Sehabis Maghrib dan ngaji, aku rutin menulis. Ini adalah waktu yang begitu efektif untuk menuliskan rangkaian kegiatan yang telah dilakukan sepanjang hari. Dan apa saja yang ingin dilakukan di hari esok. Menulis di jam-jam ini cukup membantuku menjaga fokus. Ini adalah saat yang paling berharga bagiku untuk menulis. Makanya aku sering mematikan ponselku dari jam 6 hingga jam 9, selain untuk menulis juga untuk membaca.

Ketika mendapat ide, sesegera mungkin, aku menuliskannya. Tidak jarang aku mendapatkan ide-ide ketika sedang bekerja. Aku menuliskan beberapa kata kunci untuk membantuku mengingat untuk kutulisakan nanti ketika ada kesempatan. Paling gampang ya dengan update status di Twitter. Tetapi berhubung aku sering terganggu dengan hape ketika ingin menulis dan mematikan hape di jam penting untuk menulis, dengan Twitter ini juga merepotkan. 

How

Sekarang masuk pada inti dari tulisan kali ini yaitu “Bagaimana Aku Menulis”.

Dalam hirarki pertanyaan, mungkin inilah pertanyaan terpenting setelah mengapa (Why). Sebab hampir dari kesemua W, selain Why, jawabannya relatif mudah untuk ditentukan. Why, biasanya baru ditemukan setelah berjalan beberapa saat. Dan seiring berjalannya waktu jawaban untuk why pun menjadi semakin beragam dan semakin kuat.

Semakin kuat why, maka akan semakin bagus dan semakin kokohlah W yang lain; Akan membuat kita menjadi lebih tangguh dan lebih disiplin, membuat kita mengalami betapa berharga dan betapa penting apa yang kita lakukan.

Bagian how ini menjadi penting karena, aku menduga dengan sangat keras bahwa, pengetahuan tentang how akan membuat kegiatan menulis dan kegiatan apa saja dapat dilakukan dengan lebih baik.

Di luar sana tentu ada cara-cara yang mungkin lebih baik dibanding dengan apa yang kulakukan. Di luar sana tentu ada hal-hal yang lebih menarik dari apa yang aku tulis, dan itu tidak mengubah apa pun. Di sini aku hanya sekadar ingin berbagi, siapa tahu bisa bermanfaat, siapa tahu bisa menjadi amal jariyah.

Bagaimana aku menulis?

Aku menuliskannya saja apa yang kurasakan dan apa yang kupikirkan. Sesederhana itu. Sesederhana pesan Nazril Ilham, “Tulislah apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, tidak harus secepatnya berguna tapi, suatu hari nanti pasti akan berarti.” 

Aku menuliskan semua yang bisa kutulis, sedapat mungkin, semua yang mampu keluar dari pikiran dan perasaanku dengan cepat tanpa banyak berpikir. Seringkali dalam waktu yang SANGAT cepat.

Bila menggunakan word-processor, aku mengabaikan typo dan sama sekali tidak tergiur untuk menekan tombol backspace dan delete. Aku pun berpantangan membaca apa yang sedang aku tulis—selesaikan dulu apa yang sedang bercucuran—baca belakangan. Soal struktur kalimat yang ngaco dan tidak nyambung bisa diurus belakangan pada proses editing. Apalagi mengetik sambil memainkan tombol-tombol format text, sungguh merepotkan karena menghambat ide. Aku menuangkan ide-ide ini biasanya dalam 10 menit tanpa jeda dan tanpa berhenti.

Ketika menggunakan media kertas atau buku, aku menuliskannya dengan sangat cepat, tidak jadi soal jika tulisanku buruk dan acak-acakan. Seringkali aku juga menumpahkan dengan tulisan huruf yang besar-besar, jika disamakan dengan format digital mungkin 20 untuk font arial—sangat besar.

Setelah selesai menuliskan ide dan gagasan itu. Aku mendiamkannya beberapa saat. Bisa jadi aku mendiamkannya beberapa hari sebelum kubaca lagi. Biasanya aku membaca lagi di hari libur sambil mereview dan mengevaluasi kegiatan selama seminggu dan membaca lagi ketika hendak masuk ke editing mode—kalau ini sungguh menunggu mood, kalau lagi pengen posting sesuatu juga. Tapi gampang sih memunculkan mood ketika membaca ulang tulisan sendiri.

Aku memperlakukan kebiasaan-kebiasaan ini seperti olahraga. Aku pun memaknai kegiatan-kegiatan ini sebagai latihan harian. Ya sudah lama sekali aku melakukan kegiatan ini dan aku masih saja menyebutnya sebagai latihan juga. Sebab ketika berhenti terlalu lama—untungnya aku sudah hampir lupa kapan aku berhenti latihan—otot-otot menjadi lemas, dan kegiatan menulis seperti menjadi begitu berat dan cepat sekali lelah. Ketika jemari menjadi kaku dan mengalami kesusahan untuk menulis, maka ide-ide pun susah dieksekusi dan terbengkelai.

Kegiatan menulis seperti ini aku menyebutnya sebagai menulis bebas. Menulis secara bebas untuk menuangkan ide dan gagasan. Semakin sering menulis bebas disertai dengan banyak membaca, hasilnya akan semakin lebih baik, ibarat jam terbang menjadi semakin tinggi.

Terkadang aku juga membuat modifikasi dan variasi dalam menulis bebas yaitu dengan cara membaca terlebih dahulu beberapa menit sebelum menulis. Kegiatan ini aku adopsi dari Alm. Pak Hernowo Hasim—Allahummaghfirlahu warkhamhu wafuanhu—sebagai Mengikat Makna. Tujuan membaca terlebih dahulu adalah untuk memberi asupan gizi dan asupan informasi bagi otak sehingga apa yang dituliskan menjadi lebih baik, lebih banyak dan lebih berisi.

Ketika tidak cukup yakin dengan apa yang dibaca, karena apa yang dibaca tidak membentuk informasi dan ide, aku membentuk sendiri kalimat-kalimat dalam kepalaku—memikirkan kemungkinan-kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang kuajukan. Aku tidak selalu langsung mendapatkan jawaban. Lalu ketika sudah terbesit satu citra atau gambaran, meskipun samar, aku menumpahkannya sedapat mungkin dan tanpa berpikir, mula-mula dari ide besar yang samar-samar itu, lalu menjabarkannya secara induktif.

Mengapa hal ini memungkinkan? Karena apa yang pernah kita baca bisa saja muncul seiring dengan proses menulis.

Selain menulis bebas dan mengikat makna, aku juga sering menggunakan metode lain yaitu mindmap dan diagram fishbone. Dua metode ini, bagiku, adalah metode yang sangat sulit. Karena ia membutuhkan segenap pengetahuan yang dimiliki untuk mencurahkan apa pun yang pernah tersimpan dalam memori dan digunakan sebagai pisau analisis untuk menyeleksi apa yang yang perlu dan tidak perlu.

Keunggulan kedua metode ini sebanding dengan kesulitannya. Jika metode ini terancang dengan baik, jasilnya sangat memuaskan, terstruktur dan terarah. PERLU LEBIH SERING LATIHAN!!!

Lalu bagaimna aku menulis untuk mengisi blog?

Kalau sudah mood ingin mengedit, aku tinggal menyeleksi apa yang sudah kutulis, memberikan sedikit pengantar dan pembukaan lalu selesai.

Demikian saya Andy Riyan dari Desa Hujan, sampai jumpa.

jejakandi

10 thoughts on “Bagaimana Aku Menulis dengan 5W+1H

      1. Terima kasih atas kunjungan dan jejak yang sudah ditinggalkan, Mas Irawan dan Mbak… siapa ya lupa namanya… Agit?

        Ah itu, lebih baik simpan saja rasa penasaran itu sebab, terkadang hadiah terlihat lebih menarik ketika masih terbungkus kado, dan menjadi tidak menarik sama sekali ketika kadonya sudah dibuka. Terima kasih ????????????????

      2. Bukan Agit mas, kalau agit itu “call me agit” dan sepertinya dia udah jarang posting setelah nikah.

        Boleh nebak hadiahnya tidak?
        Apakah desa hujan itu adalah desa kirigakure? ????

      3. Yang ini Call Me Noona… ????

        Kirigakure itu yang Kades-nya, Kang Zabusa kan? Ini Desa Hujan, letaknya sih Barcelona belok kiri, kadesnya cantik jelita… Mbak Conan. ????

      4. ????
        Ok lah, biarlah yang rahasia tetap jadi rahasia.
        Seperti conan edogawa yang masih belum ketahuan kalau dia itu shinici, padahal udah 10 tahun lebih aku nontonnya

      5. Apakah nanti masih akan menarik? Siapa tau nilainya semakin menurun seiring bertambahnya waktu ????
        Ahahaha bukan Agit atau siapapun itu, demi kenyamanan saya lebih menyukai tidak menyebutkan nama ????

      6. Seperti kata Mersault, “Itu tidak akan mengubah apa pun.” ???? ???? ????

        Baik, Mbak Tanpa Nama, kuhormati keputusanmu… Apa pun yang… *teeeet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Jurnal 2021: Menjalani Mimpi

Sat Jan 2 , 2021
Halo Amigos! Senang bisa berjumpa lagi dengan kamu semunya. Dan meskipun aku tidak mengerti apa bedanya, ijinkanlah aku mengucapkan “Selamat Tahun Baru”, semoga di tahun 2021 hal-hal baik selalu mengiringi langkah-langkahmu dan semoga Tuhan senantiasa memberkahi hal-hal yang ingin kamu lakukan. Well, terima kasih kuucapkan karena sudah menanyakan kabarku. Dan […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: