Akhirnya Bisa Tidur dengan Nyenyak

13

Aku mengawali tahun ini dengan membaca novel Aroma Karsa yang ditulis oleh Dee Lestari. Dulu sekali, bahkan, ketika buku yang kemudian aku khatamkan dalam 6 hari ini belum ditulis utuh, dulu sekali, ketika Dee masih launching satu halaman untuk promosi dan menghadirkan novel ini dalam format digital, yang kelak dikenal sebagai Digital Tribe, aku adalah orang pertama yang sama sekali tidak ter-impress. Kesan pertamaku ketika membaca halaman itu datar saja, sebab aku pernah membaca pembukaan yang sejenis di novel lain, walau pada akhirnya pembukaan yang hadir di novel ini kelak terbukti seluruhnya berbeda sama sekali.

Aku masih belum ter-impress, bahkan sampai ketika akhirnya buku ini menjadi best seller dan ludes dalam sehari dan mencatatkan rekor; cetak ulang sebelum masa preorder selesai, aku masih belum tertarik untuk melirik. Aku tetap saja belum terpikat dengan buku yang dibaca banyak orang, termasuk teman-teman lamaku yang kemudian juga mengomentari dan merekomendasikan aku untuk membacanya “Novel ini recomended banget untuk dibaca sebelum mati,” katanya. Singkat kata aku sama sekali tidak tertarik walaupun buku ini memperoleh berbagai penghargaan nasional sebagai buku paling laris dan novel terbaik.

Namun setahun berikutnya sekitar Maret 2019, ada kabar bahwa buku nonfiksi pertama Dee Lestari—Di Balik Tirai Aroma Karsa—akan terbit, nonfiksi! Seketika aku jadi senewen; rajin buka Instagram dan Twitter, agar tidak ketinggalan info preorder, dan kehabisan. Sebab katanya novelnya saja pada berebutan sampai ada yang tak kebagian. Buku Di Balik Tirai Aroma Karsa, yang kudapatkan beserta tanda tangan Ibu Suri, sesuai dengan harapanku. Isinya sangat bagus dan cemerlang. Segar, penuh ilmu dan informasi yang berharga. Satu kata, Brilliant. Memiliki begitu banyak nilai-nilai yang fantastis di sana-sini. Pengalaman-pengalaman kepenulisan dituliskan begitu detail, pengalaman risetnya dituangkannya dengan sudut pandang yang membujuk. Akhirnya setelah habis membaca Di Balik Tirai, aku mendapatkan kesan yang mendalam dan jatuh cinta dengan buku nonfiksi pertama karya Dee itu. Oleh karena penasaran setelah membaca banyak teknik-teknik yang dipaparkan di buku tersebut, penasaran bagaimana hasil ramuan yang disajikan dengan teknik dan riset yang memukau itu, serta karena didukung oleh Harbolnas, aku memutuskan untuk memasukkan Aroma Karsa kedalam keranjang bersama dengan buku-bukunya LKH.

Aku membaca Aroma Karsa secara paralel dengan Hadji Murat dan One Hundres Years of Solitude untuk mengawali tahun 2020. Jujur saja Aroma Karsa tidak membosankan, dan karena ditulis dalam bahasa asli yang bisa kupahami dengan baik, novel setebal 700 halaman itu selesai dalam seminggu. Tetapi entah, kesan saya masih saja begitu datar. Masih tak ter-impress, seperti dulu. Kesanku, yang dalam pantulan cermin, terlihat begitu menyebalkan itu membuat aku bertanya-tanya, ada apa? Mengapa aku tidak terpukau dengan novel terlaris yang disukai oleh jutaan pembaca di negeri ini? Apa yang salah denganku? Aku tak habis pikir dengan hype yang beredar selama ini, mengapa aku tidak mengalami sensasi yang sama?

Kuputusakan untuk menguji diriku sendiri; mencari suatu pembenaran yang bisa menjelaskan persoalan ini agar aku bisa tidur dengan nyeyak. Kupinjamkan-lah novel itu pada korespondensiku yang tidak begitu in touch dengan media sosial. “Aku punya novel bagus, Nih! Paling bagus yang pernah kubaca,” kataku padanya. Kesan pertama yang tertangkap olehku, dia terpana melihat cover-nya, beberapa detik terpaku pada tulisan dan gambar yang aneh itu. Tangannya meraba-raba sampul magis itu seolah sedang memastikan kalau tulisan aneh itu timbul di sampulnya, he he he. Singkat kata ia mau membaca dan berjanji akan mengomentarinya. Tetapi aku dibuat kaget, buku itu dikembalikan dalam dua hari. Aku terpukau, jangan-jangan dia berhasil membacanya lebih cepat dariku, luar biasa! “Nih aku balikin, itu bukan jenis novel yang mudah kupahami, rasanya itu bukan tipe novel yang kusuka,” katanya. Spontan aku mengolok-olok dia sambil menuding-nuding novel yang lain yang kubawa hari itu, “Aku gak habis pikir, bagaimana mungkin kamu akan memahami Seratus Tahun Kesunyian, kalau novel itu saja kamu gak bisa paham?” Dia merebut buku bersampul suram itu dariku dan langsung membuka halaman pertamanya. Dia menatapku dengan tatapan aneh dari balik kacamatanya, “Ini luar biasa!” Aku mengangguk setuju dan bernafas lega, “Akhirnya malam ini aku akan tidur dengan nyenyak.”

jejakandi

13 thoughts on “Akhirnya Bisa Tidur dengan Nyenyak

  1. Benar ya tiap buku punya jodoh pembacanya masing2. Ada karya beliau yang saya bisa tamat dalam beberapa hari, ada yang beberapa halaman saya ga minat kemudian.

  2. aku selalu punya prinsip “bacalah apa yang kita suka, bukan apa yang orang lain suka”. tapi kalo mau baca kan biasanya beli bukunya dulu ya (soalnya kalo minjem ga enak bgt), trus kalo ternyata ga suka ya tetep ga rugi juga karena – paling tidak – bukunya bisa jadi koleksi ahahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Mawar Paracelsus dan Tujuan Yang Berselaput Misteri

Fri Jan 31 , 2020
Pin it Email https://desahujan.com/akhirnya-bisa-tidur-dengan-nyenyak/ “Setiap langkah yang kau ambil adalah tujuan yang kau cari.” Adalah sebuah kutipan kalimat, dalam cerpen Mawar Paracelsus, yang saya temukan di buku kumpulan cerpen Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina oleh penulis kenamaan Jorge Luis Borges. Kumpulan cerpen yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan sangat baik […]

Kategori

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

%d bloggers like this: